Show simple item record

dc.contributor.advisorAchsani, Noer Azam
dc.contributor.advisorAndati, Trias
dc.contributor.authorAlena, Ernawati
dc.date.accessioned2025-08-07T09:58:54Z
dc.date.available2025-08-07T09:58:54Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167667
dc.description.abstractRisiko sistematis (systematic risk) diukur dengan menggunakan beta (β) pasar, yaitu beta dari suatu sekuritas relatif terhadap risiko pasar. Penggunaan beta pasar sebagai pengukur risiko dikarenakan beta pasar mengukur respon dari masing-masing sekuritas terhadap pergerakan pasar. Beta juga digunakan untuk mengukur volatilitas dari return suatu saham atau portofolio dalam kurun waku tertentu. Nilai beta suatu sekuritas merupakan hal penting bagi investor karena melalui nilai beta investor dapat mengalisis sekuritas tersebut dan nilai beta juga menjadi pertimbangan investor dalam membentuk suatu portofolio. Perubahanperubahan yang terjadi pada faktor makro ekonomi berpotensi untuk meningkatkan atau menurunkan risiko sistematis. Penelitian mengenai beta sektor sebagai proxy imbal hasil dan indikator resiko di pasar saham berdasarkan hasil Hadad et al. (2004) dalam periode 1996-2004 nilai beta berfluktuasi dengan nilai negatif dan positif, namun rata-rata nilai beta relatif sejalan dengan pasar. Namun penelitian ini belum memasukan faktor makro ekonomi yang diduga memiliki pengaruh terhadap risiko sistematis di pasar modal sehingga menarik untuk dilakukan penelitian mengenai dampak faktor makro ekonomi terhadap beta indeks sektor di Bursa Efek Indonesia periode 2001-2015. Beta saham yang digunakan adalah beta saham 10 indeks sektoral yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu beta sektor pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, barang konsumsi, manufaktur, properti, infrastruktur, keuangan dan perdagangan. Variabel makroekonomi yang digunakan adalah variabel makroekonomi eksternal, fedrate, indeks dow jones , oil price dan variabel makroekonomi internal yaitu inflasi, indeks produksi industri (IPI), nilai tukar (KURS) dan suku bunga (SBI). Metode penelitian yang digunakan adalah analisis VAR/VECM menggunakan impulse response function (IRF) dan forecast error variance decomposition (FEVD) dengan periode penelitian selama 2001-2015. Hasil penelitian menunjukkan Sektor pertanian dan pertambangan yang berada pada klasifikasi sektor primer merupakan sektor yang sahamnya agresif dalam merespon perubahan kondisi pasar karena memiliki nilai rata-rata beta paling tinggi yaitu 1.42 dan 1.4. Properti dan Real Estate merupakan sektor yang memiliki karakter saham devensif karena memiliki nilai beta rata-rata yang sangat rendah yaitu 0.03. Berdasarkan hasil analisis impulse respon function (IRF) didapatkan bahwa sektor pertanian, aneka industri, barang konsumsi dan keuangan merupakan indeks sektor yang mayoritas merespon positif guncangan variabel makroekonomi. Variabel makroekonomi yang paling berpengaruh terhadap peningkatan risiko/nilai beta adalah inflasi, suku bunga, nilai kurs dan harga minyak dunia dalam periode jangka panjangnya. Sehingga diketahui bahwa faktor makroekonomi yang banyak berkontribusi terhadap pergerakan beta indeks sektoral adalah yang berasal dari dalam negri yaitu inflasi dan suku bunga, kondisi ini menunjukan bahwa pasar modal Indonesia tidak terlalu dipengaruhi oleh guncangan variabel makro eksternal. Implikasi manajerial dalam penelitian ini yaitu nilai beta indeks sektoral dapat dijadikan acuan investor dalam membentuk portofolio investasi, karena beta bersifat dinamis yang pergerakannya dapat dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi maka, investor perlu memberikan perhatian terhadap variabel makroekonomi yaitu harga minyak dunia, inflasi, tingkat suku bunga dan nilai kurs karena variabel-variabel tersebut tersebut memberikan kontribusi paling tinggi dalam mempengaruhi pergerakan beta indeks sektoral. Bagi otoritas pengelola bursa, sebaiknya informasi mengenai beta indeks sektoral dapat tersedia bagi masyarakat atau investor. Bagi perusahaan/emiten yang terdaftar di BEI diharapkan untuk memperhatikan guncangan-guncangan yang terjadi pada variabel makroekonomi khususnya yaitu harga minyak dunia, inflasi, tingkat suku bunga dan nilai kurs sehingga kinerja perusahaan tetap terjaga dan tidak menggiring sentiment negatif investor terhadap saham perusahaan di pasar modal.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleDampak Guncangan Variabel Makroekonomi Terhadap Beta Indeks Sektoral Di Bursa Efek Indonesia Periode 2001-2015id
dc.subject.keywordForecast Error Variance Decompositionid
dc.subject.keywordBetaid
dc.subject.keywordImpulse Response Functionid
dc.subject.keywordIndeks Saham Sektoralid
dc.subject.keywordVariabel Makroekonomiid
dc.subject.keywordUji Stasioneritasid
dc.subject.keywordUji Stabilitas Varid
dc.subject.keywordUji Kointegrasiid
dc.subject.keywordVecmid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record