Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Hermanto
dc.contributor.advisorAndati, Trias
dc.contributor.authorMaryanti, Desi
dc.date.accessioned2025-08-07T09:51:30Z
dc.date.available2025-08-07T09:51:30Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167520
dc.description.abstractPerkebunan memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sektor ini dilaporkan memberikan kontribusi yang cukup signifikan baik terhadap devisa negara maupun pendapatan nasional Indonesia (PDB). Selain itu usaha perkebunan, khususnya kelapa sawit, juga dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi di masa depan, karena kebutuhan masyarakat dunia akan produk-produk turunan minyak sawit baik sebagai produk pangan maupun sebagai bahan bakar alternatif, akan semakin meningkat sejalan dengan pertambahan populasi penduduk dunia. Pertumbuhan yang terjadi pada sektor perkebunan akan mendorong perkembangan sektor-sektor lain yang terkait, salah satunya adalah sektor kimia pertanian yang masuk dalam agribisnis hulu dalam sistem agribisnis perkebunan. Hal itu dimungkinkan karena biaya untuk pengadaan pupuk dan pestisida merupakan biaya dominan dalam operasional usaha perkebunan. Dengan demikian pertumbuhan yang terjadi pada sektor perkebunan penting artinya bagi sektor kimia pertanian, begitu pula sebaliknya. Kondisi lingkungan bisnis yang sangat dinamis menuntut setiap perusahaan untuk mengambil kebijakan yang tepat agar dapat memenangkan persaingan demi kelangsungan usahanya dalam jangka panjang. Hal itu dapat dicapai dengan strategi pertumbuhan, baik secara internal melalui pengembangan aset produktif perusahaan, maupun secara eksternal melalui merger dan akuisisi. Menurut beberapa literatur, pengembangan perusahaan melalui merger atau akuisisi dinilai lebih efisien untuk mencapai pertumbuhan yang diharapkan dibandingkan dengan menggunakan strategi pertumbuhan secara internal maupun aliansi strategis. Hal inilah yang mendorong maraknya aktivitas merger dan akuisisi pada perusahaanperusahaan di Indonesia, termasuk perusahaan perkebunan dan perusahaan kimia pertanian. Integrasi melalui merger dan akuisisi (M&A) tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing perusahaan di tengah persaingan yang semakin intensif. Namun sayangnya tidak ditemukan konsensus dari para peneliti terdahulu mengenai dampak merger dan akuisisi yang dilakukan terhadap kinerja keuangan perusahaan-perusahaan yang terlibat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan membandingkan pengaruh M&A terhadap kinerja keuangan perusahaan-perusahaan perkebunan dengan perusahaan-perusahaan kimia pertanian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive judgement sampling berdasarkan kriteria-kriteria yang ditetapkan. Uji t-student, Mann-Whitney dan Wilcoxon digunakan untuk menilai dan membandingkan pengaruh M&A terhadap kinerja keuangan kedua perusahaan, yang diwakili oleh parameter DER, ROA, ROE, EVA dan PBV. Berdasarkan hasil pengujian tersebut diperoleh bukti bahwa pengaruh M&A terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan berbeda signifikan dengan pengaruh M&A terhadap kinerja keuangan perusahaan kimia pertanian, kecuali untuk parameter EVA. Pada perusahaan perkebunan, selain DER, M&A yang dilakukan terbukti menurunkan kinerja keuangan perusahaan, namun hanya ROA, ROE dan PBV saja yang menunjukkan perbedaan signifikan.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titlePengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan dan Perusahaan Kimia Pertanianid
dc.subject.keywordKinerja Keuanganid
dc.subject.keywordMerger Dan Akuisisiid
dc.subject.keywordPerusahaan Kimia Pertanianid
dc.subject.keywordPerusahaan Perkebunanid
dc.subject.keywordBursa Efek Indonesiaid
dc.subject.keywordAgrochemicalid
dc.subject.keywordValue Chainid
dc.subject.keywordDebt Equity Raito (Der)id
dc.subject.keywordReturn On Asset (Roa)id


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record