Show simple item record

dc.contributor.advisorWijayanto, Hari
dc.contributor.advisorMaulana, Agus
dc.contributor.authorAnggraeni, Elfrina
dc.date.accessioned2025-08-07T09:52:27Z
dc.date.available2025-08-07T09:52:27Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167541
dc.description.abstractTerbentuknya proses kolaborasi diyakini menjadi salah satu tantangan bagi pengelola bisnis dalam suatu organisasi. Hal ini terkait dengan adanya kerjasama dan inisiatif bersama yang muncul diantara beberapa organisasi yang terkait dengan proses kolaborasi. Menurut penelitian Transport Intelligence (2011) menunjukkan bahwa lebih dari 90% perusahaan manufaktur akan menerapkan inisiatif kolaborasi dalam bisnisnya. Strategi kolaborasi dinilai dapat meningkatkan efisiensi diantara rantai pasok organisasi dan memberikan solusi bagi permasalahan organisasi terkait dengan penciptaan efisiensi dalam proses binis berjalannya (Blome et al. 2013). Menurut Christoper (2011) untuk beberapa perusahaan, biaya logistik merupakan hal yang signifikan dari total biaya produksi, sehingga banyak perusahaan selalu melakukan perbaikan dalam prosesnya, sehingga hal ini dapat diimplementasikan pada Pertamina Direktorat Gas selaku perusahaan induk yang membawahi tujuh Anak Perusahaan (AP) dimana logistik adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses pengadaan barang. Tren penurunan nilai jual komoditi minyak dan gas bumi mengalami pelemahan penjualan dan pendapatan usaha, Pertamina melalui Direktorat Gas mencatat penurunan laba bersih sebesar 60 juta USD. Oleh karenanya, muncul inisiatif untuk melakukan efisiensi dengan menerapkan konsep kolaborasi pada operasi pembelian dan pengiriman barang pada proyek-proyek berjalan yang dikelola oleh Anak Perusahaan (AP) Pertamina Direktorat Gas. Pomponi et al. (2014) mengungkap kerjasama dalam bidang kolaborasi logistik dalam suatu bisnis dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Linn (2011) dalam penelitian mengenai analisis biaya manfaat menyatakan hal ini dapat bermanfaat untuk menentukan berapa uang yang dihemat dalam menentukan suatu nilai ekonomi. Penelitian ini akan meneliti proses pengadaan barang pada tiga AP khusus pengadaan barang material/parts. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder yang digunakan adalah daftar pembelian material/parts dari tiga AP PT Badak LNG, PT Donggi, dan PT Gas selama kurun waktu 2013 hingga 2015. Data primer didapatkan dari wawancara narasumber. Metodologi yang digunakan pada penelitian adalah dengan analisis rantai nilai dan pengukuran analisa biaya dan manfaat dengan rasio Benefit/Cost (B/C). Dalam proses pengadaan barang masing-masing AP memiliki kesamaan alur proses yang digambarkan dengan analisis rantai nilai yang menunjukkan kelemahan dan kekuatan proses bisnis berjalan. Analisis manfaat kolaborasi pengadaan barang pada AP Gas yang diterapkan pada material/parts yang sudah dilakukan filtrasi terlebih dahulu sehingga pada tahapan ini akan dilakukan pengolahan data seperti yang dijelaskan bahwa analisis konsep kolaborasi pengadaan AP Gas merupakan analisa yang mengukur efisiensi sisi biaya pengadaan material/parts dan efektivitas proses dari ketiga AP Gas berdasarkan data stock opname ketiga AP pada tahun 2015. Proses ini didukung oleh teori kolaborasi horizontal yang...dst.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titlePerancangan Strategi Kolaborasi Pengadaan Barang Pada Anak Perusahaan Pertamina Direktorat Gasid
dc.subject.keywordAnalisis Biaya Manfaatid
dc.subject.keywordEfisiensiid
dc.subject.keywordPengadaanid
dc.subject.keywordStrategi Kolaborasiid
dc.subject.keywordValue Chainid
dc.subject.keywordAnalisa Disbenefitid
dc.subject.keywordAnalisis Benefit-Cost Ratioid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record