| dc.description.abstract | Pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian suatu
negara, dimana nilai indeks bursa saham di pasar modal merupakan indikator
utama dari ekonomi dan keuangan suatu negara. Saham merupakan bukti
kepemilikan seseorang atau pemegang saham atas aset perusahaan. Saham adalah
salah satu sekuritas diantara sekuritas-sekuritas lainnya yang mempunyai tingkat
risiko yang tinggi. Risiko tinggi tersebut dikarenakan adanya ketidakpastian return
yang diterima investor di masa yang akan datang. Semakin besar return yang
diterima, maka semakin besar risiko yang akan diperoleh. Return dan risiko yang
tinggi pada saham saling berhubungan dengan kondisi faktor ekonomi makro,
industri dan karakteristik perusahaan.
Industri telekomunikasi merupakan industri yang sangat berpengaruh
terhadap perkembangan ekonomi industri-industri lain pada berbagai sektor.
Industri telekomunikasi merupakan penunjang bagi industri lain dalam hal sarana
komunikasi. Perkembangan industri telekomunikasi ini sangat menarik minat para
investor untuk menanamkan investasinya ke dalam industri telekomunikasi. Para
investor menilai bahwa industri telekomunikasi merupakan salah satu sektor
investasi yang mampu memberikan return yang maksimal terhadap investasinya
di masa depan. Dampak multiplier industri telekomunikasi di Indonesia sangat
luar biasa, karena menjadi infrastruktur penggerak seluruh sektor mulai industri
telekomunikasi itu sendiri, juga mendorong sektor perdagangan, manufaktur,
sektor usaha kecil menengah sebagai penggerak ekonomi rakyat. Seiring
perkembangan teknologi, layanan komunikasi telah menjadi salah satu kebutuhan
pokok masyarakat. Mengutip hasil riset Sharing Vision, potensi pasar
telekomunikasi kian meningkat tercermin dari hasil survei bahwa belanja
komunikasi masyarakat saat ini berkisar 10-15 persen dari penghasilan per bulan.
Jika merujuk data Badan Pusat Statistik pendapatan per kapita pada 2007 sebesar
Rp 18.5 juta per tahun. Dengan begitu dapat dihitung bahwa belanja komunikasi
masyarakat meliputi telepon tetap (kabel), telepon selular, maupun internet bisa
mencapai sekitar Rp 2,7 juta per penduduk/tahun. Demikian halnya total belanja
komunikasi seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 230 juta orang,
diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp 500 triliun setiap tahun.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang
telah dirumuskan, yaitu (1) Mengetahui pengaruh pergerakan variabel
makroekonomi (suku bunga SBI, nilai tukar valas Dollar Amerika, inflasi,
pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP)) terhadap harga saham pada
industri telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), (2)
Menganalisa sensitivitas variabel makroekonomi terhadap harga saham pada
industri telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), (3)
Mengetahui variabel-variabel manakah yang paling dominan berpengaruh
terhadap harga saham pada industri telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia (BEI). | |