| dc.description.abstract | Di abad 21, Industri perbankan dihadapkan pada berbagai kombinasi
tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Keunggulan kompetitif yang unik
diperlukan Bank untuk mampu bertahan dalam tekanan. Menurut (Widyastuti dan
Armanto 2013) persaingan antar bank dapat terjadi karena perebutan sumber daya
yang produktif seperti giro, tabungan, deposito dan penyaluran kredit. Selain itu,
bank juga menghadapi kompetisi dalam upaya menarik nasabah sebanyakbanyaknya
dengan berbagai hadiah dan program promosi. Oleh karena itu, bank
perlu mengembangkan produk dan jenis layanan baru yang didukung dengan
inovasi teknologi diperlukan sehingga mampu menekan biaya produksi dan
distribusi.
Kompetisi antar bank mampu berpengaruh positif terhadap tingkat
kesehatan perbankan melalui transmisi efisiensi (Schaeck dan Čihák 2008).
Sedangkan (Boot dan Schmeijts 2005) berpendapat bahwa korelasi negatif antara
tingkat kompetisi dan efisiensi berdasarkan The Competition-Inefficiency
Hypothesis dapat terjadi pada struktur perbankan dengan tingkat persaingan yang
tinggi.
Melambatnya pertumbuhan kredit selama 3 tahun terakhir (2013 – 2015) di
Indonesia telah menekan pendapatan industri perbankan yang 75% nya masih
disumbang oleh pendapatan bunga. Dua tantangan yang kini dihadapi bank-bank
di Indonesia yaitu pertama, terus merangkaknya NPL, kedua yaitu melonjaknya
biaya operasional (Overhead Cost) yang ditanggung bank-bank karena ada
periode dimana bank-bank berlomba memperluas saluran distribusi (delivery
channel) terutama jaringan kantor fisik yang membutuhkan investasi dan
menimbulkan biaya operasional yang lebih besar (Karnoto 2016).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis dari
Kantor Kas milik Bank BTN di wilayah DKI Jakarta. Identifikasi juga dilakukan
pada faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi dari kantor kas yaitu
biaya sewa gedung, biaya tenaga kerja, biaya operasional lainnya, kompetensi
kepala kantor kas dan lokasi kantor kas. Analisis kinerja efisiensi dilakukan pada
112 kantor kas di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2013 – 2015 dengan
menggunakan Analisa Two Stage DEA. Lebih lanjut, analisa DEA menggunakan
Variable Return to Scale (VRS) dengan pendekatan maksimisasi output. Teknik
regresi berganda menggunakan Ordinary Least Square (OLS) digunakan untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi kantor kas pada
2015.
Hasil analisa efisiensi memperlihatkan bahwa rata-rata skor efisiensi kantor
kas bank BTN di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2013–2015 secara relatif masih
belum efisien. Meskipun demikian, skor efisiensi mengalami peningkatan dari
69.29% pada tahun 2013 menjadi 76.08% pada tahun 2015. Analisis regresi
menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan secara statistik mempengaruhi
skor efisiensi kantor kas pada tahun 2015 yaitu biaya sewa gedung dan biaya
tenaga kerja. Sementara itu, biaya operasional lainnya tidak mempengaruhi tingkat efisiensi. Variabel dummy kompetensi kepala kantor kas dan lokasi kantor
kas mempengaruhi tingkat efisiensi kantor kas bank btn di wilayah DKI Jakarta
pada tingkat signifikansi (α) 10%. Kantor Kas pada lokasi yang berbeda memiliki
rata-rata tingkat efisiensi yang berbeda-beda pula. Pemilihan SDM yang
berkualitas dan kompeten dibidangnya dan pemilihan lokasi kantor kas yang tepat
akan mempengaruhi keberhasilan penghimpunan dana masyarakat sehingga dapat
mempengaruhi tingkat efisiensi kantornya. | |