| dc.description.abstract | Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling asasi.
Kecukupan, aksesibilitas dan kualitas pangan yang dapat dikonsumsi seluruh
warga masyarakat, merupakan ukuran-ukuran penting untuk melihat seberapa
besar daya tahan bangsa terhadap setiap ancaman yang dihadapi. Beras masih
menjadi komoditi utama penopang ketahanan pangan nasional, karena merupakan
makanan pokok bagi mayoritas penduduk Indonesia.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 Tahun 2003 tentang pendirian
Perusahaan Umum (Perum) BULOG, pemerintah menetapkan Perum BULOG
sebagai penyelenggara usaha logistik pangan pokok yang bermutu dan memadai
bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak. Untuk memenuhi persediaan
digudang-gudang yang wilayahnya bukan merupakan daerah surplus produksi
beras, Perum BULOG melakukan penyebaran persediaan melalui kegiatan
angkutan dari Divisi Regional (Divre) yang membawahi gudang-gudang di
daerah-daerah surplus produksi beras ke gudang-gudang Divre di daerah-daerah
yang defisit.
Biaya angkutan antar Divre dalam Master Budget Perum BULOG Tahun
2010 merupakan biaya overhead terbesar kedua setelah biaya distribusi (Perum
BULOG, 2009). Selain jumlah, jalur alternatif angkutan antar Divre juga cukup
banyak, sehingga diperlukan suatu strategi untuk mengelolanya dengan
memperhatikan prinsip efisiensi biaya dengan tidak meninggalkan tugas yang
diamanatkan pemerintah kepada Perum BULOG untuk menjaga ketersediaan
beras.
Masalah-masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan : bagaimana jalur
angkutan dan jumlah persediaan yang diangkut antar Divre yang ada saat ini dan
berapa besar biaya yang sudah dianggarkan untuk angkutan tersebut; bagaimana
kondisi optimum jalur angkutan dan jumlah persediaan yang diangkut antar Divre
yang dapat menghasilkan biaya yang minimum; dan bagaimana sistem
operasional angkutan antar Divre berdasarkan hasil optimasi.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem angkutan antar Divre
Perum BULOG dengan tujuan spesifik : menganalisa jalur angkutan, jumlah
persediaan yang diangkut dan besaran biaya angkutan antar Divre yang ada saat
ini; menentukan jalur angkutan dan jumlah persediaan yang diangkut antar Divre
yang dapat memberikan biaya yang minimum; dan menetapkan sistem
operasional angkutan antar Divre berdasarkan hasil optimasi.
Penelitian dilakukan terhadap Divre-Divre Perum BULOG di seluruh
Indonesia serta di Kantor Pusat Perum BULOG Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 49
Jakarta dari bulan April sampai dengan bulan Agustus 2010. Metode penelitian
menggunakan metode perancangan sistem yaitu kegiatan merancang sistem
melalui tahapan-tahapan tertentu untuk menjawab permasalahan yang ada. Jenis
penelitian adalah studi kasus yang meliputi penelitian, penyelidikan dan
pemeriksaan yang terinci mendalam dan menyeluruh atas segala sesuatu dari
obyek yang diteliti.
Agar tujuan penelitian dapat dicapai maka digunakanlah model optimasi
dalam Pemrograman Linier. Pemrograman linier (linier programming), adalah
salah satu teknik analisa dari kelompok teknik riset operasi yang memakai model
matematika. Tujuannya adalah untuk mencari, memilih, dan menentukan
alternatif yang terbaik dari antara sekian alternatif layak yang tersedia (Nasendi
dan Anwar, 1985). Menurut Siswanto (2007) pemrograman linier adalah sebuah
metode matematis yang berkarakteristik linier untuk menemukan suatu
penyelesaian optimal dengan cara memaksimumkan atau meminimumkan fungsi
tujuan terhadap satu susunan kendala. Model transportasi merupakan salah satu
bentuk khusus atau variasi dari pemrograman linier yang dikembangkan khusus
untuk memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan transportasi
(pengangkutan) dan distribusi produk atau sumber daya dari berbagai sumber
(pusat pengadaan atau titik suplai) ke berbagai tujuan (titik permintaan atau pusat
pemakaian) (Render, Stair dan Hanna, 2009).
