| dc.description.abstract | Ikan tuna merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor non migas
Indonesia yang memiliki karakteristik sebagai pangan yang mudah rusak dan
memiliki jaringan rantai pasok yang kompleks. Hal ini menjadi sebuah tantangan
tersendiri bagi para pelaku usaha untuk memberikan produk tuna yang memenuhi
standar sehingga tidak mengalami penolakan di negara tujuan. Kondisi ini membuat
sistem penelusuran wajib untuk diterapkan dalam industri tuna. Pemerintah
Republik Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah
mengeluarkan regualasi mengenai pengendalian sistem jaminan mutu dan
keamanan hasil perikanan.
Sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan mencakup pada
penerapan sistem HACCP dan penerapan sistem penelusuran. Penerapan sistem
penelusuran di industri tuna saat ini masih bersifat manual (paper based
traceability) dengan berbagai keterbatasannya, seperti mudah dimanipulasi, adanya
kendala bahasa, tidak dapat mengetahui kondisi dan posisi produk secara langsung,
serta memerlukan tempat penyimpanan berkas yang besar. Keterbatasan dan
kondisi sistem rantai pasok tuna yang kompleks menuntut adanya inovasi di dalam
sistem penelusuran dengan berbasis pada teknologi informasi. Sistem penelusuran
berbasis teknologi informasi diyakini dapat mengatasi keterbatasan dari sistem
penelusuran manual (paper based traceability), seperti dapat memberikan data real
time, dan mampu menyimpan data dalam bentuk digital sehingga dapat
memberikan keakuratan informasi yang lebih baik.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang arsitektur sistem penelusuran rantai
pasok tuna berbasis teknologi informasi dan mengembangkan prototipe aplikasi
sistem penelusuran tuna. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu analisis
model rantai pasok tuna, pengukuran kinerja rantai pasok tuna dengan metode
SCOR, dan pembuatan prototipe sistem penelusuran tuna dengan pendekatan
System Development Life Cycle (SDLC). Pembuatan prototipe dengan pendekatan
SDLC terdiri dari beberapa tahap, yaitu investigasi sistem, pengembangan
arsitektur sistem, pengembangan sistem akuisisi data, analisis sistem dengan Data
Flow Diagram (DFD), desain basis data, dan pengembangan tampilan antar muka
sistem.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur rantai pasok tuna terdiri dari
beberapa aktor, yaitu kapal, transit, Unit Pengolahan Ikan (UPI), transporter,
distributor, retailer, dan pemerintah. Sistem manajemen rantai dilakukan dengan
pendekatan HACCP untuk menjamin keamanan pangan dari produk. Hal ini sangat
penting mengingat keamanan pangan merupakan parameter kinerja prioritas dalam
sistem rantai pasok tuna. Hasil pengukuran kinerja rantai pasok tuna menunjukkan
bahwa sistem rantai pasok tuna memiliki nilai 92.60%. Hal ini mengindikasikan
kinerja rantai pasok tuna telah berjalan dengan baik dan dapat dikembangkan
menuju sistem penelusuran berbasis teknologi informasi. Hasil investigasi sistem
menunjukkan kebutuhan sistem yang dikembangkan menjadi keunggulan sistem,
seperti memungkinkan setiap aktor yang terlibat untuk mengakses sistem dan melihat proses dan kondisi produk secara real time, memungkinkan setiap aktor
untuk melihat proses pengolahan dan pengendalian jaminan mutu yang dilakukan
di setiap tahapan proses pengolahan tuna loin, memungkinkan setiap aktor
menginput data yang diperlukan, menyediakan Standard Operating Procedure
(SOP) untuk setiap tahapan pengolahan tuna loin dan melampirkan dokumen yang
dibutuhkan, serta menyediakan tampilan final report untuk manajer UPI dan dapat
diakses oleh setiap aktor yang terlibat. Pengembangan arsitektur sistem
menghasilkan arsitektur dengan sistem fungsional berlapis. Pengembangan sistem
akuisisi data menunjukkan penggunaan sensor seperti RFID, GPS, dan CCTV pada
setiap aktor sesuai dengan kebutuhannya. Hasil analisis sistem dengan DFD
menunjukkan bahwa terdapat diagram konteks, diagram level 1, diagram level 2,
dan diagram level 3. Desain basis data menghasilkan tujuh belas file untuk
pengembangan prototipe sistem. Pengembangan prototipe sistem menghasilkan
tampilan antar muka sistem yang terdiri dari halaman registrasi aktor, halaman
proses pengolahan, dan halaman pengujian laboratorium.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, penelitian ini telah
mengembangkan prototipe aplikasi sistem penelusuran tuna berbasis teknologi
informasi. Sistem ini memiliki berbagai keunggulan untuk mengatasi keterbatasan
dari sistem penelusuran manual (paper based traceability) yang digunakan saat ini. | |