Show simple item record

dc.contributor.advisorRatnawati, Anny
dc.contributor.advisorAndati, Trias
dc.contributor.authorAmizuar, Sabili Hakimi
dc.date.accessioned2025-08-07T10:08:25Z
dc.date.available2025-08-07T10:08:25Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167827
dc.description.abstractSemakin terbukanya perekonomian dunia yang ditandai dengan besarnya arus modal keluar masuk pada suatu pasar negara, memberikan kesempatan bagi para investor dan pelaku usaha dalam meningkatkan keuntungan dan mengurangi risiko dari investasi yang akan ditanamkan. Kesempatan ini didapatkan dengan membentuk portofolio asset yang terdiversifikasi dengan kombinasi beberapa sekuritas yang diperjualbelikan oleh antar negara. Adanya fenomena kesepakatankesepakatan economic community yang diakui oleh beberapa negara saat ini melahirkan peraturan baru yang membolehkan investor asing menanamkan modalnya di pasar modal antar negara. Aliran modal yang terjadi antar negara tersebut dapat mengintegrasikan antar pasar-pasar modal. Integrasi pasar modal antar negara mengakibatkan peningkatan atau penurunan tingkat return dan risiko di negara yang terintegrasi akan bergerak saling timbal balik satu dengan yang lainnya. Hal ini dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang dihasilkan diantaranya adalah membuat pasar modal semakin efisien, mendorong terciptanya pola kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan, dan pengembangan pasar keuangan. Adapun dampak negatifnya bagi investor dengan semakin meningkatnya derajat integrasi pasar modal antar negara adalah dapat memperkecil peluang untuk mendapatkan keuntungan dari harga arbitrase sehingga portofolio yang dilakukan menjadi tidak memiliki manfaat yang berarti. Kemudian terjadinya contangion effect (efek penularan) tidak dapat dihindari apabila terjadi shock pada pasar modal di suatu negara karena tren volatilitas yang sama antar pasar modal. Beberapa penelitian mengenai integrasi pasar modal memang sudah banyak dilakukan namun mempunyai hasil yang berbeda-beda dengan objek yang digunakan juga berbeda tergantung dari dari pendekatan mana yang diambil. Adapun penelitian kali ini akan mengukur tingkat intergrasi pasar modal Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dalam emerging market yang terdiri dari Cina, Taiwan, Korea, Malaysia, Thailand, dan Philipina dan dengan negara Amerika, Australia, Singapura, Jepang, dan United Kingdom sebagai developed market. Dengan tingkat integrasi tersebut akan diidentifikasi masihkah diversifikasi modal ke pasar Internasional yang dilakukan investor Indonesia dapat memberikan peluang keuntungan dalam abnormal return atau bisa mereduksi risiko portofolio. Penelitian ini menggunakan data sekunder bulanan yang terdiri dari indeks pasar saham 12 negara yang berupa data time series harian dari tanggal 1 Januari 2007 sampai dengan tanggal 30 Desember 2016. Alat analisis yang dingunakan yaitu VECM (Vector Error Correction Model) untuk mengetahui integrasi yang terdapat diantara pasar saham 12 negara. Pengujian kointegrasi menggunakan uji Johansen Cointegration. Jika pengujian data atau variabel menunjukkan hasil tidak stasioner namun memiliki kointegrasi dengan variabel lain, maka bentuk model yang digunakan adalah VECM. Metode VECM ini didukung dengan analisis IRF (Impuls Response Function) dan FEVD (Forecast Error Variance Decomposition) yang masing-masing memiliki peran tertentu. Selain itu digunakan juga alat analisis DCC Garch untuk mengukur tingkat integrasi pasar saham Negara Indonesia terhadap 11 negara lainnya dengan memperhatikan pengaruh dari variasi korelasi dari waktu ke waktu sehingga dapat dilihat pergerakan derajat integrasi antar pasar saham Negara Indonesia dengan 11 negara lain dalam jangka pendek. Adapun hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa berdasarkan uji Johansen Cointegration terdapat integrasi jangka panjang antara pasar saham Negara Indonesia dengan 11 negara lainnya. Dalam melakukan diversifikasi internasional perlu diperhatikan oleh manager portofolio adalah penentuan negara tujuan diversifikasi sehingga sesuai dengan penelitian ini, investor sebaiknya mendiversifikasikan modalnya ke negara dengan karakteristik developed market, Investasi antar negara ini dapat mengurangi atau menghindari kerugian akibat risiko sistematis yang disebabkan oleh faktor internal negaraIndonesia sendiri. Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memberikan kebijakan tentang investasi atau kegiatan perdagangan antar negara. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa JKSE mempunyai hubungan jangka panjang dengan NYSE dan STI, oleh karena itu pemerintah Indonesia dapat menentukan rencana kedepan untuk melakukan upaya preventif apabila terjadi shock yang berasal dari NYSE atau STI yaitu dengan menarik banyak investor lokal dengan cara mempermudah akses dengan deregulasi investor lokal yang bermodal kecil untuk menanamkan investasinya di pasar modal Indonesia JKSE sehingga diharapkan dapat memiliki stabilitas yang cukup kuat.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleIntegrasi Pasar Saham Internasional dan Perspektif Investor Indonesia : Analisis Derajat Integrasi dan Transmisi Volatilitasid
dc.subject.keywordDiversifikasiid
dc.subject.keywordIntegrasiid
dc.subject.keywordReduksi Risikoid
dc.subject.keywordVolatilitasid
dc.subject.keywordAnalisis Deskriptifid
dc.subject.keywordDynamic Conditional Correlation (Ddc Garch)id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record