Show simple item record

dc.contributor.advisorHarianto
dc.contributor.advisorMaulana, Agus
dc.contributor.authorJudianto, Chusnul Tri
dc.date.accessioned2025-08-07T10:20:34Z
dc.date.available2025-08-07T10:20:34Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167997
dc.description.abstractKemandirian nasional dalam bidang teknologi satelit sangat dibutuhkan salah satunya adalah untuk menunjang kedaulatan wilayah maritim dan pertanian nasional yang merupakan potensi ketahanan pangan nasional, kepastian dalam menjaga keamanan wilayah dan keamanan data sumber daya alam Negara Indonesia. Indonesia memiliki luas wilayah darat 1,922,570 km2 dan laut seluas 3,257,483 km2 dengan jumlah pulau 13,466 merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia. Teknologi satelit dapat melakukan pengawasan, monitoring dan observasi muka bumi secara berkesinambungan. Dengan perkembangan teknologi Mechanical and Electronic Miniaturization System (MEMS) dan Component of The Self (COTS) maka kemandirian penguasaan teknologi satelit kini sangat mungkin dilakukan oleh Negara-negara berkembang yang memiliki keterbatasan anggaran, SDM dan fasilitas litbang. Dengan kemampuan menerapkan teknologi tinggi (sistem kamera, sistem komunikasi, sistem komputer dan stasiun bumi kendali), berbiaya rendah dan peluncuran berbasis piggyback, maka pengembangan satelit mikro merupakan pilihan dalam penguasaan teknologi satelit. Saat ini teknologi satelit mikro telah dikuasai oleh Indonesia yang dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Hingga 2016 telah meluncurkan tiga satelit mikro untuk ekperimen surveilance, navigasi maritime, komunikasi amatir dan penginderaan jauh. Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenapa dikembangkan teknologi satelit mikro, permasalahan yang muncul dalam pengembangannya dan alternatif strategi yang tepat dalam pengembangan industri satelit mikro. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM) Partial Least Square (PLS) dengan menganalisis variabel Teknologi (HT), pembiayaan (HC), resiko (HR), daya Saing (DS), inovasi (IN), tenaga ahli (TA) dan variabel eksternal regulasi pemerintah (RP) serta pengembangan bisnis (PB). Untuk penentuan strategi pengembangan industri satelit mikro memakai metode analisis strategi SWOT dan pemilihan alternative strategi menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa LAPAN telah memiliki kemampuan teknologi satelit mikro, sudah adanya dukungan regulasi pemerintah, kematangan litbang satelit eksperimental sudah memadai, dibutuhkan peningkatan jumlah SDM dan fasilitas litbang. Selanjutnya kesiapan memasuki industri satelit mikro dengan strategi melakukan standardisasi fasilitas litbang dan sertifikasi individual SDM, membangun mitra kerja dengan pola kerja sama pemerintah swasta (KPS) dan memanfaatkan kerja sama luar negeri.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleStrategi Pengembangan Industri Satelit Mikro Nasionalid
dc.subject.keywordComponent Of The Self (Cots)id
dc.subject.keywordMemsid
dc.subject.keywordSatelit Mikroid
dc.subject.keywordQspmid
dc.subject.keywordSemid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record