| dc.description.abstract | Perubahan lanskap industri penyiaran dengan beralihnya siaran analog ke
digital serta berubahnya pola menonton televisi menjadi multiplatform dan
multiscreen, membuat stasiun-stasiun televisi lokal perlu mengubah strategi bisnis
tradisionalnya. Stasiun televisi lokal tidak hanya berhadapan dengan stasiun
televisi nasional yang telah mapan, namun juga menghadapi persaingan dari
berbagai platform lain yang bukan hanya dari dalam negeri, melainkan juga
mancanegara. Untuk itu, Jawa Pos Multimedia yang mengelola jaringan stasiun
televisi lokal di Indonesia, perlu mengembangkan model bisnisnya agar mampu
bersaing di era penyiaran digital.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi model bisnis JPM saat ini
dan merumuskan desain pengembangan model bisnisnya untuk meningkatkan
daya saing di era penyiaran digital. Penelitian menggunakan pendekatan Kanvas
Model Bisnis. Analisis kepentingan-kinerja, matriks EFE, IFE, SWOT dan QSPM
dipakai sebagai alat analisis formulasi strateginya.
Hasil analisis kepentingan dan kinerja memperlihatkan empat elemen
kanvas model bisnis JPM yang menjadi prioritas untuk ditingkatkan, yaitu
Segmen Pelanggan, Saluran, Hubungan Pelanggan dan Arus Pendapatan. Hasil
analisis matriks IFE dan EFE menunjukkan, agar berhasil di industri, perusahaan
harus bisa bersaing dalam hal kualitas konten, meningkatkan kepemirsaan serta
mengoptimalkan penggunaan media lokal untuk sosialisasi. Alternatif-alternatif
strategis yang dihasilkan dari matriks SWOT dan menjadi strategi terpilih melalui
QSPM adalah melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi konten hiperlokal.
JPM melayani dua segmen pelanggan yaitu penonton televisi dan pemasang
iklan. Kepada penonton JPM menawarkan konten hiperlokal, sementara kepada
pemasang iklan menawarkan jaringan televisi lokal terbesar di Indonesia.
Hubungan dengan pemasang iklan adalah melalui bantuan personal untuk
memasang iklan televisi, melakukan blocking program atau menjadi sponsor
kegiatan off-air, yang merupakan arus pendapatan bagi JPM. Saluran yang
dimanfaatkan JPM adalah stasiun televisi lokal free to air, TV satelit, TV kabel
serta situs web dan aplikasi JPM Stream. Aktivitas kuncinya berfokus pada
kegiatan marketing, produksi, akuisisi program dan pengelolaan jam tayang.
SDM, spot iklan dan jam tayang menjadi sumber daya utama perusahaan.
Kemitraan utama dijalin dengan stasiun-stasiun televisi lokal free to air dan
produsen konten. Struktur biaya JPM terdiri dari biaya operasional, marketing dan
promosi, produksi, riset dan pengembangan, akuisisi jam tayang serta akuisisi
program.
Untuk meningkatkan daya saing di era penyiaran digital, maka JPM perlu
mengembangkan model bisnisnya. Proposisi nilai bagi penonton televisi dapat
dipertajam dengan personalisasi konten hiperlokal. Aktivitas kunci dilengkapi
dengan manajemen aset serta riset dan pengembangan. Konten hiperlokal menjadi
tambahan pada sumber daya utama, sementara kemitraan utama perlu juga dijalin
dengan media, provider OTT (over the top), media sosial, komunitas dan vlogger.
Kemitraan juga berdampak pada saluran yang bertambah dengan OTT dan media
sosial. Segmen pelanggan diperluas dengan masuknya pengguna Internet dan
stasiun televisi. Selain jalur media sosial, perlu ada saluran khusus untuk
membina hubungan pelanggan. Monetisasi media sosial, iklan OTT dan royalti
konten, merupakan potensi pendapatan tambahan dari pengembangan model
bisnis JPM.
Agar strategi pengembangan model bisnis ini efektif, JPM perlu
mengalokasikan sumber dayanya untuk memperkuat riset dan pengembangan,
mengadakan manajemen aset serta meningkatkan pengelolaan strategi media
sosialnya. Strategi pengembangan bisnis ini perlu dilakukan secara integral
mencakup seluruh stasiun lokal jaringan, dengan menyesuaikan karakteristik,
kapasitas dan potensi masing-masing stasiun televisinya di tiap wilayah. | |