| dc.description.abstract | Permasalahan dalam bidang ekonomi merupakan permasalahan utama yang
berada di masyarakat, terutama di masyarakat pedesaan. Hal tersebut dapat dilihat
dengan meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia, terutama di wilayah
pedesaan (Sunyoto 2004). Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk
membuat suatu kebijakan yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat guna
mengentaskan kemiskinan. Usaha Mikro Kecil (UMK) merupakan kegiatan
ekonomi masyarakat yang dinilai mampu meningkatkan laju pertumbuhan
ekonomi. Peranan UMK dalam perekonomian Indonesia sangat penting dan
menguntungkan bagi peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia untuk
meningkatkan perekonomian Indonesia. Disamping itu, dengan banyaknya tenaga
kerja yang diserap oleh sektor UMK, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
perkapita masyarakat dan sekaligus meningkatkan pemerataan pendapatan
masyarakat, sehingga upaya untuk mengentaskan kemiskinan dapat tercapai.
Kecamatan Cilamaya Kulon merupakan salah satu kecamatan sentra padi di
Kabupaten Karawang, namun di wilayah ini juga tumbuh usaha-usaha mikro
masyarakat. Permasalahan usaha-usaha mikro di wilayah ini adalah kualitas SDM
pengelola, keterbatasan akses pemasaran, rendahnya kualitas produk, dan
terbatasnya akses modal (Firmansyah et al. 2016). Melihat permasalahan yang
dihadapi dalam pengembangan UMK tersebut, Pusat Kegiatan Belajar (PKBM)
Assolahiyah bekerjasama dengan PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field dan
Pusat Kajian Resolusi Konflik (CARE) LPPM IPB berinisiatif membentuk
Kelompok Usaha dan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga (KUPEK) Assolahiyah.
Penelitian ini memiliki tiga tujuan, yaitu menganalisis faktor-faktor internal
dan eksternal yang menjadi faktor penentu kekuatan, kelemahan, peluang, dan
ancaman pada KUPEK Assolahiyah, menganalisis subfaktor terpenting dari faktor
penentu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada KUPEK Assolahiyah,
dan merumuskan alternatif strategi untuk pengembangan KUPEK Assolahiyah
guna meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya anggota KUPEK. Metode
penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis SWOT dan analisis
gabungan SWOT-AHP. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer melalui FGD, wawancara, kuesioner dan observasi dengan pemilihan
responden secara sengaja.
Hasil identifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan) pada KUPEK
Assolahiyah adalah komitmen dari pengelola, sarana dan prasarana yang memadai,
KUPEK sudah dikenal dan dipercaya, tenaga profesional dan full time untuk
mendampingi UMK terbatas, tenaga pemasaran produk KUPEK terbatas, dan
manajemen administrasi yang belum/tidak teratur. Faktor ekstenal yang terdapat
pada KUPEK Assolahiyah adalah pemanfaatan perkembangan media sosial
sebagai media promosi murah, memiliki jaringan kemitraan ABG-C, dukungan
dari CSR PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field, dukungan dari pemerintah
terhadap pengembangan UMK, adanya alih teknologi cepat dari luar, dan persaingan dalam pemasaran produk sejenis dengan produk yang diproduksi
anggota KUPEK.
Pembobotan pada level faktor menghasilkan bobot tertinggi yang dimiliki
oleh kekuatan dengan nilai sebesar 0,395 dengan subfaktor adanya komitmen dari
pengelola terhadap keberlanjutan KUPEK. Kemudian diikuti peluang dengan nilai
sebesar 0,312 dengan subfaktor adanya dukungan dari pemerintah terhadap
pengembangan UMK, kelemahan dengan nilai sebesar 0,149 dengan subfaktor
tenaga profesional dan full time untuk mendampingi UMK terbatas, dan ancaman
dengan nilai 0,144 dengan subfaktor persaingan dalam pemasaran produk sejenis
dengan produk yang diproduksi anggota KUPEK sebagai ancaman utama yang
harus diatasi.
Berdasarkan hasil SWOT-AHP, diperoleh lima strategi alternatif
pengembangan organisasi dalam meningkatkan pendapatan anggota KUPEK,
yaitu (1) strategi peningkatan promosi dan kerjasama (bobot=0,266); (2) strategi
peningkatan kemampuan SDM (bobot=0,213); (3) strategi pemanfaatan IT dan
media sosial sebagai media untuk melakukan pendampingan (bobot=0,200); (4)
strategi melatih dan merekrut tenaga profesional untuk mendampingi UMK
(bobot=0,197); serta (5) strategi menjaga kualitas mutu produk KUPEK
(bobot=0,125). | |