Analisis Kebijakan Hedging Harga Terhadap Kinerja Keuangan Produsen Crude Palm Oil Di Indonesia
View/ Open
Date
2017Author
Permata, Wenny Putri
Siregar, Hermanto
Maulana, Tb.Nur Ahmad
Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia sebagai negara penghasil CPO (Crude Palm Oil) terbesar didunia
masih belum bisa mengatur harga CPO yang berlaku baik dalam pasar lokal atau
pasar internasional, sedangkan harga CPO bergerak fluktuatif mengikuti
mekanisme pasar dan faktor-faktor lain seperti fundamental dan teknikal,
sehingga menimbulkan risiko harga terutama bagi produsen. Instrumen hedging
harga merupakan solusi untuk mengurangi risiko harga tersebut, namun tidak
semua produsen CPO mengambil kebijakan hedging harga dan lebih memilih
melakukan kebijakan marketing jangka pendek terkait keadaan pasar saat itu.
Penelitian ini mengenai kebijakan hedging produsen CPO Indonesia, yaitu
menganalisis faktor yang memengaruhi produsen mengambil keputusan hedging
dan bagaimana kinerja keuangan produsen terkait kebijakan hedging yang
diambil. Teknik pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini menggunakan
analisis deskriptif kuantitaif, alat bantu analisis menggunakan regresi logistik
biner dengan variabel dependen bersifat kategorial yaitu 0 untuk perusahaan yang
tidak melakukan hedging (non-hedger) dan 1 untuk perusahaan yang melakukan
hedging (hedger), dan software yang digunakan adalah EViews versi 9.0. Sampel
yang digunakan adalah produsen CPO yang listed dan aktif di Bursa Efek
Indonesia dalam periode 2010 sampai 2016 yaitu enam perusahaan penghasil
CPO dengan tiga perusahaan hedger dan tiga perusahaan non hedger yaitu: PT
Sampoerna Agro Tbk, PT Sinar Mas Agri Resources and Technology Tbk, PT
Bakrie Sumatera Plantation Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk, PT PP London
Sumatera Indonesia Tbk dan PT Tunas Baru Lampung Tbk.
Berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi disimpulkan ada empat faktor
yang memengaruhi perusahaan melakukan keputusan hedging harga yaitu firm
size yang berpengaruh positif signifikan, dan faktor-faktor yang berpengaruh
negatif signifikan terhadap hedging adalah tax avoidance, activity ratio dan
profitability ratio. Sehingga dapat diintepretasikan bahwa kebijakan hedging
cenderung dilakukan oleh perusahaan yang memiliki ukuran perusahaan besar,
tidak melakukan tindakan penghindaran pajak, perusahaan yang kurang efisien
dalam penggunaan aktiva, dan perusahaan yang memiliki laba kecil, sedangkan
perusahaan yang cenderung tidak melakukan kebijakan hedging adalah
perusahaan yang berukuran kecil, melakukan tindakan penghindaran pajak,
efisiensi dalam penggunaan aktiva untuk mengkonversi menjadi penjualan dan
kas serta perusahaan yang memiliki kemampuan tinggi menghasilkan laba.
Kinerja keuangan perusahaan hedger secara umum lebih baik dibandingkan
perusahaan non-hedger dengan menggunakan alat analisa lima rasio keuangan
yaitu liquidity ratio, leverage ratio, activity ratio, profitability ratio dan market
ratio. Perusahaan hedger mempunyai perencanaan keuangan yang lebih baik dan
memiliki kemampuan tinggi dalam membayar hutang jangka pendek perusahaan
dan memiliki profit lebih besar daripada non-hedger sehingga pihak ketiga seperti
bank dan investor berinvestasi dalam perusahaan karena yakin akan pengembalian
investasinya. Namun disisi lain perusahaan hedger memiliki waktu yang lebih lama untuk mengkonversi inventory-nya menjadi kas, sehingga dalam perusahaan
memiliki kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya
Collections
- MT - Business [4057]
