Show simple item record

dc.contributor.advisorIrawan, Tony
dc.contributor.advisorAnggraeni, Lukytawati
dc.contributor.authorJuniarwoko, Dadang Wahyu
dc.date.accessioned2025-08-07T10:01:24Z
dc.date.available2025-08-07T10:01:24Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167710
dc.description.abstractAnomali merupakan sebuah keanehan yang terjadi pada perdagangan saham yang mengakibatkan investor memiliki peluang untuk mendapatkan abnormal return, yang seharusnya tidak terjadi menurut efficient market hypothesis (EMH) (Singh 2014). Calendar anomaly, salah satu dari banyak jenis anomali, mengindikasikan adanya pola-pola berulang yang terjadi pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada bulan atau hari tertentu (Deyshappriya 2014). Calendar anomaly yang banyak diteliti antara lain Month of the Year Anomaly (MOYA) atau dikenal juga dengan January Effect, dan Day of the Week Anomaly (DOWA) (Dicle dan Levendis 2012, Darrat et al. 2011, Das dan Rao 2011, Bouman dan Jacobsen 2002). Setiap jenis dari calendar anomaly menawarkan peluang strategi jual beli saham untuk rentang watu yang berbeda. MOYA misalnya menawarkan abnormal return bila membeli pada bulan Januari (Alrabadi dan Al-Qudah 2012). DOWA mengindikasikan peluang return tertinggi di hari jumat. Banyaknya calendar anomaly yang ditemukan di berbagai negara mengindikasikan masih banyak pasar saham yang belum efisien. Indonesia merupakan salah satu pasar yang ditemukan mengalami calendar anomaly (Anwar dan Mulyadi 2012, Iramani dan Mahdi 2006, Werastuti 2012, Naughton dan Veeraghavan 2005). Terdapat teori mengenai calendar anomaly yang menyatakan bahwa anomali kebanyakan terjadi pada saham-saham berkapitalisasi kecil (Bodie et al. 2008). Oleh karena itu, identifikasi anomali perlu dilihat pada indeks berkapitalisasi berbeda. Bila anomali ditemukan pada saham-saham berkapitalisasi berbeda maka startegi trading berdasarkan anomali bisa diterapkan untuk setiap jenis kapitalisasi. Hal menarik lain yang bisa dianalisa terkait calendar anomaly adalah menganalisa ada tidaknya anomali tersebut pada tingkat individual saham, tidak seperti yang kebanyakan dilakukan pada penelitianpenelitian terdahulu yang hanya menganalisa pada tingkat pasar atau indeks (Dicle and Levendis 2012). Pada penelitian ini indeks-indeks yang digunakan adalah indeks LQ45 dan Pefindo25. Indeks LQ45 digunakan untuk menggambarkan “perilaku” sahamsaham kapitalisasi besar sedangkan indeks Pefindo25 digunakan untuk mewakili kelompok saham yang memiliki kapitalisasi pasar sedang dan kecil. Identifikasi ada tidaknya MOYA dan DOWA dilakukan pada indeks dan saham-saham anggota indeks. Jumlah saham anggota dari kedua indeks yang diamati berjumlah 58 saham, 35 saham dari indeks LQ45 dan 23 saham dari indeks Pefindo25, saham-saham tersebut adalah saham-saham yang frekuensi terdaftarnya pada indeks adalah di atas rata-rata semua saham yang pernah terdaftar pada indeks selama periode pengamatan 2010-2015. Analisis ada tidaknya DOWA dan MOYA pada indeks dan saham menggunakan model regresi variabel dummy, dengan return harian atau bulanan sebagai variabel dependen dan dummy hari atau bulan sebagai variabel independen. Model regresi diestimasi menggunakan dua pilihan estimator yaitu metode Ordinary Least Squares (OLS) dan Mode ARCH/GARCH. Estimator yang diaplikasikan pada setiap model tergantung ada tidaknya masalah heterokedastisitas pada data return. DOWA ditemukan terdapat pada indeks LQ45 dan Pefindo25, dengan pola hari senin memiliki return terendah dan hari rabu memiliki return tertinggi. Pada individual saham DOWA lebih banyak terjadi pada LQ45 yaitu pada 74,29 persen saham daripada Pefindo yang hanya terjadi pada 47,38 persen saham. Selisih return hari rabu dengan hari-hari lainnya pada indeks LQ45 berkisar antara 0,15 sampai 0,41 persen, sedangkan pada Pefindo25 selisih tersebut berkisar antara 0,15 sampai 0,32 persen. Pola DOWA pada pasar saham Indonesia diduga telah bergeser dari temuan pola DOWA sebelumnya yaitu senin sebagai hari dengan return terendah dan kamis sebagai hari dengan return tertinggi. MOYA dan DOWA lebih banyak ditemukan pada kelompok saham berkapitalisasi tinggi yaitu LQ45. MOYA ditemukan pada indeks LQ45 dengan pola Maret sebagai bulan dengan return tertinggi dan Agustus sebagai bulan dengan return terendah, sedangkan pada indeks Pefindo25 ditemukan Agustus sebagai bulan dengan return terendah. MOYA pada indeks LQ45 hanya terjadi pada 45,71 persen saham dan MOYA pada indeks Pefindo25 terjadi pada jumlah saham yang lebih sedikit yaitu hanya pada 34,78 persen saham. Bulan Maret pada indeks LQ45 memiliki return 1,18 sampai 8,40 persen lebih tinggi dari bulanbulan lainnya. Rendahnya bulan return pada bulan Agustus diduga dikarenakan adanya pengaruh dari hari libur Idul Fitri yang sering jatuh pada bulan Agustus dan sekitar Agustus pada periode yang diamati. Periode libur diduga menyebabkan turunnya aktivitas perdagangan saham yang akhirnya menurunkan return.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleCalendar Anomaly dan Kapitalisasi Pasar : Analisis Pada Pasar Saham Indonesiaid
dc.subject.keywordDay Of The Week Anomalyid
dc.subject.keywordLq45id
dc.subject.keywordMonth Of The Year Anomalyid
dc.subject.keywordPefindo25id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record