| dc.description.abstract | Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan produk unggulan daerah
(PUD) kabupaten Banyumas, menentukan prioritas kecamatan pengembangan
PUD kabupaten Banyumas, merumuskan alternatif solusi pengembangan PUD
IKM kabupaten Banyumas, menentukan pemangku kepentingan yang berperan
sebagai penggerak dalam pengembangan PUD IKM kabupaten Banyumas,
melakukan penyelarasan alternatif solusi dalam kerangka kebijakan sebagai
strategi pengembangan daya saing produk unggulan daerah (PUD) industri kecil
menengah (IKM) kabupaten Banyumas.
Kriteria yang digunakan dalam penentuan PUD berasal dari 12 kriteria
yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor 9 Tahun 2014. Hasil dari penilaian menunjukkan bahwa prioritas pertama
PUD kabupaten Banyumas adalah gula kelapa. Prioritas kecamatan
pengembangan IKM gula kelapa di kabupaten Banyumas adalah kecamatan
Cilongok. Strategi pengembangan IKM gula kelapa dibuat dengan mengikuti
model Sembilan Faktor (Nine Factor).
Alternatif solusi yang dikembangkan berdasarkan model tersebut untuk
masing-masing faktor adalah mendorong petani menggunakan sistem pertanian
organik (faktor endowed resources), mendorong jenis produsen untuk memiliki
kemampuan menjual berbagai macam bentuk gula kelapa (faktor bussiness
Environment), memperkuat pengembangan teknologi IKM gula kelapa organik
baik berupa gula kelapa cetak maupun gula kelapa granula (faktor related dan
supporting industries), meningkatkan standarisasi mutu produk gula kelapa
(faktor domestik demand), memberikan penyuluhan secara rutin terhadap seluruh
produsen gula kelapa (faktor workers), mendorong pemerintah untuk
mempromosikan konsumsi produk gula kelapa granula organik baik di tingkat
lokal/domestik, regional, nasional maupun internasional (faktor politicians and
bureucrats), mendorong tumbuhnya wirausaha baru di tingkat desa, kecamatan
dan kabupaten (faktor entrepreuners), Meningkatkan kemempuan manajerial
dalam efisiensi produksi gula kelapa mulai dari bahan baku sampai dengan
pemasaran (faktor profesional manager and engineers), dan mendorong gula
kelapa dalam bentuk granula sebagai subtitusi gula tebu (faktor chance).
Pemangku kepentingan yang berperan sebagai penggerak dalam kerangka
sembilan faktor mayoritas dipegang oleh pemerintah pusat maupun daerah dengan
melibatkan akademisi di faktor profesional manager and engineers. IKM gula
kelapa menjadi penggerak pada faktor endowed resources dan faktor workers.
Dari seluruh faktor dalam kerangka strategi Sembilan Faktor maka prioritas
strategi yang didapatkan adalah penguatan faktor workers. | |