| dc.description.abstract | Digital disruption telah menyebabkan bisnis media cetak di beberapa perusahaan di Indonesia menutup usahanya dan beralih mengembangkan bisnis online. Kondisi ini juga telah mendorong koran The Jakarta Post untuk mengembangkan portal berita thejakartapost.com (The Jakarta Post Digital) dengan mencoba memperbaiki model bisnis yang diterapkan saat ini.
Tujuan penelitian untuk menganalisis model hisnis yang digunakan The Jakarta Post Digital dengan menggunakan pendekatan Business Model Canvas (BMC), dan membangun Business Model Canvas yang baru. Analisis menggunakan metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Pengumpulan data dilakukan dari April 2017 hingga Maret 2018 di PT Niskala Media Tenggara, kantor The Jakarta Post Digital. Data primer diperoleh langsung dari responden melalui Focus Group Discussion (FGD), kuesioner dan wawancara mendalam (in-depth interview) pada beberapa key informant. Terdapat 7 responden ahli (experts) dari internal perusahaan, yaitu, Chief Executive Officer, Direktur, Chief Technology Officer, General Manager Finance, Managing Editor dari online dan koran The Jakarta Post, dan Senior Editor The Jakarta Post. Data sekunder berupa data pembaca dari Google Analytic The Jakarta Post Digital dan target pencapaian selama 5 tahun ke depan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kekuatan perseroan ada pada sumber daya kunci (Key Resources) dan kelemahannya ada pada kegiatan produksi (Key Activities) dan produk atau jasa yang ditawarkan (Value Proposition). Berdasarkan hasil idenfikasi tersebut, maka diperlukan perbaikan pada kesembilan elemen yang terdapat pada model bisnis kanvas terutama pada 3 elemen tersebut. Dengan demikian, penelitian menyimpulkan perlu adanya perbaikan pada model bisnis The Jakarta Post Digital pada blok Value Proposition, yaitu dengan meningkatkan produk Multimedia. Pada blok Key Activities juga mengalami perubahan dengan penambahan fokus pada pengembangan multimedia. Selain itu, Key Resources juga diperbaiki pembangunan studio beserta peralatan penunjang produksi multimedia, termasuk SDM. Dengan demikian, proses produksi menjadi lebih efisien yang berimplikasi pada perubahan Revenue Stream. | |