| dc.description.abstract | Investasi yang dilakukan oleh perorangan maupun badan usaha merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan kemakmuran, baik itu dengan memperoleh
pendapatan atau tingkat pengembalian, maupun pendapatan dari selisih harga jual
saham terhadap harga belinya (capital gain). Pada umumnya investor akan
mengharapkan dividen dengan nilai yang besar dibandingkan dengan capital gain,
karena dividen memiliki tingkat kepastian yang lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan
teori yang dikemukakan oleh Gorden dan Lintner, investor lebih memilih dividen
yang sudah pasti nominalnya dari pada mengharapkan adanya capital gain yang
masih mungkin berubah-ubah. Berdasarkan konsep time value of money, dividen
yang dibayarkan perusahaan sekarang memiliki nilai yang lebih tinggi
dibandingkan mengharapkan capital gain yang akan terjadi dimasa mendatang.
Pasar modal di Indonesia telah mencatat sembilan sektor yang salah satu
diantaranya adalah sektor pertanian. Sektor pertanian memberikan andil dalam
penyerapan tenaga kerja terbesar dibandingkan dengan sektor lain. Namun
faktanya, sektor pertanian merupakan sektor dengan kapitalisasi terkecil
dibandingkan dengan sektor lain sampai Desember 2015, yaitu sebesar 2,4% dari
total keseluruhan kapitalisasi pasar. Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya daya
tarik yang dimilik sektor pertanian sehingga minat investor untuk berinvestasi
cukup kecil.
Berdasarkan latar belakang permasalahan maka penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis apakah perusahaan yang terdaftar dalam sektor pertanian
melakukan penyesuaian pembayaran dividen sesuai dengan model Lintner, dan
menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen pada
perusahaan yang tergabung dalam sektor pertanian.
Perusahaan yang memenuhi syarat penelitian ini adalah 1) PT. Astra Agro
Lestari Tbk, 2) PT. London Sumatera Indonesia Plantation Tbk, 3) PT. Tunas
Baru Lampung Tbk, 4) Sampoerna Agro Tbk, 5) PT. Sinar Mas Agro Resources
and Technology Tbk, 6) PT. Bisi International Tbk. Metode yang digunakan
untuk menjawab tujuan penelitian adalah analisis data panel.
Hasil model Lintner menunjukkan bahwa perusahaan yang terdaftar dalam
sektor pertanian memiliki koefisien yang lebih besar (1.015) dengan target payout
ratio (0.357) yang cenderung lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
perusahaan yang terdaftar dalam sektor pertanian lebih cepat dalam melakukan
penyesuaian pembayaran dividen dan membayarkan dividen sebesar 0.357 dari
pendapatan yang diperoleh.
Hasil analisis data panel menunjukkan bahwa pada signifikansi 90% model
pooled least square merupakan model terbaik untuk menganalisis faktor yang
mempengaruhi kebijakan dividen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DER
memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap DPR. ROE memiliki
pengaruh yang positif dan signifikan terhadap DPR. Inflasi memiliki pengaruh positif dan tidak signifikan terhadap DPR. Kurs memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap DPR.
Berdasarkan hasil penelitian, implikasi kebijakan yang dapat disarankan
adalah perusahaan diharapkan dapat meningkatkan nilai ROE dengan
memanfaatkan modal yang dimiliki secara optimal untuk memperoleh laba yang
maksimal. Bagi investor disarankan untuk memilih emiten yang memiliki
performa yang baik yang tercermin dari rasio keuangannya. Investor yang ingin
mendapatkan pengembalian optimal dari investasinya pada sektor pertanian dapat
dilihat dari kinerja perusahaan yang memiliki nilai ROE positif. Hasil penelitian
memperkirakan, transaksi jual beli saham sektor pertanian sebaiknya dilakukan
pada saat Inflasi dan Kurs meningkat. | |