| dc.description.abstract | Pasar modal belum sepenuhnya memanfaatkan potensi ekonomi Indonesia
secara optimal. Perbankan masih menjadi tumpuan dalam menggerakkan ekonomi
padahal pasar modal dapat menyediakan pilihan yang lebih baik dalam memenuhi
kebutuhan pembiayaan perusahaan maupun intsrumen investasi bagi masyarakat.
Efisiensi Anggota Bursa (AB) dalam menjalankan bisnis transaksi efek
seharusnya diperhatikan regulator agar pasar modal Indonesia mampu bersaing
dengan negara lain.
Penelitian ini menilai efisiensi AB melalui Data Envelopment Analysis
(DEA) berdasarkan aset tetap, beban kepegawaian, komisi jasa broker, dan
pendapatan sebagai underwriter serta fund manager. Kemudian efisiensi tersebut
dilihat pengaruhnya terhadap daya saing bisnis transaksi efek beserta variabel lain,
seperti rasio Biaya Operasional per Pendapatan Operasional (BOPO), Capital
Adequacy Ratio (CAR), dan variabel dummy (jenis kepemilikan, fasilitas transaksi,
skala perusahaan).
Berdasarkan hasil analisis diperoleh bahwa efisiensi AB masih rendah
sekitar 0,22. Banyaknya AB bermodal terbatas menyebabkan rendahnya efisiensi
ini. AB dengan skala perusahaan lebih besar memiliki efisiensi lebih tinggi
dibandingkan AB yang skalanya kecil. AB joint venture tentu relatif efisien
karena biasanya memiliki modal yang besar. Persyaratan Modal Kerja Bersih
Disesuaikan (MKBD) sebesar Rp25 miliar dinilai belum cukup memperkuat daya
saing AB. Batas minimum nilai MKBD sebaiknya diubah menjadi Rp100 miliar
sesuai hasil estimasi dengan model regresi. Kenaikan persyaratan ini diharapkan
mendorong AB agar lebih kompetitif dan mampu menguasai pasar yang lebih luas
di ASEAN | |