| dc.description.abstract | Daya saing ekspor furniture rotan suatu negara merupakan salah satu
indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan perekonomian negara
tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis daya saing furniture
rotan Indonesia di kawasan ASEAN dan Tiongkok dengan melihat keunggulan
komparatif beserta faktor-faktor yang memengaruhinya. Dari faktor-faktor yang
memengaruhi tersebut kemudian disimpulkan suatu strategi yang tepat untuk
meningkatkan daya saing furniture rotan Indonesia terutama di pasar ASEAN dan
Tiongkok. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif yang dilakukan dengan
menggunakan metode Normalized Revealed Comparative Advantage (NRCA),
regresi data panel periode tahun 2004 sampai 2014 dan Analytic Hierarchy Process
(AHP). Sedangkan analisis kualitatif yang dilakukan pada penelitian ini
menggunakan pendekatan Porter’s Diamond berdasarkan dari pendapat dari 12
pakar furniture rotan sebagai responden.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 2004 hingga 2014,
ekspor furniture rotan Indonesia ke kawasan ASEAN dan Tiongkok masih
mempunyai daya saing. Hal ini dapat dilihat dari semua indeks Normalized
Revealed Comparative Advantage (NRCA) mempunyai nilai yang positif meskipun
grafiknya sangat berfluktuasi. Dalam konsep Porter’s Diamond, elemen kebijakan
pemerintah menjadi prioritas utama dari keenam faktor yang memengaruhi
keunggulan bersaing suatu negara. Kebijakan pemerintah tersebut adalah
pelarangan ekspor rotan mentah maupun setengah jadi. Pada regresi data panel
dengan teknik Fixed Effect Model (FEM), variabel independen yang berpengaruh
signifikan terhadap NRCA berdasarkan nilai koefisien secara berurutan adalah
kebijakan pelarangan ekspor rotan mentah maupun setengah jadi, harga rotan
mentah dunia, harga ekspor furniture rotan, jumlah perusahaan industri rotan di
Indonesia, volume ekspor furniture rotan, investasi pengolahan rotan Indonesia,
nilai produksi furniture rotan, tenaga kerja langsung industri rotan, produksi riil
rotan di Indonesia, perbandingan lending rate terhadap negara tujuan ekspor, harga
furniture rotan dunia dan pemberlakuan ACFTA.
Untuk mampu meningkatkan daya saing furniture rotan Indonesia di kawasan
ASEAN dan Tiongkok yang direpresentasikan oleh indeks NRCA, pemerintah
harus mendirikan pelatihan dan pengembangan desain yang inovatif maupun
standart mutu furniture rotan. Hal ini juga harus didukung dengan adanya jaminan
ketersediaan bahan baku rotan serta peningkatan teknologi industri pengolahan
rotan. Selain itu, hal yang juga perlu dilakukan dalam peningkatan daya saing
furniture rotan Indonesia adalah perbaikan infrastruktur maupun rantai distribusi,
perbaikan sistem informasi pasar rotan serta penguatan brand image furniture rotan
Indonesia di pasar Internasional. | |