Show simple item record

dc.contributor.advisorDaryanto, Arief
dc.contributor.advisorBaliwati, Yayuk Farida
dc.contributor.authorRimadianti, Dini Maharani Arum
dc.date.accessioned2025-08-07T09:51:17Z
dc.date.available2025-08-07T09:51:17Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167513
dc.description.abstractPemenuhan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan menjadi tantangan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Tantangan ketahanan pangan tersebut berkaitan dengan jumlah dan pertumbuhan penduduk. Ommani (2011) berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk adalah alasan utama untuk peningkatan kebutuhan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015 mencatat bahwa sebanyak 1.492.999 jiwa penduduk berada di wilayah Pemerintahan Kota Tangerang Selatan dengan laju pertumbuhan sebesar 3,36%. Jumlah penduduk tersebut mencakup 12,9% dari keseluruhan jumlah penduduk Provinsi Banten atau jumlah penduduk kota terbesar ke-dua di Provinsi Banten sedangkan laju pertumbuhan penduduk di Kota Tangerang Selatan lebih tinggi baik jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Banten (2,27%) maupun dengan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia (1,38%). Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai penyelenggara pembangunan sektor pertanian mencakup pula ketahanan pangan di wilayah Kota Tangerang Selatan yaitu Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. Peran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sebagai instansi yang memiliki fungsi teknis sekaligus koordinatif dalam pengelolaan ketahanan pangan wilayah harus dilengkapi dengan strategi yang tepat dalam rangka peningkatan ketahanan pangan di Kota Tangerang Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis kondisi ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas pangan dari tahun 2011 hingga tahun 2015 di Kota Tangerang Selatan, 2) menganalisis faktor- faktor strategis eksternal dan internal terkait pencapaian kondisi ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas pangan ideal di wilayah perkotaan yang harus dikoordinasikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan, 3) merumuskan strategi peningkatan ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas pangan yang harus dikoordinasikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan untuk 5 tahun ke depan. Data primer diperoleh berdasarkan hasil focus group discussion dan pengisian kuisioner oleh responden terpilih. Analisis deskriptif pada data sekunder antara lain ketersediaan dan konsumsi pangan digunakan untuk mengetahui kondisi ketahanan pangan. Analisis IFE dan EFE digunakan untuk merumuskan strategi peningkatan ketahanan pangan, Analisis SWOT untuk menyusun alternatif strategi dan QSPM untuk menentukan alternatif strategi yang terbaik. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan energi dan protein sudah mencukupi, harga pangan strategis stabil ditinjau dari koefisien keragaman harga pangan dan kualitas konsumsi pangan cenderung meningkat setiap tahunnya sehingga stabilitas pangan di Kota Tangerang Selatan stabil. Faktor internal yang paling penting adalah komitmen kepala daerah yang kuat guna mendorong jalannya program dan kegiatan ketahanan pangan di Kota Tangerang Selatan dan faktor eksternal yang paling penting adalah letak geografis Kota Tangerang Selatan yang strategis sehingga memudahkan Kota Tangerang Selatan untuk dapat terhubung pada akses pangan dan informasi daerah sekitarnya. Total skor terbobot matriks IFE sebesar 2,86 menunjukkan bahwa tersedia ruang bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan untuk melakukan perbaikan antara lain dalam hal program, strategi, kebijakan ataupun rencana aksi sedangkan total skor terbobot matriks EFE sebesar 2,81 menunjukkan bahwa tersedia ruang bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan untuk melakukan pengembangan dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman ketahanan pangan yang ada. Berdasarkan analisis SWOT, maka alternatif strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan ketahanan pangan Kota Tangerang Selatan adalah melalui peningkatan kerjasama triple helix antara pemerintah, swasta serta lembaga pendidikan dan penelitian, peningkatan kerjasama government to government, peningkatan kerjasama government to business, peningkatan ketersediaan pangan, peningkatan akses pangan, peningkatan kualitas konsumsi pangan dan gizi penduduk, pengembangan pertanian perkotaan, penguatan kelembagaan serta peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku utama. Total attractiveness score dari QSPM sebesar 3,76 menunjukkan bahwa prioritas strategi yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam upaya peningkatan ketahanan pangan adalah meningkatkan kerjasama triple helix antara universitas, industri dan pemerintah.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleStrategi Peningkatan Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tanggerang Selatanid
dc.subject.keywordKetahanan Panganid
dc.subject.keywordMatriks Efe-Ifeid
dc.subject.keywordQspmid
dc.subject.keywordSwotid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record