Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Hermanto
dc.contributor.advisorMaulana, Nur Ahmad
dc.contributor.authorPerdana, Nicky Jaka
dc.date.accessioned2025-08-07T10:00:49Z
dc.date.available2025-08-07T10:00:49Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167701
dc.description.abstractInvestasi di pasar modal bergantung pada kondisi laporan keuangan emiten dan faktor makroekonomi yang terjadi. Faktor makroekonomi tersebut dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu faktor dari luar negeri tersebut, yaitu pemberitaan kebijakan moneter. Federal Reserves sebagai bank sentral Amerika Serikat telah mengeluarkan kebijakan Quantitative Easing (QE) untuk menyelamatkan perekonomian mereka yang terpuruk akibat krisis Subprime Mortgage. Kebijakan ini secara tidak langsung menyebabkan adanya aliran modal yang besar ke negara-negara EMEs (Emerging Market Economies). Akan tetapi, tanggal 22 Mei 2013, Chairman The Fed, Ben Bernanke mengumumkan bahwa ada kemungkinan akan diperketatnya kebijakan QE, yang secara tidak langsung menyebabkan berkurangnya toleransi risiko terhadap investasi di EMEs. Pengumuman ini lebih dikenal sebagai Tapering-off. Tahun yang sama terjadi penurunan return dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia. Penurunan ini dapat disebabkan oleh peristiwa pengumuman kemungkinan tapering. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh peristiwa pengumuman terhadap return dan tingkat perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil tersebut dapat memberi tahu kita level dari efisiensi pasar modal Indonesia berdasarkan Hipotesis Pasar Efisien. Metode event study digunakan untuk menjawab tujuan tersebut. Penelitian dilakukan terbatas pada tiga emiten dalam tiap sembilan sektor industri. Emiten pilihan adalah emiten yang memiliki nilai kapitalisasi terbesar dan tidak memiliki efek pengganggu (compounding effect).. Hasil dari penelitian menggunakan market model dari event study adalah adanya abnormal return di sekitar hari periswtiwa, perbedaan return pada sebelum dan sesudah peristiwa di sektor Barang Konsumsi, serta perbedaan tingkat perdagangan pada sebelum dan sesudah peristiwa di sektor Keuangan dan Pertanian saat menggunakan uji beda paired sample t test. Hasil tersebut juga membuktikan bahwa pasar modal Indonesia berada pada level tidak efisien semi kuat.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisis Efisiensi Pasar Saham Indonesia Berdasarkan Abnormal Return dan Trading Volume : Evaluasi Kebijakan Taperingid
dc.subject.keywordHipotesis Pasar Efisienid
dc.subject.keywordReturnid
dc.subject.keywordTaperingid
dc.subject.keywordTrading Volumeid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record