| dc.description.abstract | Potensi hasil hutan kayu sebesar 5 persen, sedangkan hasil hutan bukan kayu
sebesar 95 persen. Salah satu hasil hutan bukan kayu adalah perlebahan. Perlebahan
memiliki banyak manfaat, diantaranya dapat menghasilkan produk-produk berupa
madu, tepung sari, royal jelly, lilin lebah, propolis, bias lebah, larva lebah, koloni
lebah dan ratu lebah. Produk hasil perlebahan yang memiliki banyak manfaat
adalah madu yaitu sebagai suplemen kesehatan, kecantikan, anti toksin, obat luka,
dan sebagai bahan baku dalam industri makanan dan minuman. Kebutuhan madu
ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saja, tetapi juga untuk
menghasilkan produk turunan dari madu. Produk turunan dari madu mulai banyak
digunakan pada produk kosmetik, salah satunya sabun.
Sabun memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu
masyarakat mulai memperhatikan kandungan dalam sabun yang digunakan.
Masyarakat mulai beralih menggunakan sabun berbahan dasar alami seperti sabun
madu. Produsen sabun madu dituntut menghadirkan berbagai varian sabun madu
berkualitas yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen. CV Madu Apiari
Mutiara mampu menangkap peluang tersebut dengan menghadirkan produk sabun
kecantikan dan kesehatan berbahan alami madu. Persaingan pada industri sabun
alami di Indonesia saat ini sudah cukup ketat. Pada produk sabun alami berbahan
madu, CV Madu Apriari Mutiara masih harus bersaing dengan beberapa produsen
lain yang sudah lebih dahulu membangun brand dan mendapatkan kepercayaan dari
konsumen.
Penjualan sabun madu CV Madu Apiari Mutiara setiap tahunnya mengalami
penurunan yang disebabkan oleh beberapa masalah yang mungkin terjadi karena
adanya kesalahan strategi perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Masalah
utama yang muncul adalah keterlambatan perusahaan dalam memenuhi aspek
legalitas dan kualitas produk dan belum mampu mengoptimalkan semua potensi
dan sumber daya yang dimiliki, serta kurangnya perhatian terhadap perubahan
lingkungan bisnis. CV Madu Apiari Mutiara dituntut untuk terus berkembang
dalam bisnis ini, oeh karena itu CV madu Apiari Mutiara Membutuhkan strategi
bisnis dan model bisnis baru yang dapat dibantu dengan kanvas.
Penelitian ini bertujuan untuk memetakan model bisnis CV Madu Apiari
Mutiara yang saat ini sedang dijalankan dan merancang prototipe model bisnis masa
depan, berdasarkan hasil dari analisis SWOT, lingkungan eksternal dan empat
langkah kerja pada blue ocean strategy. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari
2017 hingga Mei 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
deskriptif. Penelitian ini difokuskan untuk membuat model bisnis baru yang tepat
melalui pendekatan business model canvas.
Hasil pemetaan model bisnis CV Madu Apiari Mutiara dengan bisnis model
kanvas menunjukkan bahwa segmen pelanggan CV Madu Apiari Mutiara adalah
masyarakat menengah ke atas, 13 outlet Serambi Botani, dan 100 toko herbal
dengan proposisi nilai yang ditawarkan produk mengandung madu asli, aman untuk
semua jenis kulit, produk bervariasi dan menerima pesanan khusus. CV Madu Apiari Mutiara memanfaatkan outlet, pameran, website dan sosial media untuk
mencapai target pelanggannya. Hubungan dengan pelanggan menggunakan
bantuan personal. Arus penerimaan perusahaan diperoleh dari penjualan produk
sabun madu. Sumber daya utama CV Madu Apiari Mutiara dibagi menjadi tiga,
manusia, fisik dan finansial dengan aktivitas utama yang dijalankan adalah aktivitas
produksi dan pemasaran. Mitra utama yang bekerjasama dengan CV Madu Apiari
Mutiara adalah petani madu, PT Brataco, toko parfum, Incubie IPB, dan Pemerintah
terkait. Struktur biaya yang dikeluarkan oleh CV madu Apiari Mutiara terdiri atas
biaya operasional dan biaya investasi.
Setelah melakukan analisis SWOT yang informasinya diperoleh dari hasil
pemetaan dan lingkungan bisnis maka dapat dirancang prototipe model bisnis baru
untuk masa yang akan datang. Model bisnis baru dirancang dalam dua prototipe,
protitipe model bisnis 1 dirancang berdasarkan hasil dari blue ocean strategy yang
bertitik pusat pada pengembangan proposisi nilai yang dimiliki CV Madu Apiari
Mutiara yaitu pesanan khusus produk sabun madu. Pengembangan proposisi nilai
ini mengakibatkan adanya penambahan segmen pelanggan dan perubahan disemua
elemen BMC. Perubahan elemen ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
CV Madu Apiari Mutiara. Fokus rancangan prototipe model bisnis 2 terdapat pada
pengembangan usaha dengan menambahkan segmen pelanggan dan proposisi nilai.
Pengembangan usaha yang mungkin dilakukan adalah dengan adanya program
kunjungan industri dan program pelatihan wirausaha dengan segmen pelanggannya
adalah pelajar, mahasiswa dan purna bakti. Penambahan ini merubah seluruh
elemen BMC, sehingga kompetensi bisnis CV Madu Apiari Mutiara bertambah.
Prototipe model bisnis yang dirancang memiliki kelebihan dan kelemahannya
masing-masing. Kelebihan pada prototipe model bisnis 1 adalah pendapatan
meningkat, perusahaan telah berpengalaman, dan berpeluang memperoleh
kontinuitas pesanan. Sedangkan kelemahannya adalah untuk membangun
kepercayaan kepada pelanggan baru membutuhkan waktu yang cukup lama, dan
perusahaan dituntut untuk kerja cepat tanpa mengabaikan kualitas produk.
Kelebihan pada prototipe model bisnis 2 adalah meningkatkan pendapatan
perusahaan dan model bisnis ini dapat diterapkan pada produk madu yang lain,
sedangkan kelemahannya adalah waktu untuk mempersiapkan kebutuhan program
cukup lama dan akan sedikit mengganggu aktivitas perusahaan. | |