| dc.description.abstract | Struktur modal adalah suatu pilihan pendanaan yang berasal dari
pendanaan utang atau pendanaan ekuitas. Pendanaan dalam sektor pertanian
masih memiliki kendala dan hambatan dalam perkembangannya. Tren kontribusi
sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto mengalami penurunan dari
tahun ke tahun, selain itu kondisi pertumbuhan ekonomi dalam ekspor produk
pangan lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan impor produk
pangan. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi dalam ekspor produk pangan
mengalami penurunan kinerja. Salah satu hambatan bagi perusahaan dalam sektor
pertanian yakni kesulitan dalam akses kredit dari pihak lembaga keuangan
maupun investor. Hal ini menjadi masalah mengingat sektor pertanian merupakan
sektor utama yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja.
Sektor pertanian membutuhkan lahan yang cukup luas sebagai capital
asset dalam aktivitas operasionalnya yang artinya sebagian besar investasi yang
digunakan pada sektor ini dipenuhi dengan membeli lahan yang dibutuhkan untuk
keperluan aktivitas operasional maupun untuk ekspansi, dalam membeli lahan
pada umumnya perusahaan dalam sektor pertanian menggunakan pinjaman jangka
panjang. Dalam memenuhi kebutuhan modal yang besar perusahaan
menggunakan pinjaman dana ekternal baik berupa utang (debt financing),
pendanaan internal dengan menggunakan laba perusahaan maupun melakukan
penjualan saham (external equity financing). Peran manajer keuangan berperan
penting dalam upaya pemenuhan struktur modal perusahaan. Terdapat beberapa
faktor penentu yang diduga mempengaruhi keputusan struktur modal suatu
perusahaan.
Faktor penentu yang digunakan dalam peneltian ini diuji dengan
menggunakan indikator faktor internal yakni SA, GRW, PROF, LIQ, NDTS dan
AGE. Sementara pada faktor ekternal yakni INF, PDB dan IR. Penelitian ini
menggunakan laporan keuangan yang diterbitkan tahunan pada perusahaan sektor
tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan sektor lainnya yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2005 – 2010. Sementara untuk inflasi,
PDB dan suku bunga didapatkan dari World Bank, BPS dan Bank Indonesia. Data
dianalisis menggunakan data panel.
Penelitian ini menunjukan faktor internal yakni pertumbuhan perusahaan
(GRW), profitabilitas (PROF), likuiditas (LIQ) serta usia perusahaan (AGE)
berpengaruh dan siginifikan terhadap utang jangka panjang (long-term liabilities).
Sementara pada faktor ekternal yakni inflasi (INF), PDB dan suku bunga (IR)
tidak berpengaruh dan signifikan terhadap utang jangka panjang (long-term
liabilities). Penelitian ini menunjukkan bahwa saat suku bunga dan inflasi
meningkat terdapat kecenderungan perusahaan sektor pertanian tetap memutuskan
untuk memilih utang sebagai sumber pendanaannya. Hal ini dikarenakan sektor
pertanian merupakan sektor utama dalam kontribusi PDB. Selain itu penelitian ini
menemukan perusahaan yang memiliki profitabilitas yang tinggi perusaahan lebih
menyukai pendanaan internal, dikarenakan perusahaan memiliki sumber dana internal yang melimpah. Hasil ini telah sesuai dengan teori pecking order yang
menjelaskan tentang suatu perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas yang
tinggi memiliki tingkat utang yang rendah.
Penelitian ini merekomendasikan untuk membantu manajer keuangan
dalam pengambilan keputusan dalam kebijakan pendanaan perusahaan. Manajer
keuangan dapat melihat dan mempertimbangan beberapa faktor penentu yang
diteliti dalam penelitian ini dalam menunjang keputusan pendanaan perusahaan.
Serta untuk investor diharapkan dapat mempertimbangkan faktor-faktor yang diuji
dalam penelitian ini sebelum memutuskan untuk berinvestasi. | |