Show simple item record

dc.contributor.advisorSatria, Arif
dc.contributor.advisorMulyati, Heti
dc.contributor.authorBulkini, Asep
dc.date.accessioned2025-08-07T10:04:31Z
dc.date.available2025-08-07T10:04:31Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167763
dc.description.abstractIkan lele (Clarias sp.) merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan peningkatan produksi ikan lele hingga 1.8 juta ton pada tahun 2019 sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya 2015-2019. Kabupaten Bogor merupakan salah satu lokasi kawasan minapolitan yang ditetapkan oleh KKP. Salah satu komoditasnya adalah ikan lele. Tetapi, pembudidaya lele yang menjadi aktor utama memiliki daya tawar rendah dibanding aktor lainnya dalam keseluruhan rantai nilai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem rantai nilai dan nilai tambah ikan lele di Kabupaten Bogor; menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya, serta menganalisis strategi untuk meningkatkan rantai nilai ikan lele khususnya di Kabupaten Bogor. Penelitian menggunakan metode Hayami untuk menghitung nilai tambah, analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk mengidentifikasi kondisi internal dan eksternal rantai nilai dan merumuskan strategi peningkatan rantai nilai, serta metode Proses Hirarki Analitik (PHA) untuk memprioritaskan strategi SWOT. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh responden aktor rantai nilai dan responden ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rantai nilai ikan lele di Kabupaten Bogor memiliki 4 (aktor) utama, yaitu pembudidaya pembesaran, pengumpul, pengecer, dan pengolah. Rata-rata nilai tambah untuk setiap aktor antara lain, pembudidaya sebesar Rp. 2 700/kg, pengumpul Rp. 3 000/kg, pengecer Rp. 2 700/kg, dan pengolah Rp. 35 000/kg. Hasil identifkasi SWOT menunjukkan bahwa kekuatan pada rantai nilai antara lain setiap aktor berpengalaman, lokasi sebagai kawasan minapolitan, budidaya lele mudah, dan daya tawar tinggi di pengumpul. Kelemahannya antara lain modal dan akses permodalan terbatas, daya tawar rendah khususnya pembudidaya, teknologi budidaya konvensional, kualitas benih tidak stabil, dan kapasitas terbatas di pengumpul dan pengecer. Peluangnya adalah lele sebagai komoditas unggulan dan permintaannya tinggi. Sedangkan ancamannya antara lain harga pakan mahal, kualitas pakan tidak stabil, cuaca, penurunan kualitas air, konsistensi pasokan, bencana, dan persaingan sesama aktor. Prioritas strategi untuk meningkatkan kualitas rantai nilai ikan lele di Kabupaten Bogor yaitu 1) pengembangan benih berkualitas (0.363), 2) peningkatan kerjasama antar aktor di dalam rantai nilai (0.221), 3) budidaya ramah lingkungan (0.143), 4) peningkatan skala produksi dengan (0.099), 5) pembuatan pakan mandiri (0.092), 6) dan pembuatan diversifikasi olahan lele (0.083).
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleAnalisis Strategi Peningkatan Rantai Nilai Ikan Lele (Clarias Sp.) Di Kabupaten Bogorid
dc.subject.keywordIkan Leleid
dc.subject.keywordNilai Tambahid
dc.subject.keywordProses Hirarki Analitik (Pha)id
dc.subject.keywordAnalytic Hierarchy Process (Ahp)id
dc.subject.keywordRantai Nilaiid
dc.subject.keywordStrategiid
dc.subject.keywordSwotid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record