| dc.description.abstract | Masalah kemacetan telah menjadi fenomena yang lekat dengan kehidupan
sehari-hari, khususnya di kota-kota besar di Indonesia. Salah satu transportasi
yang ditengarai dapat menjadi solusi mengatasi kemacetan adalah ojek online
yang efektif dan efisien. Ojek online dilihat menjadi peluang bisnis bagi pebisnis
muda yang juga bermanfaat menjadi salah satu transportasi yang mulai populer di
kalangan masyarakat. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh YLKI (2017),
alasan penggunaan jasa transportasi online adalah murah (84.1%) dan cepat
(81.9%). Urutan rating tertinggi adalah Gojek (72.6%), Grab (66.9%) dan Uber
(51%). Berdasarkan survei yang sama, terdapat beberapa bentuk kekecewaan
konsumen dari segi teknologi berupa sulit mendapatkan pengemudi (21.19%),
aplikasi peta rusak (13.11%); dari segi risiko berupa kendaraan kurang baik
(6.04%) dan pengemudi ugal-ugalan (4.73%); dari segi trust berupa pengemudi
tidak mau jujur pada konsumen (5.03%) dan pengemudi tidak mau diberi tahu
(2.89%).
Terdapat lima variabel laten dalam penelitian ini, yaitu persepsi teknologi,
persepsi risiko dan institution based trust sebagai variabel independen, serta
online trust dan perilaku penggunaan jasa sebagai variabel dependen. Tujuan dari
penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi perilaku penggunaan jasa ojek online,
(2) menganalisis pengaruh persepsi teknologi, persepsi risiko dan institution based
trust terhadap online trust, (3) menganalisis pengaruh persepsi teknologi, persepsi
risiko dan online trust terhadap perilaku penggunaan jasa, dan (4) merumuskan
implikasi manajerial yang dapat diterapkan bagi perusahaan dan pemerintah
dalam pengelolaan aktivitas pemasaran ojek online.
Penelitian ini bertempat di Perumahan Ciluar Asri, Kecamatan Bogor Utara,
Kota Bogor. Waktu pengerjaan tesis adalah 6 bulan terhitung dari bulan Juni
hingga Desember 2017. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
survei pada level rumah tangga. Jenis data yang digunakan adalah data primer
berupa kuisioner yang bersifat self report serta wawancara. Teknik pengambilan
contoh yang digunakan dalam penelitian ini merupakan systematical random
sampling dengan pendekatan kish grid. Adapun syarat responden dalam penelitian
ini merupakan responden yang memiliki aplikasi ojek online, pernah memesan
melalui aplikasi, serta menggunakan jasa ojek online minimal satu kali dalam
sebulan terakhir. Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Structural Equation Modeling (SEM) dengan software LISREL 8.7 serta
analisis deskriptif menggunakan SPSS 24.
Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data bahwa mayoritas responden
adalah perempuan, berada pada kelompok usia 15-24 tahun, berpendidikan sarjana
serta berprofesi sebagai mahasiswa. Kepemilikan kendaraan didominasi oleh
pemilik kendaraan mobil, motor dan sepeda. Pengguna ojek online didominasi
oleh kelompok usia 15-24 tahun serta kelompok usia tersebut memiliki tiga
aplikasi ojek online yang cenderung membandingkan ketiga ojek online tersebut sebelum memutuskan menggunakan salah satunya. Mayoritas responden pernah
menggunakan ojek online merek Grab (96%), disusul Gojek (89.5%) dan Uber
(56.5%). Frekuensi penggunaan jarang didominasi oleh Uber (56.5%) sedangkan
pada kategori sering dan selalu didominasi oleh Grab. Metode pembayaran tunai
didominasi oleh Uber (96.5%) dan non-tunai didominasi oleh Gojek (33.5%).
Feedback rating didominasi oleh ojek online dengan merek Grab (46.9%). Urutan
peringkat alasan ojek online merek Gojek dan Grab adalah harga, sering promosi,
kenyamanan, keamanan, mudah didapat, pengemudi serta cara pembayaran.
Terdapat sedikit perbedaan pada ojek online dengan merek Uber bahwa mudah
didapat tidak termasuk dalam urutan alasan pemilihan ojek online sehingga dapat
disimpulkan bahwa agak sulit mendapatkan ojek online merek Uber. Fenomena
ini berkaitan erat dengan tidak adanya responden yang memiliki hanya satu
aplikasi Uber saja. Penggunaan aplikasi Uber selalu bersama dengan aplikasi ojek
online lainnya.
Berdasarkan evaluasi tingkat kecocokan model, model penelitian ini
termasuk good fit sehingga layak untuk dilakukan uji hipotesis. Berdasarkan uji
kecocokan model pengukuran, didapatkan hasil tidak memasukkan indikator Y3
yaitu metode pembayaran secara tunai. Berdasarkan hasil uji kecocokan model
struktural, didapatkan hasil bahwa seluruh hipotesis bersifat signifikan kecuali
hipotesis 2 yaitu pengaruh persepsi risiko terhadap online trust yang bersifat tidak
signifikan. Hasil dari penelitian ini adalah persepsi teknologi berpengaruh positif
dan signifikan terhadap online trust; persepsi risiko berpengaruh tidak signifikan
terhadap online trust; institution based trust berpengaruh positif dan signifikan
terhadap online trust; persepsi teknologi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap perilaku penggunaan jasa; persepsi risiko berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap perilaku penggunaan jasa; online trust berpengaruh positif dan
signifikan terhadap perilaku penggunaan jasa.
Beberapa bentuk implikasi manajerial bagi perusahaan adalah
mempertahankan fitur yang dapat membantu konsumen dalam melacak
keberadaan pengemudi, mempertahankan pemberian tarif promo namun
memastikan bahwa informasi tarif promo tersebut diketahui konsumen, serta
mempertahankan perlindungan informasi pribadi bagi konsumen. Implikasi
manajerial untuk pemerintah adalah menetapkan peraturan bagi perusahaan ojek
online serta memberikan perlindungan bagi konsumen ojek online | |