| dc.description.abstract | Pembangunan sektor pertanian merupakan salah satu pilihan strategis
untuk menopang perekonomian nasional dan daerah, terutama setelah terjadinya
krisis ekonomi yang dialami oleh negara-negara di Asia Tenggara sejak
pertengahan tahun 1997. Di samping itu resources based negara Indonesia
memang terletak pada sektor-sektor primer (termasuk pertanian dalam arti luas),
baik dari sisi kelimpahan potensi sumber daya alam maupun besarnya potensi
tenaga kerja yang tersedia. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus tetap
mengembangkan sektor pertanian karena mempunyai peranan penting sebagai
penghasil bahan makanan, penghasil devisa, memberikan kesempatan kerja dan
juga sebagai pasar bagi produk-produk industri.
Cisarua Mountain Dairy atau yang biasa dikenal sebagai Cimory, tentunya
sudah paham mengenai berbagai hambatan yang selama ini menghadang industri
susu. Sebagai salah satu pemain lama dalam industri susu, bukan menjadi jaminan
bila Cimory dapat mengatasi seluruh hambatan tersebut. Apalagi, dengan kondisi
Cimory saat ini, yang sama sekali tidak memiliki sapi perah sendiri dan sangat
bergantung kepada para peternak sekitar, tentunya sangat merasakan dampak
secara tidak langsung dari berbagai macam hambatan dari perkembangan peternak
sapi perah, mengingat dengan kapasitas produksi yang dimiliki oleh Cimory
terbilang cukup besar, sehingga tentunya membutuhkan kontinuitas dari
pengiriman bahan baku utama yakni susu segar. Ditambah dengan adanya
informasi dari pihak manajemen Cimory bahwa hingga saat ini, pasokan susu
segar yang dikirim ke Cimory masih di bawah kapasitas produksi dari Cimory,
sehingga masih dibutuhkan pasokan susu segar yang diharapkan dapat terus
meningkat. Selain itu, masih menurut pihak Cimory, beragamnya kualitas dari
susu segar yang dihasilkan oleh peternak menjadi hambatan tersendiri bagi
Cimory, mengingat adanya keterbatasan modal serta teknologi yang digunakan
oleh para peternak sapi perah yang terbilang masih di bawah rata-rata standar
normal sehingga menyebabkan beragamnya kualitas susu segar yang dihasilkan
oleh para peternak. Berdasarkan informasi dari pihak Cimory tersebut, maka
sudah sewajarnya bila perusahaan terus berupaya memberikan proses maksimal
agar pada akhirnya dapat dinikmati oleh peternak sapi perah. Untuk itu, penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dari rantai nilai Cimory secara
keseluruhan dimana dengan menggunakan analisis rantai nilai, perusahaan dapat
mengetahui dengan pasti dimana titik terlemah yang menjadi hambatan
perusahaan selama ini.
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah penelitian ini bertujuan:
memetakan rantai nilai produk olahan susu segar di Cimory, menganalisis
pengelolaan rantai nilai produk olahan susu segar yang dilakukan oleh Cimory,
menganalisis atribut-atribut yang menjadi hambatan bagi Cimory, menganalisis
tingkat efisiensi produksi para peternak pemasok Cimory, serta merumuskan
strategi yang tepat untuk meminimalisir hambatan yang dialami oleh Cimory.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu
pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada dan
dilakukan dalam bentuk survei. Teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Dari hasil pemetaan rantai nilai yang
dilakukan pada Cimory, dapat diketahui bahwa Cimory terikat dengan pemasok
utama tetapi tidak menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan pemasok
lainnya sebagai alternatif bila pasokan dari pemasok utama tidak mencukupi. Hal
ini dapat diketahui karena pihak Cimory melakukan kerjasama dengan berbagai
pihak pemasok susu segar, yakni dalam hal ini ialah dua buah koperasi peternakan
setempat yakni KUD Giri Tani dan KUD Cipanas, serta satu buah koperasi dari
daerah Sukabumi untuk mengantisipasi bila terjadi kekurangan pasokan susu
segar dari dua buah koperasi utama. Hal tersebut dikarenakan mayoritas peternak
yang tergabung dalam dua KUD pemasok utama masih terkendala dengan
teknologi produksi serta rendahnya kualitas pakan yang digunakan, sehingga
terkadang tingkat produktivitas sapi perah peternak relatif bersifat fluktuatif dan
menyebabkan Cimory kekurangan pasokan susu segar. Sementara berdasarkan
hasil analisis pengelolaan rantai nilai, bahwa tipe pengelolaan rantai nilai pada
hubungan diantara KUD dengan Cimory lebih bersifat captive, dimana hubungan
di antara keduanya lebih bersifat saling ketergantungan dari pihak KUD terutama
para peternak kepada pihak Cimory untuk terus dapat menerima pasokan susu
segar dari KUD. Karena mau bagaimanapun juga, keberadaan KUD yang
perkembangannya semakin membaik dari tahun ke tahun, salah satunya
dikarenakan adanya pertumbuhan pesat dari Cimory yang terus membutuhkan
kontinuitas pasokan susu segar dari pihak KUD, sehingga terjalin sebuah
hubungan yang saling membutuhkan di antara keduanya.
