| dc.description.abstract | Tren penggunaan inovasi media infrastruktur dan teknologi atau disebut
Information and Communication Technology (ICT) semakin populer dalam satu
dasawarsa terakhir. Hasil riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia
(APJII) dengan Pusat Kajian Komunikasi (PusKaKom) Universitas Indonesia,
mengungkapkan jumlah pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan
16,2 juta pengguna pada tahun 2014. Berdasarkan domisilinya 78,5% dari total
seluruh pengguna internet di Indonesia tinggal di wilayah Indonesia bagian barat
dengan di dominasi oleh masyarakat urban.
Tingginya penetrasi pengguna internet terutama di wilayah Indonesia
bagian barat menjadi landasan pendekatan penggunaan media ICT yang dilakukan
Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Dalam rangka mengurangi masalah
kemacetan Ibu Kota, Pemprov DKI bekerjasama dengan pihak Google melalui
aplikasi Waze sebagai sistem navigasi mobile yang dapat memberikan informasi
peta mutakhir. Aplikasi Waze merupakan suatu inovasi yang dapat memberikan
informasi lalulintas aktual bagi masyarakat yang berkendara baik di DKI Jakarta
maupun di luar Jakarta. Sehingga dengan informasi aktual yang diperoleh dapat
membantu masyarakat menghindari titik-titik kemacetan Ibu Kota.
Proses penerimaan suatu inovasi teknologi membutuhkan waktu yang lama
bahkan bertahun-tahun mulai dari adanya kesadaran terhadap inovasi teknologi
sampai dengan diadopsi secara meluas oleh masyarakat. Proses inilah yang dapat
menciptakan sebuah model dalam mengadopsi teknologi sebagai proses perilaku
individu. Pada penelitian ini dikembangkan sebuah model yang dapat menjelaskan
faktor-faktor yang berpangaruh terhadap adopsi aplikasi navigasi Waze.
Survei dilaksanakan dikawasan Central Business District (CBD) Jakarta
yang merupakan kawasan dengan volume kendaraan pribadi tertinggi. Data
dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, Chi-Square, Korespondensi,
dan Structural Equation Model (SEM).
Hasil penelitian menunjukan terdapat dua kelompok yakni yang sudah
menggunakan aplikasi Waze dan yang belum menggunakan aplikasi Waze. Dapat
diketahui bahwa adopsi aplikasi navigasi mobile Waze dipengaruhi oleh berbagai
faktor dan memerlukan tahapan proses dalam mengadopsi. Setiap tahapan pada
proses adopsi aplikasi Waze memiliki pengaruh satu dengan yang lainnya. Tiga
faktor utama yang dianggap penting oleh responden dalam mengadopsi aplikasi
Waze adalah keunggulan relatif, kompatabilitas, dan kompleksitas.
Implikasi manajerial yang dirumuskan untuk meningkatkan adopsi terhadap
aplikasi Waze adalah dengan menciptakan inovasi. Kebaruan inovasi dibutuhkan
untuk dapat menambah keunggulan dari aplikasi Waze dibandingkan dengan
aplikasi navigasi mobile sejenis lainnya. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta dan
Google Waze harus melakukan strategi komunikasi pemasaran yang tepat agar
informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. | |