| dc.description.abstract | Pemenuhan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman,
beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama,
keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif
secara berkelanjutan menjadi tantangan di Kota Tangerang Selatan, Provinsi
Banten. Tantangan ketahanan pangan tersebut berkaitan dengan jumlah dan
pertumbuhan penduduk. Ommani (2011) berpendapat bahwa pertumbuhan
penduduk adalah alasan utama untuk peningkatan kebutuhan pangan. Badan Pusat
Statistik (BPS) pada tahun 2015 mencatat bahwa sebanyak 1.492.999 jiwa
penduduk berada di wilayah Pemerintahan Kota Tangerang Selatan dengan laju
pertumbuhan sebesar 3,36%. Jumlah penduduk tersebut mencakup 12,9% dari
keseluruhan jumlah penduduk Provinsi Banten atau jumlah penduduk kota
terbesar ke-dua di Provinsi Banten sedangkan laju pertumbuhan penduduk di Kota
Tangerang Selatan lebih tinggi baik jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan
penduduk di Provinsi Banten (2,27%) maupun dengan laju pertumbuhan
penduduk di Indonesia (1,38%).
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang memiliki tugas pokok dan
fungsi sebagai penyelenggara pembangunan sektor pertanian mencakup pula
ketahanan pangan di wilayah Kota Tangerang Selatan yaitu Dinas Pertanian dan
Ketahanan Pangan. Peran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sebagai instansi
yang memiliki fungsi teknis sekaligus koordinatif dalam pengelolaan ketahanan
pangan wilayah harus dilengkapi dengan strategi yang tepat dalam rangka
peningkatan ketahanan pangan di Kota Tangerang Selatan.
Tujuan dari penelitian ini adalah 1) menganalisis kondisi ketersediaan,
akses, pemanfaatan dan stabilitas pangan dari tahun 2011 hingga tahun 2015 di
Kota Tangerang Selatan, 2) menganalisis faktor- faktor strategis eksternal dan
internal terkait pencapaian kondisi ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas
pangan ideal di wilayah perkotaan yang harus dikoordinasikan oleh Dinas
Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan, 3) merumuskan strategi
peningkatan ketersediaan, akses, pemanfaatan dan stabilitas pangan yang harus
dikoordinasikan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang
Selatan untuk 5 tahun ke depan.
Data primer diperoleh berdasarkan hasil focus group discussion dan
pengisian kuisioner oleh responden terpilih. Analisis deskriptif pada data sekunder
antara lain ketersediaan dan konsumsi pangan digunakan untuk mengetahui
kondisi ketahanan pangan. Analisis IFE dan EFE digunakan untuk merumuskan
strategi peningkatan ketahanan pangan, Analisis SWOT untuk menyusun
alternatif strategi dan QSPM untuk menentukan alternatif strategi yang terbaik.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan energi dan protein
sudah mencukupi, harga pangan strategis stabil ditinjau dari koefisien keragaman
harga pangan dan kualitas konsumsi pangan cenderung meningkat setiap tahunnya
sehingga stabilitas pangan di Kota Tangerang Selatan stabil. Faktor internal yang
paling penting adalah komitmen kepala daerah yang kuat guna mendorong jalannya program dan kegiatan ketahanan pangan di Kota Tangerang Selatan dan
faktor eksternal yang paling penting adalah letak geografis Kota Tangerang
Selatan yang strategis sehingga memudahkan Kota Tangerang Selatan untuk dapat
terhubung pada akses pangan dan informasi daerah sekitarnya. Total skor terbobot
matriks IFE sebesar 2,86 menunjukkan bahwa tersedia ruang bagi Dinas Pertanian
dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan untuk melakukan perbaikan
antara lain dalam hal program, strategi, kebijakan ataupun rencana aksi sedangkan
total skor terbobot matriks EFE sebesar 2,81 menunjukkan bahwa tersedia ruang
bagi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan untuk
melakukan pengembangan dalam memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman
ketahanan pangan yang ada. Berdasarkan analisis SWOT, maka alternatif strategi
yang dapat diterapkan untuk meningkatkan ketahanan pangan Kota Tangerang
Selatan adalah melalui peningkatan kerjasama triple helix antara pemerintah,
swasta serta lembaga pendidikan dan penelitian, peningkatan kerjasama
government to government, peningkatan kerjasama government to business,
peningkatan ketersediaan pangan, peningkatan akses pangan, peningkatan kualitas
konsumsi pangan dan gizi penduduk, pengembangan pertanian perkotaan,
penguatan kelembagaan serta peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku utama.
Total attractiveness score dari QSPM sebesar 3,76 menunjukkan bahwa prioritas
strategi yang perlu diambil oleh Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam upaya
peningkatan ketahanan pangan adalah meningkatkan kerjasama triple helix antara
universitas, industri dan pemerintah. | |