| dc.description.abstract | Perusahaan Otomotif Bahan Karet (OBK) merupakan industri komponen
otomotif bahan karet yang didirikan pada tahun 2008. Pada tahun 2013,
perusahaan OBK diakuisisi oleh PT IKP untuk pengadaan komponen otomotif
bahan karet ke PT Astra Otopart. Pengakuisisian ini menyebabkan adanya
perubahan jajaran manajerial perusahaan sehingga terdapat beberapa kebijakan
baru yang diterapkan. Salah satu kebijakan yang sedang direncanakan adalah
pengembangan karyawan melalui pelatihan sebagai upaya peningkatan kinerja
karyawan dalam bersaing di era global. Pelatihan dimaksudkan untuk mengurangi
kesenjangan antara kompetensi karyawan yang dimiliki Perusahaan OBK dengan
kompetensi sumber daya manusia yang diharapkan oleh perusahaan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi karyawan divisi
Perbengkelan terhadap pelatihan yang sudah pernah dilakukan dan persepsi
peningkatan kinerja setelah mengikuti pelatihan, menganalisis hubungan antara
persepsi responden terhadap pelatihan dengan persepsi kinerja setelah mengikuti
pelatihan, menyusun kebutuhan pelatihan karyawan berdasarkan kompetensi yang
dibutuhkan perusahaan. Data diolah dengan menggunakan uji rataan skor untuk
persepsi, uji korelasi rank pearson untuk korelasi dan Training Needs Assessment
Tool (TNA-T) untuk menganalisis kebutuhan pelatihan karyawan.
Dari hasil penelitian, persepsi karyawan sub divisi produksi dan sub divisi
PPIC memberikan penilaian rata-rata puas terhadap pelatihan yang pernah diikuti
sedangkan pada sub divisi quality control dan maintenance menilai dengan
persepsi rata-rata cukup puas. Persepsi peningkatan kinerja setelah pelatihan
untuk sub divisi produksi, quality control, PPIC rata-rata meningkat sedangkan
pada sub divisi maintenance rata-rata sedang.
Hubungan antara variabel pelatihan yang sudah diikuti dengan peningkatan
kinerja pada subdivisi produksi, PPIC, quality control dan maintenance memiliki
arah positif artinya semakin tinggi persepsi pelatihan maka semakin tinggi
persepsi peningkatan kinerja. Pada sub divisi produksi, sub divisi PPIC dan sub
divisi quality control memiliki kategori hubungan kuat dan signifikan antara
pelatihan dengan peningkatan kinerja. Persepsi responden pada sub divisi tersebut
rata-rata memberikan penilaian tinggi untuk variabel pelatihan dan variabel
peningkatan kinerja sedangkan pada sub divisi maintenance memiliki hubungan
rendah dan tidak signifikan antara pelatihan dengan kinerja. Hubungan rendah
diasumsikan terjadi karena penilaian responden yang cenderung beragam terhadap
variabel pelatihan.
Keseluruhan responden membutuhkan pelatihan namun tidak bersifat
mendesak. Penyusunan program pelatihan sesuai dengan kebutuhan karyawan
ditemukan pada deskripsi pekerjaan pada kompetensi intelektual yaitu pelatihan
mengenai analisis masalah, membuat keputusan, penguasaan informasi pekerjaan
dan sikap inisiatif karyawan. Pada kompetensi emosional yaitu pelatihan
mengenai kedisiplinan, pengendalikan diri dan bertanggung jawab. Pada
kompetensi sosial yaitu pelatihan mengenai motivasi rekan kerja, kerjasama, komunikasi serta pengawasan rekan kerja. Pada kompetensi bidang pekerjaan
disesuaikan dengan sub divisi masing-masing.
Implikasi manajerial yang dapat disarankan untuk perusahaan OBK
berdasarkan hasil penelitian yaitu menetapkan peserta pelatihan secara terbuka,
melibatkan karyawan secara langsung dalam kegiatan penilaian kebutuhan
pelatihan, kerjasama dengan berbagai pihak untuk pengadaan pelatihan dan
memperhatikan keberlanjutan pelatihan dengan cara evaluasi pelatihan.
Perusahaan harus mempertahankan persepsi baik karyawan sub divisi
produksi dan PPIC dengan pengadaan pelatihan yang konsisten serta
meningkatkan kepuasan persepsi karyawan maintenance dan quality control
dengan memperbaiki kegiatan pelatihan yang sudah dilakukan.
Pada Subdivisi maintenance, perlu disarankan adanya evaluasi kinerja
karyawan secara intensif. Selain itu, evaluasi pelatihan pada sub divisi
maintenance perlu dilakukan secara berkala agar pelatihan sesuai dengan tujuan
peningkatan kinerja karyawan. | |