| dc.description.abstract | Krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 di Amerika Serikat
memicu timbulnya gejolak di pasar keuangan yang merambat ke seluruh dunia,
tidak terkecuali Indonesia. Pemerintah terpaksa menghentikan segala aktivitas
perdagangan (blackout) untuk sementara waktu yaitu pada tanggal 8 – 10 Oktober
2008 untuk meredam gejolak yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan pengelompokan terhadap saham – saham yang memiliki kemiripan
pola berdasarkan pergerakan harga penutupan saham untuk periode sebelum dan
setelah krisis 2008 yang kemudian dapat dijadikan sebagai rujukan oleh investor
dalam pengambilan keputusan investasi dalam rangka meminimalisir resiko yang
timbul dari adanya fluktuasi. Penelitian ini menggunakan metode Time Series
Clustering yaitu pengelompokan berdasarkan pola yang terbentuk dari data deret
waktu.
Penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan harga penutupan saham,
terbentuk tiga cluster untuk periode sebelum maupun setelah krisis 2008.
Pengujian dendogram kedua periode menghasilkan nilai entanglement sebesar 0.4,
mendekati nol.Hal tersebut menunjukkan bahwa cluster yang terbentuk pada
periode sebelum krisis memiliki alignment yang baik dengan cluster yang
terbentuk setelah krisis 2008. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa krisis
global 2008 memberikan pengaruh yang hampir sama untuk saham – saham yang
berada di cluster yang sama. Investor dapat menggunakan kapitalisasi pasar dan
tingkat leverage dari perusahaan sebagai langkah seleksi awal (initial selection)
saham.
Identifikasi saham rujukan menunjukkan bahwa secara umum anggota
sub-cluster 1 merujuk kepada tiga saham yaitu INDF, BRNA, dan GGRM.
Sedangkan untuk sub-cluster 2 secara umum merujuk kepada saham MYRX,
HMSP, dan SCMA. | |