Show simple item record

dc.contributor.advisorSumarwan, Ujang
dc.contributor.advisorTinaprilla, Netti
dc.contributor.authorApupianti, Isma Nurhikmah
dc.date.accessioned2025-08-07T10:28:53Z
dc.date.available2025-08-07T10:28:53Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/168102
dc.description.abstractPerkembangan penjualan produk fashion preloved terjadi baik secara global maupun secara lokal seperti di Indonesia. Media belanja online preloved terbesar dunia, thredUp, memprediksi nilai pasar produk ini akan meningkat sebesar USD 41 miliar di tahun 2022. Jumlah pembelian produk di thredUp mengalami peningkatan sebesar 25.71% di tahun 2017. Selain itu, tren penjualan produk preloved di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 1.4 juta produk di tahun 2017. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai media belanja online baik berbentuk website, e-commerce, maupun media sosial untuk menjual produkproduk preloved khususnya fashion seperti Carousell, Prelo, Reebonz, Banananina, Tinkerlust, dan Bebelian. Hal ini memberi peluang kepada pemasar untuk menjangkau konsumen lebih luas serta mempermudah konsumen untuk melakukan interaksi dan transaksi produk fashion prleoved secara online. Akan tetapi, minat konsumen masih harus dipantau. Oleh karena itu, pemasar masih membutuhkan informasi untuk mempersepsikan minat beli produk fashion preloved online diantaranya melalui gaya hidup berbelanja dan kelompok acuan. Ada dua variabel laten eksogen yaitu gaya hidup berbelanja (shopping enjoyment, brand/fashion consciousness, price consciousness, shopping confidence, in-home shopping tendency, quality dan environmental consciousness) dan kelompok acuan serta satu variabel laten endogen yaitu minat beli. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis minat beli konsumen, pengaruh kelompok acuan terhadap gaya hidup berbelanja serta pengaruh kelompok acuan dan gaya hidup berbelanja terhadap minat beli, dan merumuskan rekomendasi untuk membangkitkan minat beli produk fashion preloved online. Desain penelitian yaitu cross sectional design dengan teknik pengambilan sampel yaitu convenience sampling. Data dikumpulkan melalui online open-close ended questionnaire dan wawancara. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah konsumen berusia 18-45 tahun, mengetahui produk preloved, dan membeli produk fashion preloved online minimal sekali dalam satu tahun terakhir. Data diolah menggunakan SPSS 24, Microsoft Excel 2010, dan SmartPLS 3.0 serta dianalisis melalui pendekatan Structural Equation Model (SEM) dan deskriptif. Hasil karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah perempuan (53%), berusia 18-24 tahun (69%), berdomisili di Jabodetabek (52.7%), berpendidikan Sarjana (49%), dan rata-rata pendapatan per bulan Rp <2jt (38.9%). Jenis produk fashion preloved yang sering dibeli adalah pakaian bermerek, frekuensi pembelian sekali dalam satu bulan, pengeluaran rata-rata Rp <500rb. Alasan membeli yaitu kondisi produk yang masih baik dan harga terjangkau. Pembelian produk secara online dilakukan karena dapat menghemat waktu dan tenaga serta fleksibel. Responden yang memiliki minat beli tinggi ada 42% dengan mempertimbangkan kualitas, keaslian, dan daya beli. Kelompok acuan memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap gaya hidup berbelanja, tetapi kelompok acuan tidak berpengaruh terhadap minat beli. Pembelian dan pemakaian produk fashion preloved tidak memberikan dampak yang kuat sehingga tidak membutuhkan sumber referensi dalam membelinya. Informasi dari kelompok acuan dibutuhkan untuk memperkuat keyakinan konsumen dalam membeli produk fashion preloved tetapi tidak memengaruhinya untuk membeli produk fashion preloved yang direkomendasikan. Gaya hidup berbelanja memiliki pengaruh yang signifikan positif terhadap minat beli produk fashion preloved online. Hal ini menunjukkan konsumen memiliki orientasinya masing-masing dalam berbelanja produk fashion preloved online. Kontribusi dimensi yang paling tinggi adalah shopping confidence. Hal ini disebabkan konsumen membutuhkan keyakinan bahwa produk fashion preloved yang dibeli secara online adalah berkualitas, harga terjangkau, serta memberi kemudahan saat proses berbelanja. Implikasi manajerial bagi perusahaan dikaitkan dengan product discovery, product presentation dan promosi personal selling. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah detail informasi produk baik secara deskripsi maupun gambar dan menampilkan layout toko yang menarik. Pemasar juga perlu memperhatikan kemampuan sorting dan searching suatu platform online. Hal ini untuk meningkatkan keyakinan konsumen dan memberikan pengalaman yang menyenangkan saat berbelanja produk fashion preloved secara online. Pemasar juga sebaiknya mengombinasikan penjualan secara online dan offline agar konsumen merasakan interaksi langsung dengan produk yang dijual. Selain itu, pemasar juga tetap perlu memperhatikan review dari pembeli serta mempertimbangkan diri sebagai media belanja online yang mendukung isu lingkungan. Hal ini disebabkan tipe konsumen sekarang yang termasuk dalam loping, connected, dan environmental friendly consumers.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Pemasaranid
dc.titlePengaruh Gaya Hidup Berbelanja dan Kelompok Acuan Terhadap Minat Beli Produk Fashion Preloved Onlineid
dc.subject.keywordFashion Preloved Onlineid
dc.subject.keywordGaya Hidup Berbelanjaid
dc.subject.keywordKelompok Acuanid
dc.subject.keywordMinat Beliid
dc.subject.keywordSemid
dc.subject.keywordSpssid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record