| dc.description.abstract | Keterkaitan harga komoditas energi dunia seperti minyak mentah, gas alam
cair, dan batu bara merupakan salah satu faktor penentu performa dari emiten
dalam subsektor pertambangan energi. Menurunnya harga komoditas energi dunia
dalam enam tahun terakhir menyebabkan performa dan harga saham emiten pada
subsektor pertambangan energi menurun. Kondisi ini menjadikan subsektor
pertambangan energi menjadi destinasi investasi yang memiliki tingkat risiko
yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan suatu model alat bantu pengambilan
keputusan investasi pada subsektor pertambangan energi.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan metode
Arbitrage Pricing Theory melaui regresi data panel dengan pembobotan cross
section seemingly unrelated regression. Sebelas emiten terpilih sebagai sampel
penelitian dengan rentang periode tahun 2011 hingga tahun 2016, dengan
meregresikan enam variabel independen, enam variabel dummy dan 16 variabel
interaksi. Model yang dibangun dalam penelitian ini adalah model prediksi harga
yang dilanjutkan dengan analisis tingkat pengembalian.
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 7 dari total 28 variabel yang tidak
signifikan dalam memengaruhi harga saham emiten subsektor pertambangan
energi. Hasil dari model pendugaan harga menunjukkan bahwa masih terdapat
selisih pendugaan yang cukup besar, sehingga indikasi pengambilan keputusan
investasi sulit dilakukan pada level pendugaan harga. Pada level analisis tingkat
pengembalian, ditemukan adanya pola pergerakan tingkat pengembalian melalui
momen overpricing dan underpricing. Pada momen overpricing, tingkat
pengembalian cenderung negatif, sehingga memberikan indikasi investasi
penjualan. Sebaliknya, pada momen underpricing, tingkat pengembalian
cenderung positif sehingga memberikan indikasi investasi pembelian. | |