| dc.description.abstract | Pelabuhan peti kemas adalah salah satu jenis pelabuhan yang khusus
melayani pengiriman logistik yang telah dikemas dalam bentuk peti. Keberadaan
pelabuhan, khususnya pelabuhan peti kemas, sangat penting bagi perkembangan
ekonomi di daerah bahkan untuk negara. Terdapat tiga kerangka komponen utama
dalam proses bongkar muat yang harus dijaga interaksinya, yaitu: input, proses
dan output. Dalam pelabuhan peti kemas, input merupakan kedatangan kapal peti
kemas dan kedatangan peti kemas itu sendiri. Untuk prosesnya adalah berupa
pelayanan terhadap kapal dan proses bongkar muat peti kemas. Sedangkan
output berupa jumlah peti kemas yang terangkut.
Proses bongkar muat peti kemas memiliki indikator yang berfungsi untuk
mengukur produktivitas sekaligus menjadi indikator kualitas pelayanan peti
kemas. Secara umum kualitas pelayanan peti kemas diukur sampai seberapa lama
proses bongkar muat peti kemas tersebut dilaksanakan. Semakin cepat
pelaksanaan bongkar muat dilaksanakan maka akan membuat pihak pelayaran
semakin puas. Kinerja pihak operator pelabuhan dan juga alat bongkar muat
adalah faktor utama dalam proses bongkar muat. Operasional bongkar
mengutamakan posisi kerja operator, dikarenakan kecepatan bongkar muat
menggunakan crane (alat bongkar muat) sepenuhnya berada pada kendali operator.
Dengan beban dan resiko kerja yang berat, menjadi operator dituntut untuk selalu
maksimal dan meminimalkan kesalahan dalam setiap pekerjaannya.
PT XYZ merupakan perusahaan terminal kontainer kelas dunia yang
bekerjasama dengan pengelola pelabuhan bertaraf internasional Mitsui Co.Ltd dan
PSA Internasional. Terminal kontainer ini adalah proyek besar Perusahaan
Pelabuhan Indonesia (Pelindo II) untuk mewujudkan pembangunan pelabuhan
bertaraf internasional di Indonesia. Dilengkapi dengan kapasitas 4,5 juta TEUs,
(twenty-foot equivalent unit) sehingga memungkinkan kapal petikemas kelas
Triple E melewati Indonesia tanpa perlu transshipment di pelabuhan lain. Hingga
sekarang kapal Triple E merupakan kelas terbesar dari kapal petikemas dengan
kemampuan membawa hingga 12.000–15.000 TEUs. Fasilitas terminal pelabuhan
existing di Pelabuhan Tanjung Priok hanya melayani kapal dengan kapasitas
maksimum 6.000 TEUs, sedangkan tren pertumbuhan penggunaan kapal
petikemas di dunia menggunakan kapal dengan kapasitas >10.000 TEUs dalam
rangka mengurangi biaya logistik per TEUs, sehingga untuk melayani kapal
Direct Call dengan ukuran besar harus disiapkan fasilitas yang memadai. Terkait
tingginya aktivitas bongkar muat tersebut maka dibutuhkannya perencanaan yang
matang dengan dilakukannya tiga kali percobaan operasional (simulasi) bongkar
muat pada PT XYZ sebelum pelaksaan operasional dimulai secara resmi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode
deskriptif dan desain komparatif. Total sample yang diambil sebesar 15 orang
operator. Teknik pengolahan data dalam penelitian ini adalah menggunakan uji
sign test, uji anova, wawancara dengan responden dan melakukan cross tab untuk
mengetahui kondisi karakteristik responden (operator) dalam hubungannya dengan dampak percobaaan operasional bongkar muat yang dirasakan responden
(operator).
Berdasarkan tujuannya bahwa penelitian ini berhasil menganalisis
perbedaan dari 3 kali percobaan operasional bongkar muat pada PT XYZ.
Terdapat perbedaan yang signifikan yang terjadi dari tiga kali percobaan yang
dilakukan. Hasil rata – rata per boks yang didapat pada bulan Mei hanya 11 boks
per jam, Juli 17 boks per jam dan Agustus 20 boks per jam. Tetapi hasil dari rata –
rata perboks per jam tersebut masih dibawah standar yang ditetapkan oleh
perusahaan yaitu 27 – 30 boks per jam. Padahal PT XYZ sudah menggunakan
sistem pada proses bongkar muat, yaitu Terminal Operating System dengan nama
COSMOS. Seharusnya dengan menggunakan sistem tersebut, operator dilapangan
dapat langsung mengetahui letak yang tepat untuk kontainer sesuai sifat kontainer
dan jadwal pengirimannya serta waktu bongkar muat akan menjadi lebih singkat.
Oleh sebab itu implikasi manajerial yang dirumuskan untuk dapat
memenuhi target yang ditetapkan oleh perusahaan adalah melakukan perbaikan
percobaan lanjutan dengan memperhatikan berbagai kesalahan operasional
percobaan bongkar muat yang masih terjadi dan pengenalan yang lebih baik
terhadap alat dan sistem yang digunakan serta percobaan lanjutan tersebut tidak
perlu memperhitungkan karakteristik operator baik itu usia, tingkat pendidikan
dan pengalaman bekerja. Sebab percobaan lanjutan memerlukan adanya pelatihan
yang cukup agar operator lebih menguasai sistem yang digunakannya. | |