| dc.description.abstract | Terbentuknya proses kolaborasi diyakini menjadi salah satu tantangan bagi
pengelola bisnis dalam suatu organisasi. Hal ini terkait dengan adanya kerjasama
dan inisiatif bersama yang muncul diantara beberapa organisasi yang terkait
dengan proses kolaborasi. Menurut penelitian Transport Intelligence (2011)
menunjukkan bahwa lebih dari 90% perusahaan manufaktur akan menerapkan
inisiatif kolaborasi dalam bisnisnya. Strategi kolaborasi dinilai dapat
meningkatkan efisiensi diantara rantai pasok organisasi dan memberikan solusi
bagi permasalahan organisasi terkait dengan penciptaan efisiensi dalam proses
binis berjalannya (Blome et al. 2013). Menurut Christoper (2011) untuk beberapa
perusahaan, biaya logistik merupakan hal yang signifikan dari total biaya produksi,
sehingga banyak perusahaan selalu melakukan perbaikan dalam prosesnya,
sehingga hal ini dapat diimplementasikan pada Pertamina Direktorat Gas selaku
perusahaan induk yang membawahi tujuh Anak Perusahaan (AP) dimana logistik
adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses pengadaan barang. Tren penurunan
nilai jual komoditi minyak dan gas bumi mengalami pelemahan penjualan dan
pendapatan usaha, Pertamina melalui Direktorat Gas mencatat penurunan laba
bersih sebesar 60 juta USD. Oleh karenanya, muncul inisiatif untuk melakukan
efisiensi dengan menerapkan konsep kolaborasi pada operasi pembelian dan
pengiriman barang pada proyek-proyek berjalan yang dikelola oleh Anak
Perusahaan (AP) Pertamina Direktorat Gas. Pomponi et al. (2014) mengungkap
kerjasama dalam bidang kolaborasi logistik dalam suatu bisnis dapat mengurangi
biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Linn (2011) dalam penelitian
mengenai analisis biaya manfaat menyatakan hal ini dapat bermanfaat untuk
menentukan berapa uang yang dihemat dalam menentukan suatu nilai ekonomi.
Penelitian ini akan meneliti proses pengadaan barang pada tiga AP khusus
pengadaan barang material/parts.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data
primer. Data sekunder yang digunakan adalah daftar pembelian material/parts dari
tiga AP PT Badak LNG, PT Donggi, dan PT Gas selama kurun waktu 2013
hingga 2015. Data primer didapatkan dari wawancara narasumber. Metodologi
yang digunakan pada penelitian adalah dengan analisis rantai nilai dan
pengukuran analisa biaya dan manfaat dengan rasio Benefit/Cost (B/C). Dalam
proses pengadaan barang masing-masing AP memiliki kesamaan alur proses yang
digambarkan dengan analisis rantai nilai yang menunjukkan kelemahan dan
kekuatan proses bisnis berjalan. Analisis manfaat kolaborasi pengadaan barang
pada AP Gas yang diterapkan pada material/parts yang sudah dilakukan filtrasi
terlebih dahulu sehingga pada tahapan ini akan dilakukan pengolahan data seperti
yang dijelaskan bahwa analisis konsep kolaborasi pengadaan AP Gas merupakan
analisa yang mengukur efisiensi sisi biaya pengadaan material/parts dan
efektivitas proses dari ketiga AP Gas berdasarkan data stock opname ketiga AP
pada tahun 2015. Proses ini didukung oleh teori kolaborasi horizontal yang...dst. | |