| dc.description.abstract | Klaster Industri Produk Olahan Susu Cipageran adalah salah satu klaster
yang terletak di Kota Cimahi. BPPT bekerjasama dengan Pemerintah daerah kota
Cimahi bersama-sama mewujudkan Cimahi Technopark yang diprakarsai oleh
pemerintahan Jokowi dengan program nasional Nawacita no.6 yang berisi
meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing dipasar internasional. Kota
Cimahi dalam konsep Cimahi Technopark memiliki empat klaster industri
potensial yang bisa dikembangkan diantaranya: klaster industri tekstil dan produk
tekstil, klaster industri makanan dan minuman, klaster industri kerajinan dan
klaster industri telematika (IT dan animasi). Penelitian ini membatasi pada klaster
industri olahan susu dengan Sentra Susu Cipageran sebagai Local Champion di
Klaster Produk Olahan Susu Sapi Cipageran. Sentra Susu Cipageran merupakan
sebuah organisasi gabungan dari beberapa kelompok yang bergerak dibidang
peternakan, yang terdiri dari kelompok peternak sapi perah dan kelompok
pengolah susu dengan tujuan utama memberi keuntungan dan kesejahteraan bagi
anggotanya. Sentra Susu Cipageran juga merupakan pusatnya produk olahan susu
baik pangan maupun kosmetik yang diolah secara rumahan dengan bahan-bahan
alami. Lokasi Cipageran terletak pada sebuah kawasan potensial dengan
pengintegrasian rantai nilai bahan baku susu segar dihulu dan produk- produk
olahan susu di hilir yang dikerjakan oleh masyarakat lokal. Didalam menjalankan
tujuannya organisasi belum mampu menjalankan model bisnis dengan efektif
sehingga diperlukan strategi-strategi baru untuk memperbaiki model bisnisnya.
Klaster Industri Produk Olahan Susu Sapi Cipageran pada Sentra Susu Cipageran
perlu merancang prototipe model bisnis baru sebagai strategi pengembangan
bisnis di masa mendatang.
Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan kondisi awal model
bisnis klaster industri produk olahan susu sapi Cipageran; (2) mengidentifikasikan
faktor-faktor internal dan eksternal; (3) merumuskan strategi pengembangan dan
perbaikan pada klaster industri produk olahan susu sapi Cipageran; (4) merancang
prototipe model bisnis baru yang tepat untuk digunakan dalam pengembangan
klaster industri olahan susu dimasa mendatang. Metode yang digunakan pada
penelitian ini menggunakan kombinasi pendekatan Business Model Canvas
(BMC) dengan matriks SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities and
Threats) dalam merumuskan strategi perbaikan dan pengembangan bisnis
sedangkan untuk menciptakan prototipe model bisnis baru menggunakan
kombinasi antara BMC dan kerangka kerja empat tindakan pada blue ocean
strategy. Hasil identifikasi sembilan unsur business model canvas pada klaster
industri produk olahan susu Cipageran saat ini dilakukan melalui observasi dan
focus group discussion terhadap narasumber internal dan para pelaku bisnis yang
tergabung dalam klaster industri produk olahan susu Cipageran.
Hasil penelitian menunjukan perlu adanya perbaikan terhadap setiap
unsur-unsur pada model bisnis klaster industri olahan susu Cipageran, Strategi perbaikan tersebut meliputi: (1) Mengembangkan infrastruktur dan jaringan
teknologi informasi; (2) mengembangkan SDM dari kelompok pengolah dan
peternak sapi; (3) mengembangkan budaya inovasi dengan memanfaatkan
hubungan kemitraan yang kuat, jiwa dan mental wirausaha yang tinggi dan mutu
yang baik sesuai SOP yang berlaku; (4) meningkatkan nilai ekonomi pada klaster
industri olahan susu sapi dalam hal kemampuan leadership dan pembuatan
legalisasi kontrak antara pengolah, peternak dan konsumen.
Tahapan berikutnya setelah strategi perbaikan pengembangan model
bisnisnya dilanjutkan dengan perancangan 2 (dua) prototipe model bisnis.
Berdasarkan hasil pemetaan melalui kegiatan SWOT (Strengths, Weakness,
Oppertunities and Threats) ide inovasi pada prototipe model satu berfokus pada
penawaran value propositions baru dan menawarkan Kawasan Edufarm untuk
Customer Experience sedangkan pada protototipe model dua fokus pada
penawaran value propositions, customer relationships, key resources dan revenue
streams dengan membentuk Koperasi Susu Cipageran agar mampu mendukung
peningkatan usahanya dan mengembangkan sistem yang terintegrasi antara
peternak dan pengolah susu dan mengembangkan unit-unit organisasi didalamnya. | |