Show simple item record

dc.contributor.advisorSyarief, Rizal
dc.contributor.advisorRifin, Amzul
dc.contributor.authorPujonggo, R. Yugo
dc.date.accessioned2025-08-07T09:52:44Z
dc.date.available2025-08-07T09:52:44Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167547
dc.description.abstractInspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan memiliki tugas pokok dan fungsi dalam melakukan pengawasan internal di lingkungan Kementerian Perdagangan. Hal tersebut tercermin dalam Renstra Kemendag periode 2015-2019 pada bagian Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Perdagangan. Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan belum memiliki desain perencanaan dalam mengelola aktivitasnya, sehingga belum dapat digunakan oleh Inspektur Jenderal selaku pimpinan unit dalam mengarahkan dan membuat keputusan. Hal ini juga menjadi dasar jika perencanaan yang dilakukan belum memiliki arah yang tepat, sehingga hanya dibuat sebagai acuan bagi pencapaian indikator kinerja tahunan, tanpa melihat faktor atau aspek lainnya yang memilki pengaruh terhadap performance dari Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan. Oleh karena itu, dalam menghadapi tantangan tersebut dan sebagai langkah antisipasi di masa depan, maka diperlukan suatu arsitektur strategik atas perbaikan bisnis model pada Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan, serta hasilnya sangat diperlukan untuk dirumuskan guna menghadapi ancaman maupun penyimpangan yang terus berkembang. Arsitektur strategik yang digunakan juga harus mampu memetakan atas faktor atau kondisi yang berbeda, dalam hal ini adalah Business Model Canvas yang memiliki identifikasi pada 9 (sembilan) elemen berkaitan. Arsitektur Strategik dibuat untuk menentukan desain strategi dan menentukan aktivitas yang dibutuhkan berdasarkan identifikasi faktor internal dan eksternal. Pada sektor pemerintahan, dalam hal ini khususnya adalah Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan Republik Indonesia sebagai pengawas internal, arsitektur strategik akan menjadi alat yang sangat berguna dalam menggambarkan kondisi manajemen dari suatu unit kerja dan apa yang dibutuhkan untuk meningkatkannya melalui kegiatan atau langkah yang didesain per tahunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi dan memetakan kondisi existing dalam Business Model Canvas; mengidentifikasi dan menganalisis faktor lingkungan internal dan eksternal yang menjadi peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan; merumuskan program perbaikan pada Business Model Canvas; dan merumuskan arsitektur strategik yang tepat untuk diterapkan. Adapun penelitian ini menggunakan data primer dari observasi, kuesioner, wawancara, Focused Group Discussion, dan data sekunder dari Laporan Kinerja. Analisis SWOT dan modifikasi dari Bisnis Model Canvas for Government and/or Non Profits digunakan dalam menganalisis data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemetaan atas kondisi existing berhasil dirumuskan melalui pendekatan Business Model Canvas for Government and/or Non Profits dengan 9 blok elemen yaitu Co-Creators, Value Propostion, Channels, Relations, Value Streams – Returns, Key Resources, Key Activities, Key Partners, dan Value Streams – Outlay and Costs. Identifikasi atas faktor internal dan eksternal menghasilkan beberapa pertimbangan yaitu belum adanya sistem informasi pengawasan, belum ada quality control, belum ada kerjasama dengan pihak diluar sektor pemerintahan, asistensi belum sepenuhnya dipimpin oleh auditor kompeten, isu global terkait kurangnya jumlah kualitas dan kuantitas APIP, belum ada business process pengawasan internal, kurangnya kerjasama dengan APIP lain khususnya di daerah, belum ada optimalisasi penganggaran dengan skala prioritas, dan perlunya menjawab arahan Presiden RI dalam mencapai Level 3 IACM, serta achievement lainnya yang dibutuhkan. Berdasarkan hal tersebut maka program perbaikan yang dinilai perlu dilakukan adalah dengan menambahkan aspek informasi tekonologi, melakukan quality control, studi banding dengan APIP K/L lain dan sektor BUMN/swasta, asistensi dengan penanggungjawab pengendali teknis yang kompeten, pengembangan SDM bekerjasama dengan BPKP, membuat dan mengintegrasikan business process pengawasan internal dengan PKPT, menjalin kemitraan dengan APIP Prov/Kab/Kota, optimalisasi penganggaran dengan skala prioritas, dan meraih capaian baru berypa level 3 dalam IACM, Zona Integritas (ZI), serta sertifikasi audit internal sistem manajemen mutu (ISO 9001:2008). Keseluruhan program perbaikan tersebut dirumuskan dalam arsitektur strategik yang berisi rancangan program per tahun.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleArsitektur Strategik Inspektorat Jenderal Kementrian Perdagangan Republik Indonesiaid
dc.subject.keywordAnalisis Swotid
dc.subject.keywordArsitektur Strategikid
dc.subject.keywordBusiness Model Canvas For Government And/Or Non Profitsid
dc.subject.keywordInspektoral Jenderalid
dc.subject.keywordKementrian Perdaganganid
dc.subject.keywordManajemen Strategikid
dc.subject.keywordSektor Pemerintahanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record