| dc.description.abstract | Talent Management (TM) menjadi perdebatan utama di dunia manajemen
dan bisnis terkait teori dan praktik semenjak Chamber tahun 1998
memperkenalkan “The War for Talent”. Semenjak itu telah banyak publikasi
akademis terkait TM secara konseptual. Akan tetapi, sayangnya hanya sedikit
yang melihat dari sisi aplikasi, sehingga penting untuk memahami hal tersebut
dalam konteks organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelompok
pemangku kepentingan (Profesional SDM, Senior Eksekutif dan Line Manager)
serta peserta TM, praktik, tantangan dan hambatan dalam pelaksanaan TM di PT
Unilever Indonesia Tbk, serta memeriksa peran profesional SDM dalam TM dan
hubungan diantara keduanya.
Metodologi penelitian berupa pendekatan kualitatif dengan metode studi
kasus yaitu PT Unilever Indonesia Tbk sebagai perusahaan multinasional.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode triangulasi yang meliputi
wawancara, observasi, dan review dokumen. Wawancara yang digunakan
menggunakan wawancara semi-terstruktur.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep TM memiliki
perbedaan pada setiap level, baik itu pemangku kepentingan (profesional SDM,
senior eksekutif dan Line Manager) maupun peserta TM. Profesional SDM
memahami dengan baik konsep dan praktik TM, sedangkan senior eksekutif
memahami hubungan TM dengan strategi bisnis, line manager memahami
bagaimana TM dapat terlaksana dengan baik sehingga peserta TM mampu
melaksanakannya dengan baik juga, sedangkan peserta TM memahami kondisi
pelaksanaan di lapangan. Praktik TM di PT Unilever Indonesia Tbk menggunakan
pendekatan inclusive people yang artinya semua karyawan yang berada dalam
organisasi memiliki talenta yang perlu dikembangkan. TM lebih menekankan
pada tugas berbasis kerja nyata (experience atau on the job assignment) sebesar
70%, ditunjang dengan coaching dan mentoring (20%) serta 10% formal
development. Tantangan dan hambatan yang saat ini dihadapi dalam implementasi
TM diklasifikasikan ke dalam dua tingkatan yaitu organisasi dan individu.
Organisasi meliputi masalah sistem program TM (program TM tidak memiliki
target waktu dan kurangnya program yang mampu menarik keinginan karyawan
untuk lebih baik dalam sistem pembelajaran yang telah disediakan), sistem karir
yang tersendat, masalah dengan faktor push dan pull. Sedangkan tingkatan
individu meliputi masalah kompetensi, keterbatasan waktu dan masalah adaptasi.
Peran professional SDM dalam program TM memegang peran penting, dengan
perannya ini masih diperlukan peningkatan kemampuan dan harus lebih
bersentuhan langsung dengan peserta TM. | |