| dc.description.abstract | Kemandirian nasional dalam bidang teknologi satelit sangat dibutuhkan salah satunya
adalah untuk menunjang kedaulatan wilayah maritim dan pertanian nasional yang merupakan
potensi ketahanan pangan nasional, kepastian dalam menjaga keamanan wilayah dan keamanan
data sumber daya alam Negara Indonesia. Indonesia memiliki luas wilayah darat 1,922,570 km2
dan laut seluas 3,257,483 km2 dengan jumlah pulau 13,466 merupakan Negara kepulauan
terbesar di dunia. Teknologi satelit dapat melakukan pengawasan, monitoring dan observasi
muka bumi secara berkesinambungan. Dengan perkembangan teknologi Mechanical and
Electronic Miniaturization System (MEMS) dan Component of The Self (COTS) maka
kemandirian penguasaan teknologi satelit kini sangat mungkin dilakukan oleh Negara-negara
berkembang yang memiliki keterbatasan anggaran, SDM dan fasilitas litbang. Dengan
kemampuan menerapkan teknologi tinggi (sistem kamera, sistem komunikasi, sistem komputer
dan stasiun bumi kendali), berbiaya rendah dan peluncuran berbasis piggyback, maka
pengembangan satelit mikro merupakan pilihan dalam penguasaan teknologi satelit. Saat ini
teknologi satelit mikro telah dikuasai oleh Indonesia yang dilakukan oleh Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (LAPAN). Hingga 2016 telah meluncurkan tiga satelit mikro untuk
ekperimen surveilance, navigasi maritime, komunikasi amatir dan penginderaan jauh.
Tujuan pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenapa dikembangkan
teknologi satelit mikro, permasalahan yang muncul dalam pengembangannya dan alternatif
strategi yang tepat dalam pengembangan industri satelit mikro. Analisis data yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM) Partial Least
Square (PLS) dengan menganalisis variabel Teknologi (HT), pembiayaan (HC), resiko (HR),
daya Saing (DS), inovasi (IN), tenaga ahli (TA) dan variabel eksternal regulasi pemerintah (RP)
serta pengembangan bisnis (PB). Untuk penentuan strategi pengembangan industri satelit mikro
memakai metode analisis strategi SWOT dan pemilihan alternative strategi menggunakan
Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa LAPAN telah memiliki kemampuan teknologi
satelit mikro, sudah adanya dukungan regulasi pemerintah, kematangan litbang satelit
eksperimental sudah memadai, dibutuhkan peningkatan jumlah SDM dan fasilitas litbang.
Selanjutnya kesiapan memasuki industri satelit mikro dengan strategi melakukan standardisasi
fasilitas litbang dan sertifikasi individual SDM, membangun mitra kerja dengan pola kerja sama
pemerintah swasta (KPS) dan memanfaatkan kerja sama luar negeri. | |