Sementara untuk hubungan di antara pemasok bahan pendukung dengan
Cimory, lebih bersifat modular value chain, dimana para pemasok bahan
pendukung membuatkan produk yang lebih spesifik disesuaikan dengan apa yang
diinginkan oleh pihak Cimory. Hal ini diketahui dari relatif tingginya ketiga faktor
penentu tipe pengelolaan rantai nilai seperti kompleksitas transaksi yang bernilai
3,08, kodifikasi transaksi yang bernilai 3,0, serta faktor kapabilitas penawaran
yang bernilai 3,05. Pada dasarnya, modular value chain ini bermakna bahwa
pemasok bahan pendukung memiliki tanggung jawab secara penuh untuk seluruh
kompetensi yang melingkupi seluruh proses teknologi yang disesuaikan dengan
permintaan dari pihak Cimory, sehingga pihak Cimory tinggal menggunakan
pasokan bahan pendukung tersebut sesuai dengan kebutuhan. Pola pengelolaan rantai nilai yang bersifat modular value chain juga terjadi pada hubungan diantara
Cimory dengan distributor hasil olahan Cimory yang merupakan anak perusahaan
dari Cimory Group, yakni PT. Macrosentra Niagaboga, Tbk. Pola pengelolaan
rantai nilai diantara keduanya sudah dapat terlihat dari begitu dominannya ketiga
faktor yang mempengaruhi dalam proses penentuan pola pengelolaan rantai nilai.
Berdasarkan hasil analisis efisiensi produksi yang dilakukan terhadap
tingkat produksi para peternak anggota KUD yang menjadi mitra kerja dari
Cimory, bahwa faktor rataan umur ternak serta jumlah ternak, menjadi faktor yang
paling dominan dalam meningkatkan tingkat produktivitas sapi perah. Selain itu,
dapat diketahui juga bahwa faktor jam kerja efektif menjadi faktor yang tidak
menentukan tingkat produktivitas dari sapi perah. Dari hasil analisis fungsi
produksi, juga dapat disimpulkan bahwa semua responden peternak yang menjadi
mitra kerja dari Cimory sudah berada pada tingkat produktivitas efisien.
Sementara dari hasil analisis identifikasi hambatan, ternyata masih banyak sekali
kekurangan yang selama ini terjadi pada Cimory terutama yang berasal dari
pemasok susu segar. Untuk itulah, Cimory harus berperan secara aktif terhadap
proses pengembangan kualitas dan kuantitas yang dikirim oleh pihak KUD, tidak
semata-mata hanya sebagai penerima pasokan bahan baku tanpa memperhatikan
secara kualitas maupun secara kuantitas dari pasokan bahan baku tersebut. Cimory
harus bisa menjembatani semua pihak yang menjadi pemasok bahan baku, agar
kedepannya terjadi sebuah kerjasama yang lebih baik diantara pemasok serta
Cimory. Selain itu, Cimory pun harus bisa membantu menyelesaikan persoalan
yang selama ini menjadi hambatan bagi pihak KUD terutama masalah pakan serta
masalah proses perhitungan bakteri yang selama ini menjadi masalah pelik bagi
pihak KUD. | |