Show simple item record

dc.contributor.advisorAchsani, Noer Azam
dc.contributor.advisorSasongko, Hendro
dc.contributor.authorHasanudin, Tubagus Maulana
dc.date.accessioned2025-08-07T09:54:19Z
dc.date.available2025-08-07T09:54:19Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167581
dc.description.abstractSalah satu sektor bisnis di Indonesia yang terkena dampak perlambatan ekonomi global adalah sektor pertambangan. Return saham sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan sektor dengan kinerja terendah dibandingkan delapan sektor lainnya dan berada di bawah return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari tahun 2011 sampai 2015. Pada tingkat domestik, terjadi penurunan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertambangan sejak tahun 2012 akibat penurunan permintaan komoditas yang diikuti harga yang rendah. Hal ini berdampak pada terganggunya cash flow perusahaan pertambangan yang ditunjukkan dengan semakin tingginya Non Performing Loan (NPL). Penurunan produktivitas perusahaan pertambangan terlihat dengan penurunan rasio profitabilitas dan rasio pasar sedangkan struktur modal memiliki tren positif selama periode 2011 sampai 2015. Perusahaan pertambangan perlu mempertimbangkan biaya dan manfaat atas penggunaan utang perusahaan dengan memperhatikan juga tingkat risiko yang harus dihadapi. Penelitian terkait struktur modal sebagian besar mengkaji determinan struktur modal berupa karakteristik perusahaan maupun makroekonomi. Dampak kebijakan utang suatu perusahaan terhadap kinerja keuangan merupakan salah satu keputusan bisnis yang penting (Sadeghian et al. 2012). Penelitian sebelumnya juga mengkaji pengaruh struktur modal terhadap kinerja keuangan yang ditunjukkan melalui rasio profitabilitas perusahaan (Abor 2005; V tavu 2015). Pada umumnya, dua analisis mengenai struktur modal tersebut dilakukan secara terpisah sedangkan kedua bahasan tersebut akan dianalisis pada penelitian ini. Pendekatan trade-off dan pecking order digunakan sebagai dasar teori dalam penelitian ini. J eveer (2013) memaparkan bahwa teori trade-off dan pecking order merupakan teori yang paling berpengaruh dalam menganalisis karakteristik perusahaan. Perbedaan teori trade-off dan pecking order juga memiliki hipotesis yang berlawanan mengenai hubungan struktur modal dan kinerja keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi perilaku struktur modal dengan fokus pada analisis determinan struktur modal dan pengaruh struktur modal terhadap kinerja keuangan pada perusahaan pertambangan di BEI periode 2011 sampai 2015. Penelitian menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi unbalanced data panel, baik dengan metode data panel statis maupun dinamis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan perusahaan di BEI dan data makroekonomi yang diperoleh dari Bank Indonesia dan World Bank. Pada analisis determinan struktur modal, struktur modal menunjukkan variabel terikat yang direpresentasikan melalui empat variabel, yaitu rasio utang jangka pendek terhadap total aset (STDTA), utang jangka panjang terhadap total aset (LTDTA), total utang terhadap total aset (TDTA), dan total utang terhadap total ekuitas (TDTE). Variabel bebas terdiri atas ukuran perusahaan (SIZE), profitabilitas (ROA dan ROE), pertumbuhan (ASGR), struktur aset (TANG), Non Debt Tax Shield (NDTS), likuiditas (CR), usia perusahaan (AGE) yang tergolong karakteristik perusahaan sedangkan variabel bebas lainnya adalah harga minyak dunia (OP), tingkat inflasi (INFR), pertumbuhan PDB (GDPGR), nilai tukar (EXCHR), dan tingkat suku bunga (INTR) yang merupakan faktor makroekonomi. Pada analisis pengaruh struktur modal terhadap kinerja keuangan, keempat proxy struktur modal berperan sebagai variabel bebas sedangkan variabel terikat terdiri atas Return on Assets (ROA), Return on Equity (ROE), Price to Earnings Ratio (PER), dan TOBINSQ. Hasil analisis deskriptif menunjukkan perilaku struktur modal sektor pertambangan menerapkan penggunaan utang dan ekuitas secara seimbang meskipun terdapat kecenderungan penggunaan utang yang lebih besar dibandingkan ekuitas. Pada tingkat subsektor, terdapat perbedaan perilaku struktur modal. Subsektor pertambangan batubara dan subsektor pertambangan logam dan mineral menerapkan kebijakan low leverage sedangkan subsektor pertambangan migas dan subsektor pertambangan batu-batuan menerapkan kebijakan high leverage. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal tidak hanya karakteristik perusahaan, melainkan variabel makroekonomi yang disesuaikan dengan variabel dependen struktur modal. Faktor-faktor yang mempengaruhi STDTA adalah ukuran perusahaan, pertumbuhan, struktur aset, likuiditas, harga minyak mentah, dan inflasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi LTDTA adalah ukuran perusahaan dan pertumbuhan. Berbeda halnya dengan menggunakan proxy TDTA, faktor-faktor yang mempengaruhi terdiri atas ukuran perusahaan, profitabilitas, pertumbuhan, struktur aset, likuiditas, harga minyak mentah, dan inflasi. Lain halnya ketika menggunakan variabel TDTE sebagai proxy struktur modal, faktor-faktor yang mempengaruhi terdiri atas struktur aset, likuiditas, usia perusahaan, harga minyak mentah, inflasi, dan nilai tukar. Pada analisis struktur modal terhadap kinerja keuangan juga menunjukkan hasil estimasi yang beragam sesuai variabel dependen. Struktur modal yang diukur dengan TDTE berpengaruh signifikan negatif terhadap ROA. Selain itu, struktur modal yang diukur dengan LTDTA berpengaruh signifikan positif terhadap ROE sedangkan struktur modal yang diukur dengan TDTE berpengaruh signifikan negatif terhadap ROE. Struktur modal yang diukur dengan STDTA dan LTDTA berpengaruh signifikan negatif terhadap PER sedangkan struktur modal yang diukur dengan TDTE berpengaruh signifikan positif terhadap PER. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa perilaku struktur modal pada sektor pertambangan didominasi teori pecking order. Perilaku struktur modal sektor pertambangan tergolong dinamis dengan tingkat kecepatan struktur modal yang lebih tinggi dibandingkan tingkat kecepatan struktur modal pada seluruh sektor di BEI. Para manajer harus mempertimbangkan aspek internal maupun eksternal dalam menjalankan bisnis perusahaan secara berhati-hati baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, investor harus memperhatikan kondisi perusahaan baik internal maupun kondisi bisnis pertambangan secara makro. Pemerintah dan regulator lainnya juga berperan dalam sinergi kebijakan baik terkait operasional bisnis perusahaan pertambangan, terutama dalam kebijakan struktur modal.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titlePerilaku Struktur Modal dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja Keuangan: Studi Empiris Pada Perusahaan Pertambangan Di Bei Periode 2011-2015id
dc.subject.keywordBursa Efek Indonesiaid
dc.subject.keywordData Panelid
dc.subject.keywordDeterminan Struktur Modalid
dc.subject.keywordKinerja Keuanganid
dc.subject.keywordSektor Pertambanganid
dc.subject.keywordReturn On Assets (Roa)id
dc.subject.keywordReturn On Equity (Roe)id
dc.subject.keywordPrice To Earnings Ratio (Per)id
dc.subject.keywordTobinsqid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record