Show simple item record

dc.contributor.advisorAchsani, Noer Azam
dc.contributor.advisorMaulana, Tb Nur Ahmad
dc.contributor.authorSurbakti, Emta Hariati
dc.date.accessioned2025-08-07T09:49:27Z
dc.date.available2025-08-07T09:49:27Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167453
dc.description.abstractReturn dan risiko adalah dua faktor utama yang diperhatikan investor ketika berinvestasi dalam bentuk saham. Return adalah keuntungan yang diperoleh investor atas investasi saham yang dilakukannya, sedangkan risiko merupakan perbedaan return yang diharapkan dengan return actual. Pada sekuritas, return dan risiko secara teoritis mempunyai hubungan yang positif, semakin besar expected return yang diterima, maka semakin besar risiko yang diperoleh, begitu juga sebaliknya. Volatilitas menunjukan risiko atau ketidakpastian return yang akan diperoleh oleh investor. Volatilitas harga saham menggambarkan perubahan harga penutupan sebuah saham atau indeks saham yang terjadi selama kurun waktu pengamatan tertentu. Volatilitas harga sangat penting untuk diamati karena menjadi dasar untuk menghitung volatilitas return. Kondisi makroekonomi berpengaruh pada volatilitas saham di suatu negara, hal ini dikarenakan kondisi makroekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi operasional harian perusahaan, sehingga kemampuan investor dalam memahami dan meramalkan kondisi makroekonomi dimasa datang akan sangat berguna dalam pembuatan keputusan investasi yang menguntungkan. Seiring dengan adanya globalisasi dan integrasi keuangan maka faktor makroekonomi yang memengaruhi return dan risk saham tidak hanya faktor makroekonomi domestik namun juga dipengaruhi oleh faktor makroekonomi non-domestik (internasional). Pada pertengahan tahun 2007, Amerika Serikat dilanda krisis subprime mortgage yang puncaknya terjadi pada September 2008, imbas dari krisis subprime mortgage menyebabkan seluruh bursa saham di dunia mengalami koreksi yang cukup tajam. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, namun juga melanda Eropa dan Asia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode krisis subprime mortgage yakni terhitung dari 21 November 2007 sampai dengan 21 November 2008 mengalami penurunan tajam sebesar 55,29%. Sebagai pasar modal yang sedang berkembang BEI diduga sangat dipengaruhi indeks pasar saham dunia dan indeks pasar saham Asia yang berkapitalisasi besar, salah satunya Dow Jones Industrial Average (DJI) dari bursa saham Amerika. DJI merupakan indeks harga saham gabungan di bursa saham New York Stock Exchange. Keterkaitan indeks di bursa global terlihat saat krisis global tahun 2008 indeks harga saham di bursa saham Amerika (DJI) terkoreksi sebesar 37.13 % diikuti dengan terkoreksinya nilai saham di Indonesia yaitu saham-saham yang tergabung dalam IHSG terkoreksi sebesar 55.29%. Penelitian ini terdiri dari empat tujuan: (1) melihat karakteristik volatilitas return saham pada indeks saham IHSG; (2) melihat pengaruh pasar saham Amerika (Dow Jones Industrial) terhadap volatilitas return IHSG; (3) mengkaji lebih dalam tentang pengaruh pengaruh variabel makroekonomi...dst.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titlePengaruh Variabel Makroekonomi Terhadap Volatilitas Return Indeks Saham Ihsg Periode Sebelum dan Sesudah Krisis Ekonomi Global (2002-2014)id
dc.subject.keywordVolatilitas Returnid
dc.subject.keywordIndeks Saham Ihsgid
dc.subject.keywordVariabel Makroekonomiid
dc.subject.keywordArch-Garchid
dc.subject.keywordVarid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record