| dc.description.abstract | Sektor keuangan merupakan sektor yang memiliki kapitalisasi pasar
tertinggi dan frekuensi perdagangan harian kedua tertinggi. Sebagai salah satu
subsektor dalam sektor keuangan, pada tahun 2016 subsektor perbankan memiliki
kapitalisasi 90.64% dari sektor keuangan. Hal ini menunjukkan investor memiliki
minat yang tinggi terhadap saham subsektor perbankan. Penerapan tata kelola
perusahaan yang baik merupakan hal krusial di industri perbankan karena fungsi
bank sebagai lembaga intermediasi menjadikan bank memiliki tingkat risiko yang
tinggi. Tata kelola perusahaan yang buruk merupakan salah satu penyebab krisis
finansial di wilayah Asia, termasuk Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tata
kelola perusahaan yang baik menjadi hal penting di mata investor. Likuiditas
merupakan hal penting bagi investor dan perusahaan. Memiliki saham yang tidak
likuid mengakibatkan investor sulit untuk menjual sahamnya secara cepat,
sedangkan bagi perusahaan memiliki saham yang tidak likuid akan
mengakibatkan saham perusahaan tersebut kurang menarik di mata investor.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tata kelola perusahaan
terhadap likuiditas saham di perusahaan subsektor perbankan.
Penelitian ini dilakukan pada 26 bank yang telah terdaftar di BEI,
berdasarkan hasil purposive sampling. Penelitian dilakukan menggunakan data
sekunder periode 2012-2016. Kualitas tata kelola diukur menggunakan 21
indikator yang disusun dari peraturan OJK, sedangkan likuiditas saham diukur
menggunakan proksi Amihud illiquidity estimate dan stock turnover ratio.
Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini merupakan faktor-faktor
lain yang mempengaruhi likuiditas saham selain faktor tata kelola, yaitu ukuran
perusahaan, return volatility, leverage, dan pertumbuhan perusahaan. Variabel
kontrol menjadi penting untuk mengurangi bias hasil penelitian.
Teknik pengolahan dan analisis data pada penelitian ini menggunakan
analisis regresi data panel dengan software Eviews-9.0. Berdasarkan hasil
penelitian diperoleh kesimpulan perusahaan subsektor perbankan di Indonesia
telah menerapkan praktik corporate governance yang baik sesuai dengan yang
ditetapkan oleh OJK. Hal ini menunjukkan hubungan dewan komisaris, direksi,
dan pemegang saham telah berjalan dengan baik. Komposisi dewan komisaris
telah memenuhi aturan yaitu 50% merupakan komisaris atau pihak independen
dan memiliki kompetensi sesuai dengan bidangnya sehingga fungsi pengawasan
terhadap operasional perbankan berjalan secara optimal. Tata kelola perusahaan
yang baik akan meningkatkan kepercayaan para investor sehingga saham
perusahaan akan likuid. Terlihat dari hasil pengujian menunjukkan bahwa
corporate governance berpengaruh negatif signifikan terhadap likuiditas Amihud
iliiquidity estimates dan positif signifikan terhadap likuiditas stock turnover. Dari
ketiga komponen corporate governance, komponen dewan komisaris memiliki
pengaruh yang paling signifikan terhadap likuiditas saham. | |