| dc.description.abstract | Kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam organisasi mempuyai harapan
untuk terus berkembang didalam organisasi agar visi dan misi organisasi bisa
tercapai. Dalam organisasi publik atau pemerintahan terdapat instrumen –
instrumen yang dapat mengembangkan keahlian pegawai menjadi lebih baik.
Pelatihan sebagai salah satu contoh cara untuk mengembangkan potensi pegawai
agar lebih baik kembali. Ditemukan bahwa kinerja Pegawai Negeri Sipil (PNS) di
Indonesia berkualitas buruk dan mempunyai motivasi rendah, peranan pelatihan
menjadi penting untuk mengembangkan kinerja PNS.
Badan Karantina Pertanian (Barantan) merupakan salah satu unit eselon I di
Kementerian Pertanian. Sebagai institusi pemerintah, Barantan mempunyai
harapan untuk mempunyai SDM yang bermutu, dengan begitu Barantan
mempunyai program pelatihan yaitu Pengenalan Tugas Karantina (Langaskara)
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan SDM.Tujuan Barantan
menyelenggarakan pelatihan tersebut untuk membekali calon pegawai negeri sipil
(CPNS) pengetahuan mengenai tugas – tugas perkarantinaan.Pada dasarnya pola
pengadaan dan pengembangan sumberdaya manusia Badan Karantina Pertanian
(2005) adalah untuk meningkatkan kemampuan CPNS sebelum memasuki dunia
kerja di Barantan.
Pola pengadaan dan pengembangan sumber daya manusia Badan Karantina
Pertanian disusun sebagai acuan dalam penentuan kebijakan yang berkaitan
dengan SDM Barantan khususnya Langaskara dan bagaimana motivasi PNS di
dalam menyelesaikan pekerjaan. Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana
pengaruh pelatihan langaskara terhadap kinerja karyawan, pelatihan langaskara
terhadap motivasi, dan motivasi terhadap kinerja karyawan.
Melalui perhitungan menggunakan Structural Equation Modelling
(SEM)dengan metode quota sampling pengaruh pelatihan terhadap kinerja
karyawan didapatkan skor nilai 3.01 artinya berpengaruh positif signifikan,
motivasi terhadap kinerja didapatkan skor nilai 2.7 artinya bepengaruh positif
signifikan, dan motivasi terhadap kinerja mendapatkan skor nilai 4.49 yang
artinya bepengaruh positif signifikan. Implikasi manajerial yang dapat digunakan
sebagai masukan adalah institusi perlu melakukan evaluasi program Langaskara,
memberikan fasilitas sesuai kebutuhan pegawai, dan mempertahankan motivasi
dan di tingkatkan dengan memakai unsur teknologi dalam penerapan pelatihan
menggunakan metode ceramah atau diskusi. | |