Show simple item record

dc.contributor.advisorRifin, Amzul
dc.contributor.advisorDjohar, Setiadi
dc.contributor.authorIbrahim, Daniel
dc.date.accessioned2025-08-07T10:14:47Z
dc.date.available2025-08-07T10:14:47Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167919
dc.description.abstractUntuk memenuhi kebutuhan aspal yang berkualitas tinggi serta meningkatkan penyerapan karet alam di dalam negeri, pemerintah Indonesia sebagai konsumen utama aspal di Indonesia mulai mencanangkan program pengaspalan yang menggunakan bahan dengan campuran karet padat atau Serbuk Karet Alam Teraktivasi (SKAT) untuk aspal karet, hal tersebut merupakan peluang bagi perusahaan yang bergerak di bidang aspal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis lokasi potensial untuk pendirian pabrik SKAT, menganalisis aspek non finansial antara lain pasar, teknis, organisasi, lingkungan, risiko sosial dan kebijakan pemerintah pada industri SKAT serta menganalisis kelayakan finansial industri SKAT. Lokasi terbaik untuk mendirikan pabrik SKAT bagi PT. Bintang Djaja dari empat lokasi pilihan Palembang, Semarang, Cikampek dan Sidoarjo adalah Semarang, sesuai perhitungan dengan metode AHP yang memberikan bobot 0,382 untuk kota Semarang. Pasar produk SKAT cukup prospektif, apabila pabrik terletak di Semarang. Peluang pasar berupa jalan nasional dan jalan daerah masing-masing sepanjang 5.611 km dan 109.075 km. Kapasitas terpasang sebesar 15.000 ton SKAT akan mampu melayani sebesar 10% dari pasar tersebut setiap tahunnya, dengan kebutuhan tenaga kerja sebanyak 185 orang. Pabrik SKAT sangat ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah, akan tetapi mampu mengolah limbah ban bekas dalam bentuk GTR. Apabila PT. Bintang Djaja melakukan produksi SKAT sesuai dengan kapasitas terpasang, maka total potensi pendapatan petani karet dapat meningkat menjadi Rp. 3.195.000.000,- per tahun. Resiko pendirian pabrik SKAT bagi PT, Bintang Djaja adalah adanya kemungkingan muncul produk pesaing yaitu RAR maupun aspal karet berbasis latex, fluktuasi harga bahan baku serta berkurangnya permintaan aspal modifikasi starbit. Keadaan tersebut dapat terwujud apabila dilakukan intervensi pemerintah berupa kebijakan yang mewajibkan untuk menggunakan SKAT dalam proyek infrastruktur jalan. Kelayakan secara finansial pendirian pabrik SKAT dengan nilai investasi Rp. 47,2 milyar dan modal kerja tahun pertama sebesar Rp. 19,9 milyar menggunakan tiga alternatif pembiayaan yaitu 100 % modal sendiri, 50 % modal bank dan 80 % modal bank, dihasilkan NPV masing-masing 83,9 milyar, 59,9 milyar dan 45,6 milyar, dan IRR 36,2 %, 27,9 % dan 23,5 % serta payback period 3 tahun 4 bulan, 4 tahun 2 bulan dan 4 tahun 11 bulan sehingga pembangunan pabrik dengan menggunakan tiga alternatif pembiayaan tersebut layak secara finansial. Berdasarkan hasil analisis sensitivitas, Semakin besar modal sendiri maka pembelian bahan baku atau penurunan harga jual SKAT semakin fleksibel.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisis Kelayakan Usaha Serbuk Karet Alam Teraktivasi (Skat) Untuk Aspal Karet (Studi Kasus Pt Bintang Djaja)id
dc.subject.keywordAnalytical Hierarchy Process (Ahp)id
dc.subject.keywordIrrid
dc.subject.keywordNon Finansialid
dc.subject.keywordAnalisis Sensitivitasid
dc.subject.keywordNpvid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record