| dc.description.abstract | Sektor ritel memiliki peran dan kontribusi yang besar terhadap
perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2016, sektor ritel memberikan sumbangsih sebesar 15.24% terhadap total Produk
Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan mampu menyerap 22.4 juta tenaga kerja
(BPS 2016). Laporan Global Retail Development Index (GRDI) tahun 2017 yang
dirilis perusahaan konsultan global Andrew Thomas Kearney (AT Kearney),
menempatkan Indonesia di peringkat 8 negara berkembang dengan potensi ritel
paling menarik. Bertolak belakang dengan fakta yang terjadi di lapangan, kinerja
ritel mengalami penurunan dari sisi rata-rata pertumbuhan penjualan berdasarkan
Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia dan ringkasan perdagangan Bursa
Efek Indonesia. Fenomena sepanjang tahun 2017 tentang banyaknya pemain besar
ritel yang menutup gerai offline miliknya seperti Matahari Department Stores (PT
Matahari Department Store Tbk), Debenhams, Lotus (PT Mitra Adiperkasa Tbk)
dan Hero (PT Hero Supermarket Tbk) semakin memperkuat indikasi kesulitan
finansial (financial distress) yang tengah terjadi pada industri ritel Indonesia.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa
annual report perusahaan, publikasi Bank Indonesia dan data dari Bursa Efek
Indonesia. Penelitian dilakukan selama bulan Januari hingga Agustus 2018
dengan menggunakan pendekatan kuantitatif berupa analisis statistika dan
ekonometrika. Jumlah perusahaan yang dipilih sebagai sampel sebanyak 14
perusahaan dengan waktu pengamatan dari tahun 2013 hingga tahun 2017.
Teknik pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini adalah (1) Analisis
kondisi kesehatan keuangan perusahaan dengan menghitung nilai DSCR
perusahaan ritel menggunakan software Microsoft Excel 2013, (2) Analisis
korelasi Pearson untuk mengidentifikasi hubungan kondisi kesehatan keuangan
dengan status perusahaan berdasarkan proses integral financial distress
menggunakan software SPSS 21 dan (3) Analisis regresi data panel untuk menguji
faktor-faktor keuangan dan makroekonomi yang berpengaruh terhadap kondisi
financial distress perusahaan ritel menggunakan software Eviews 9. Hasil
penelitian menunjukan bahwa perusahaan ritel yang bergerak dalam bidang usaha
perangkat telekomunikasi, bahan bangunan, model conveience store dan
minimarket lebih berpotensi mengalami financial distress. Hasil analisis korelasi
pearson menunjukan terdapat korelasi negatif yang lemah antara DSCR sebagai
proxy financial distress dengan deterioration performance dan cashflow problem.
Variabel rasio keuangan seperti current ratio dan return on equity berpengaruh
positif dan signifikan terhadap DSCR, sedangkan debt to equity ratio memiliki
pengaruh negatif dan signifkan terhadap DSCR. Sementara itu, variabel
makroekonomi yang signifikan adalah gross domestic product dan interest rate.
Gross domestic product berpengaruh positif terhadap DSCR sedangkan interest
rate memiliki pengaruh negatif terhadap DSCR. | |