| dc.description.abstract | Salah satu sektor di Indonesia yang menarik untuk diteliti saat ini adalah
sektor perbankan syariah. Perbankan pada umumnya merupakan salah satu aspek
penting dalam pertumbuhan ekonomi. Menurut (Miranti, 2016), Sejak tahun 1980-
an, kebutuhan akan alternatif jasa perbankan mulai berkembang. Hal ini mulai
diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mendirikan bank syariah
pertama di Indonesia dengan nama Bank Muamalat Indonesia (BMI) yang efektif
beroperasi pada 1 Mei 1992. Setelah pendirian BMI, regulasi perbankan syariah
secara eksplisit mulai dikeluarkan yaitu UU No. 10 Tahun 1998 atas perubahan
terhadap UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Hal ini memberikan kesempatan
dan peluang bagi bank-bank konvensional untuk membuka unit syariah, sehingga
pemerintah mulai mengatur eksistensi perbankan syariah secara kompleks dan
menyeluruh dengan mengeluarkan UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan
syariah. Perbankan syariah di Indonesia mengalami pertumbuhan yang lebih lambat
dalam periode 2014-2015. Terdapat banyak faktor yang dapat dikaitkan dengan
pertumbuhan yang lebih lambat ini. Salah satu faktor tersebut adalah daya saing
dari bank syariah dalam sistem perbankan, karena, dalam sistem dual banking, bank
syariah dihadapkan persaingan langsung dengan bank konvensional.
Penelitian ini, pemilihan variabel input dan output dalam mengukur tingkat
efisiensi menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA) dengan
pendekatan intemediasi yang dilakukan oleh (Hosen, 2013), dan (Hidayat., 2011)
dimana variabel input (X) yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Dana Pihak
Ketiga atau DPK (X1), dan Biaya Tenaga Kerja (X2). Sementara itu, variabel
output (Y) yang digunakan adalah Pembiayaan (Y1). Data Envelopment Analysis
(DEA) adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur dan membandingkan
kinerja suatu unit (DMU). Pengukuran efisiensi menggunakan model Charnes,
Cooper dan Rhodes (CCR) dengan orientasi output pada periode 2014 dan 2015.
Kemudian hasil pengukuran tersebut dapat dibandingkan dan dianalisis dengan
indeks Malmquist untuk mengetahui seberapa baik peningkatan efisiensi yang
terjadi. Selain itu proyeksi model CCR memberitahukan seberapa besar
peningkatan yang harus dilakukan oleh DMU yang tidak efisien agar mencapai
efisien.
Hasil pengukuran nilai efisiensi terhadap sebelas bank syariah di Indonesia
pada periode tahun 2014 memberikan hasil bahwa dua dari sebelas bank memiliki
skor efisiensi sama dengan satu (θ=1). Periode tahun 2015 juga memberikan hasil
yang serupa yakni dua bank yang memiliki skor efisiensi sama dengan satu, namun
dengan komposisi yang berbeda. Hal ini berarti terdapat bank yang mengalami
peningkatan efisiensi atau mengalami penurunan efisiensi. Kedua bank syariah
yang memiliki skor efisiensi sama dengan satu adalah Bank Panin Syariah dan
Maybank Syariah.
Untuk unit-unit atau DMU yang tidak efisien atau yang memiliki skor
efisiensi kurang dari satu (θ<1) dapat diproyeksikan menjadi efisien. Hal ini
dikarenakan model DEA dengan model dasar menggunakan CCR berorientasi | |