Show simple item record

dc.contributor.advisorHarianto
dc.contributor.advisorSahara
dc.contributor.authorArdiansya, Muhammad
dc.date.accessioned2025-08-07T10:17:41Z
dc.date.available2025-08-07T10:17:41Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167958
dc.description.abstractKaret alam merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia. Bersama dengan Thailand dan Malaysia, Indonesia merupakan salah satu produsen utama karet alam dunia. Salah satu olahan berbasis karet adalah produk ban yang mampu menyerap 70% sampai 80% dari total produksi karet alam dunia. Indonesia sudah mampu memproduksi ban di dalam negeri. Produk ban Indonesia sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor menjadikan industri ban sebagai penyumbang devisa terbesar di sektor berbasis karet. Negara utama tujuan ekspor produk ban Indonesia adalah Amerika Serikat, Jepang, Filipina, Malaysia, Australia, Eropa dan Timur Tengah. Ekspor ban Indonesia masih didominasi ke Amerika Serikat, diikuti oleh Jepang dan Filipina. Di pasar ekspor ban dunia, Indonesia hanya berkontribusi sebesar 2,28%. Pertumbuhan pangsa pasar ekspor ban Indonesia di dunia relatif stagnan, dibandingkan Tiongkok dan Thailand. Perkembangan ekspor ban dari Tiongkok cukup pesat dan mampu menguasai pangsa pasar dunia. Pangsa ekspor Thailand juga mengalami peningkatan signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan daya saing industri ban Indonesia dibanding negara pesaing, menganalisis perkembangan posisi daya saing Indonesia di negara tujuan ekspor, dan mengetahui faktor yang mempengaruhi daya saing, serta menentukan prioritas strategi dalam peningkatan dan pengembangan daya saing industri ban. Metode analisis yang digunakan adalah Normalized Revealed Comparative Advantage (NRCA), Export Product Dynamics (EPD), regresi data panel, dan Analytic Hierarrchy Process (AHP). Dibandingkan dengan negara eksportir utama ban, daya saing ban Indonesia di dunia masih positif. Rata-rata indeks NRCA Indonesia sebesar 0,42 lebih baik dibandingkan dengan Amerika Serikat sebesar -0,82. Jerman merupakan negara dengan daya saing ban yang kuat dengan indeks 5,96 diikuti oleh Jepang (5,54), Tiongkok (2,34), dan Prancis (0,82). Di negara tujuan ekspor daya saing ban Indonesia secara umum masih kuat, namun disebagian besar negara menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir terutama di Jepang dan negara Timur Tengah. Hasil EPD menunjukkan bahwa ban Indonesia yang termasuk di kuadran rising star terjadi di 7 negara, falling star di 2 negara, retreat di 2 negara, dan lost opportunity di 4 negara. Analisis regresi data panel mengindikasikan bahwa harga minyak mentah, suku bunga, volume ekspor ban, dan daya saing tahun sebelumnya secara signifikan mempengaruhi daya saing industri ban (pada taraf < 5%). Sedangkan kerjasama FTA memiliki tingkat signifikansi <10%. Dalam meningkatkan dan mengembangkan daya saing industri ban, strategi yang menjadi prioritas adalah meningkatkan promosi produk, meningkatkan kerjasama internasional, dan memperkuat struktur industri bahan baku di dalam negeri. Tujuan utama yang ingin dicapai adalah meningkatkan keuntungan perusahaan, meningkatkan ekspor, dan meningkatkan produksi ban. Sedangkan aktor yang paling berperan adalah pemerintah, pelaku industri ban, dan pemasok bahan baku dan penolong
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleStrategi Peningkatan Daya Saing Industri Ban Indonesia Di Pasar Internasionalid
dc.subject.keywordAnalytical Hierarchy Process (Ahp)id
dc.subject.keywordBanid
dc.subject.keywordDaya Saingid
dc.subject.keywordEksporid
dc.subject.keywordStrategiid
dc.subject.keywordModel Porter'S Diamondid
dc.subject.keywordRevealed Comparative Advantage (Rca)id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record