| dc.description.abstract | Perkembangan industri taksi dalam dekade ini secara umum mengalami
perkembangan yang cukup signifikan sejak hadirnya taksi berbasis aplikasi/online.
Hal ini dikarenakan terjadi perubahan lingkungan teknologi dan informasi yang
membawa dampak perubahan pada gaya dan cara hidup di masyarakat. Pada tahun
2014 sampai dengan 2015, tercatat ada tiga perusahaan taksi online yang
beroperasi ke Indonesia. Mereka adalah PT Uber Indonesia Technology (Uber car),
PT GrabBike Indonesia (Grab car) dan PT Gojek Indonesia (Go Car). Masuknya
taksi online ini membawa dampak operasional yang cukup drastis terhadap lima
besar perusahaan taksi konvensional yang sudah ada yaitu PT Blue Bird Tbk, PT
Express Transindo Utama Tbk, PT Kosti Jaya, PT Gamya, dan PT Koperasi Taksi
Indonesia.
Dengan tingkat persaingan yang tinggi, perusahaan-perusahaan taksi online
menawarkan harga/tarif murah, layanan yang efektif dan efisien, serta kemudahan
dalam akses pemesanan taksi. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan taksi
konvensional menghadapi tiga permasalahan yang vital, yaitu kinerja keuangan
yang turun, produktifitas pengemudi dan operasional taksi yang menurun akibat
kalah saing dalam teknologi, kompetisi tarif dan menurunnya market share.
Ketiga permasalahan tersebut dihadapi serius oleh perusahaan-perusahaan
besar taksi konvensional, bahkan diantaranya terdapat perusahaan taksi yang
pailit/bangkrut. Salah satu perusahaan besar taksi konvensional yang mengalami
penurunan drastis dari dampak tersebut adalah PT Express Transindo Utama Tbk
(yang selanjutnya disebut PT ETU). Berdasarkan laporan keuangan PT ETU tahun
2017, tercatat dari sisi revenue pada tahun 2017 pada kuartal 3 mengalami
penurunan sebesar 62.54% dari tahun 2016. Sisi pemasukan/setoran pengemudi
taksi pun menurun sekitar 40% per hari. Lebih lanjut dari sisi jumlah armada taksi
pada tahun 2017 turun sebesar 12.22% dari tahun 2016. Dari sisi kualitas layanan,
PT ETU bersaing dengan perusahan taksi online.
Secara spesifik, ruang lingkup penelitian ini berfokus pada strategi bersaing
level strategi bisnis unit. Adapun tujuan penelitan ini adalah untuk: 1) menganalisis
tingkat kepuasan penumpang taksi sebagai dasar fondasi pemetaan industri taksi;
2) menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal yang
mempengaruhi PT ETU; 3) merumuskan strategi bersaing PT ETU untuk
mencapai keunggulan bersaing menghadapi perusahaan-perusahaan taksi online.
Data yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian yaitu 1)
menganalisis variabel-variabel kepuasan penumpang taksi yaitu tangible,
reliability, responsiveness, assurance, empathy, product quality, dan price melalui
teknik analisis Importance Performance Analysis (IPA) dan Customer Satisfaction
Index (CSI). Data kepuasan penumpang ini didapat dari penyebaran berupa
kuesioner kepada masyarakat yang pernah menggunakan jasa taksi dari PT ETU,
PT Blue bird Tbk, PT Uber Indonesia Technology, PT GrabBike Indonesia dan PT
Gojek Indonesia dengan total responden sebesar 250 penumpang (N=250); 2)
analisis faktor internal dan eksternal PT ETU melalui teknik analisis Internal Factor Evaluation (IFE), External Factor Evaluation (EFE) dan Five Force Porter
Scorecard Model dengan data yang dikumpulkan melalui wawancara kepada
petinggi manajemen PT ETU dan Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI
Jakarta.; 3) merumuskan strategi alternatif bersaing PT ETU dalam industri taksi
melalui teknik analisis Internal-External (IE) dan strategi prioritas melalui teknik
analisis Quantitative Strategy Planning Matrix (QSPM).
Hasil analisis IPA dari 40 atribut dengan total 250 responden,
menempatkan taksi Express PT ETU berada di kuadran I, II, dan III. Ketiga bagan
kuadran tersebut, PT ETU harus fokus untuk perbaikan pada atribut-atribut
kuadran I dan III. Sedangkan analisis CSI didapatkan hasil bahwa indeks kepuasan
penumpang taksi online lebih tinggi daripada taksi konvensioal. Lebih lanjut,
terjadi peningkatan indeks kepuasan penumpang setelah PT ETU bermitra dengan
PT Uber Technology Indonesia yaitu dalam hal kemudahan pemesanan taksi.
Kemudian dari analisis Internal Factor Evaluation (IFE) bahwa pada PT ETU
menunjukkan bahwa faktor kekuatan tertinggi adalah jaringan distribusi taksi yang
kuat dan strategis di kota-kota besar (skor sebesar 0.2187). Sedangkan faktor
kelemahan tertinggi adalah posisi keuangan perusahaan yang tidak kuat (skor
sebesar 0.1991). Pada analisis External Factor Evaluation (EFE) pada PT ETU
menunjukkan bahwa faktor peluang tertinggi adalah tingkat mobilitas dan
kebutuhan transportasi yang tinggi (0.2554). Sedangkan faktor ancaman
tertingginya adalah standarisasi tarif, jumlah armada, dan identitas taksi online
yang minim (0.2135). Lebih lanjut, pada analisis matriks Internal-External (IE)
menunjukkan bahwa PT ETU berada pada kuadran I dengan strategi tumbuh dan
membangun (grow and build). Pada tahap pengambilan keputusan dengan matriks
QSPM didapat urutan strategi prioritas sebagai berikut: 1) strategi integrasi ke
depan (6.3715); 2) strategi integrasi ke belakang (6.3201); 3) strategi integrasi
horizontal (6.1892); 4) strategi pengembangan produk (5.9429); 5) strategi
penetrasi pasar (5.9203); 6) strategi pengembangan pasar (5.7897). | |