| dc.description.abstract | Sasaran keselamatan pasien merupakan persyaratan untuk diterapkan di
semua rumah sakit yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit.
Peningkatan keselamatan pasien melalui manajemen telah menjadi masalah utama
sejak tahun 2000 dimana intervensi manajemen risiko dan keselamatan
berhubungan dengan berbagai aspek organisasi. Budaya organisasi yang efektif,
penting untuk keberhasilan inisiatif baru dalam keselamatan pasien. Selain upaya
dalam pemenuhan kebutuhan SDM, peningkatan kualitas SDM melalui
peningkatan budaya keselamatan pasien perlu dilakukan. Untuk peningkatan
budaya maka diperlukan pemahaman bagaimana budaya keselamatan pasien yang
baik dan bagaimana mengukur dan memonitornya.
RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) sebagai pusat
rujukan nasional menetapkan pencapaian sasaran strategis yang bertujuan untuk
mewujudkan kepuasan stakeholder kunci (pasien) berupa pelayanan yang efektif,
tepat, aman, patient centered, one stop service. Namun dengan semakin
meningkatnya kebutuhan pelayanan dan dengan jumlah pasien yang meningkat
berdampak pada waktu tunggu perawatan dan tindakan yang semakin lama.
Program mitigasi realisasi master plan pembangunan gedung dan fasilitas baru
ditetapkan untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Dalam realisasi
master plan tersebut, diperkirakan akan dibutuhkan penambahan jumlah sumber
daya manusia untuk memenuhi kebutuhan pelayanan dengan jumlah tenaga
keperawatan yang tertinggi.
Penelitian bertujuan antara lain untuk menganalisis budaya keselamatan
pasien pada perawat dan antar kelompok unit kerja keperawatan, menganalisis
pengaruh faktor kepemimpinan, pendidikan dan saluran komunikasi terhadap
budaya keselamatan pasien serta menganalisis pengaruh budaya keselamatan
pasien terhadap dampak (persepsi keselamatan pasien, frekuensi pelaporan dan
jumlah pelaporan).
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode survei yang
dilakukan pada kelompok profesi perawat di RSJPDHK. Data kualitatif diperoleh
melalui wawancara narasumber dan diskusi kelompok terarah (focus group
discussion). Ukuran pengambilan sampel mengacu pada metode Slovin dengan
tingkat toleransi kesalahan sebesar 10% sehingga diperoleh jumlah sampel (n)
minimal sebanyak 88 orang. Pemilihan sampel (n) sebanyak 100 perawat
ditentukan berdasarkan metode Quota Random Sampling. Pengolahan data
dilakukan dengan uji ANOVA dan SEM Partial Least Square (PLS).
Budaya keselamatan pasien antar kelompok unit kerja keperawatan
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Persepsi
keselamatan pasien berdasarkan hasil penelitian menunjukkan rerata skor sebesar
3.63 atau 73% (kategori tinggi). Frekuensi pelaporan insiden memiliki rerata skor
sebesar 3.06 atau 61% (kategori sedang). Data jumlah pelaporan insiden yang telah
diisi dan diajukan berdasarkan penelitian menunjukkan jumlah pelaporan yang
dilakukan oleh respoden penelitian adalah 43 responden atau sebanyak 43%. Hal ini menunjukkan bahwa budaya melapor yang cukup tinggi pada perawat dimana
pelaporan insiden sudah dianggap sebagai hal yang penting sehingga dapat menjadi
awal proses pembelajaran untuk mencegah atau menghindari terjadinya insiden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki nilai faktor
muatan sebesar 0.552 dan nilai T-hitung sebesar 4.778 (T-hitung 1.96) yang
berarti terdapat pengaruh yang signifikan terhadap budaya keselamatan pasien.
Pendidikan / pelatihan menunjukkan nilai faktor muatan sebesar 0.285 dan nilai Thitung sebesar 2.153 (T-hitung 1.96) yang berarti terdapat pengaruh yang
signifikan terhadap budaya keselamatan pasien. Sedangkan saluran komunikasi
menunjukkan nilai faktor muatan sebesar 0.090 dan nilai T-hitung sebesar 0.741
(T-hitung 1.96) yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap
budaya keselamatan. Budaya keselamatan pasien menunjukkan nilai faktor muatan
sebesar 0.426 dan nilai T-hitung sebesar 4.393 (T-hitung 1.96) yang berpengaruh
signifikan terhadap dampak (persepsi keselamatan pasien, frekuensi pelaporan dan
jumlah pelaporan).
Faktor kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap budaya keselamatan
pasien dan gaya kepemimpinan transformasional merupakan yang paling dominan
dengan nilai t-hitung tertinggi diantara gaya kepemimpinan lainnya. Untuk itu perlu
dikembangkan kebutuhan pelatihan kepemimpinan yang mengarah kepada
pembentukan gaya kepemimpinan transformasional. Pelatihan menunjukkan
pengaruh yang signifikan terhadap budaya keselamatan pasien. Untuk itu penting
bagi RSJPDHK untuk terus meningkatkan kualitas pelatihan khususnya terkait
jabatan, kompetensi dan kerjasama tim untuk mendukung pelayanan. Selain itu,
pelatihan merupakan jenis saluran komunikasi pilihan pertama pada perawat di
RSJPDHK sebagai perantara informasi terkait keselamatan pasien yang paling
efektif. Intranet sebagai salah satu jenis saluran komunikasi yang tersedia di
RSJPHK, meskipun saat ini belum menjadi pilihan responden terkait keselamatan
pasien, namun harus tetap dapat berperan sebagai media informasi untuk dapat
meningkatkan keselamatan pasien. Untuk itu perlu dievaluasi dan ditingkatkan
kualitasnya serta lebih disosialisasikan kepada staf agar juga dapat menjadi saluran
komunikasi pilihan bagi staf.
Budaya keselamatan pasien berdasarkan analisis nilai rerata dan Loading
Factor menunjukkan bahwa “harapan supervisor/manager dan tindakan promosi
keselamatan pasien’ dan “penempatan pegawai” pada perawat merupakan dimensi
budaya yang perlu mendapatkan prioritas untuk dilakukan perbaikan. Sedangkan
“dukungan manajemen pusat terhadap keselamatan pasien”, “kerjasama tim di unit
kerja” dan “organisasi pembelajar dan perbaikan berkelanjutan” merupakan
dimensi yang paling baik dan perlu terus dipertahankan.
Seiring dengan adanya perkembangan baru penelitian terkait survei budaya
keselamatan pasien, saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah
perlu dilakukannya penelitian terkait survei budaya keselamatan pasien yang tidak
hanya mengukur berdasarkan persepsi staf terhadap budaya keselamatan pasien
namun juga dihubungkan dengan laporan konsumen terkait skor keselamatan
terhadap rumah sakit di RSJPDHK. | |