Sistem Pengendalian Mutu Minyak Kelapa Sawit Pada Industri Pengolahan Kelapa Sawit (Studi Kasus Pks Bah Jambi, Ptpn Iv Medan Sumatera Utara)
View/ Open
Date
2016Author
Noviar, Muhammad Haqiki
Sukardi
Rifin, Amzul
Metadata
Show full item recordAbstract
Pengendalian mutu merupakan taktik dan strategi perusahaan dalam
persaingan global dengan produk perusahaan lain. Mutu menjadi faktor dasar
keputusan dalam memilih produk. Bila konsumen merasa produk tertentu jauh
lebih baik mutunya dari produk pesaing, maka konsumen memutuskan untuk
membeli produk tersebut. Tuntutan konsumen yang senantiasa berubah inilah
yang perlu direspon perusahaan. Oleh karena itu perusahaan haruslah menerapkan
pengendalian mutu dalam pembuatan produk. Mutu produk akan berpengaruh
terhadap tingkat kepuasan konsumen dan laba perusahaan.
Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Bah Jambi mengalami beberapa kendala dalam
rangka pemenuhan standar mutu produk utamanya, yaitu CPO (Crude Palm Oil).
Dari standar mutu produk akhir CPO yang diproduksi, seperti kadar ALB (Asam
Lemak Bebas), kadar air dan kadar kotoran, sering kali melebihi standar mutu
yang telah ditetapkan oleh pelanggan. Untuk itu dilakukan penelitian yang
bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan sistem pengendalian mutu
CPO, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi mutu CPO dan merumuskan
sistem peningkatan dan pengendalian mutu CPO di PKS Bah Jambi.
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Statistical Process Control (SPC) dan diagram sebab akibat (fishbone). SPC yang
terintegrasi dengan konsep analisis six sigma digunakan untuk menganalisis
pengendalian mutu kadar ALB, kadar air dan kadar kotoran CPO PKS Bah Jambi.
Diagram sebab akibat digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab
masalah dengan memfokuskan pada faktor-faktor penyebab yang sering terjadi
seperti mesin, manusia, metode, material dan manajemen.
Melalui perhitungan menggunakan metode SPC (Statistical Process
Control) didapatkan hasil analisis pengendalian mutu kadar ALB, air dan kotoran.
Nilai kapabilitas proses pengendalian mutu kadar ALB sebesar 1,282, yang berarti
keadaan proses industri berada dalam keadaan stabil dan tidak mampu, artinya
proses berada dalam keadaan tidak mampu sampai cukup mampu untuk
menghasilkan produk sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi pelanggan.
Sedangkan untuk pengendalian mutu kadar air dan kadar kotoran produk CPO
milik PKS Bah Jambi telah efektif dan mampu dalam memenuhi standar mutu
kadar air dan kadar kotoran yang ditetapkan oleh pembeli/pelanggan yaitu
masing-masing sebesar 0,15% dan 0,02%.
Melalui analisis diagram sebab akibat didapatkan hasil bahwa faktor yang
menyebabkan mutu kadar ALB diatas standar mutu kadar ALB yang ditetapkan
oleh pembeli/pelanggan yaitu faktor mesin, manusia, manajemen, material dan
metode. Berdasarkan kuesioner didapat hasil sebesar 62,5% responden
menyatakan bahwa faktor utama penyebab kadar ALB diatas standar mutu yang
ditetapkan perusahaan adalah faktor mesin. Kerusakan pada mesin yang sering
terjadi dikarenakan mill rotor bar aus dan spare part sudah melewati jam jalan.iv
Penelitian yang dilakukan di PKS Bah Jambi mendapatkan hasil yang
menunjukkan bahwa pengendalian mutu kadar ALB produk CPO milik PKS Bah
Jambi belum efektif dan belum mampu memenuhi standar mutu kadar ALB yang
ditetapkan pembeli/pelanggan. Sistem peningkatan dan pengendalian mutu CPO
yang dapat digunakan sebagai masukan adalah perlu dilakukan pelaksanaan
Quality Control (QC) / pengendalian mutu pada setiap tahap pengolahan kelapa
sawit dan manajemen perusahaan perlu melakukan perawatan mesin secara
berkala dan melakukan pelatihan bagi karyawan secara kontiniu.
Collections
- MT - Business [4057]