Angkutan antar Divre tahun 2009 direncanakan sebesar 1.080.000 ton
dengan rencana anggaran biaya sebesar Rp. 699.423.979.930,- (Perum BULOG,
2010). Besaran rencana angkutan antar Divre tersebut dihitung dengan telah
mempertimbangan rencana pengadaan dan rencana penyaluran tahun 2009 untuk
masing-masing Divre. Realisasi angkutan antar Divre Perum BULOG tahun 2009
adalah sebesar 1.150.680 ton atau 106,54 % dari rencana angkutan antar Divre
sebesar 1.080.000 ton. Realisasi biaya angkutan antar Divre untuk tahun 2009
sebesar Rp. 563.903.540.461,- atau 80,62% dari rencana anggaran biaya sebesar
Rp. 699.423.979.930,- (Perum BULOG, 2010). Dari data tersebut terlihat bahwa
walaupun realisasi angkutan antar Divre diatas rencana semula, tetapi biayanya
justru lebih rendah dari rencana anggaran biayanya.
Rencana jalur dan biaya angkutan antar Divre untuk tahun 2010 disusun
berdasarkan data-data rencana jalur angkutan antar Divre pada tahun-tahun
sebelumnya. Total biaya angkutan antar Divre untuk tahun 2010 berdasarkan
RKAP Perum BULOG Tahun 2010 adalah sebesar Rp. 377.426.890.772,- (Perum
BULOG, 2010c). Optimasi angkutan antar Divre akan diaplikasikan untuk
perencanaan angkutan antar Divre tahun 2010. Hasil aplikasi optimasi dengan
model matematis ini akan dibandingkan dengan perencanaan angkutan antar Divre
yang telah disusun dengan metode yang biasanya digunakan saat ini. Dari
perhitungan dengan model optimasi diperoleh hasil bahwa total biaya angkutan
antar Divre untuk tahun 2010 sebesar Rp. 359.965.300.000,-. Apabila biaya
angkutan antar Divre tahun 2010 dengan model optimasi tersebut dibandingkan
dengan biaya yang telah dihitung dengan metode yang biasa digunakan yaitu
sebesar Rp. 377.426.890.772,- maka biaya berdasarkan perhitungan dengan model
optimasi lebih rendah sebesar Rp. 17.461.590.772,- (4,63%). Pelaksanaan
angkutan antar Divre tahun 2010 sebesar 411.298 ton atau 49,85% dari rencana
(825.000 ton). Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 320.722.255.180,- atau
mencapai 89,10% dari biaya hasil optimasi.
Penggunaan pemrograman linier untuk angkutan antar Divre Perum
BULOG telah menghasilkan optimasi jumlah persediaan yang diangkut, jalur dan
biaya angkutan antar Divre. Model optimasi tidak hanya dilakukan terhadap
kondisi ideal tetapi juga terhadap kemungkinan adanya perubahan-perubahan
melalui analisa pasca optimasi. Sistem angkutan antar Divre Perum BULOG
terbagi menjadi sistem perencanaan, sistem pendukung, sistem evaluasi dan
sistem keseluruhan yang terintegrasi (integrasi sistem). Masing-masing sistem
menerapkan aplikasi pemrograman linier dengan model optimasi dalam
prosesnya.
Penentuan jalur angkutan, jumlah persediaan yang diangkut dan besaran
biaya angkutan antar Divre Perum BULOG yang ada saat ini ditentukan
berdasarkan perhitungan secara manual tanpa memperhatikan aspek optimasi
biaya. Dengan menggunakan model optimasi pemrograman linier, jalur angkutan
dan jumlah persediaan yang diangkut antar Divre yang dapat memberikan biaya
yang minimum dapat ditentukan. Perhitungan biaya angkutan antar Divre dengan
menggunakan model optimasi pemrograman linier menghasilkan total biaya yang
lebih rendah dibandingkan dengan total biaya angkutan antar Divre dengan
menggunakan metode yang dipakai saat ini. Sistem operasional angkutan antar
Divre Perum BULOG dengan penerapan model optimasi pemrograman linier
terdiri dari sistem perencanaan, sistem pendukung, sistem evaluasi dan sistem
keseluruhan yang terintegrasi (integrasi sistem). Proses angkutan antar Divre
Perum BULOG sebagaimana dijelaskan diatas merupakan perancangan sistem
angkutan antar Divre Perum BULOG secara keseluruhan.
Dalam proses perencanaan angkutan antar Divre yang selalu disusun setiap
awal tahun, Perum BULOG dapat menerapkan model optimasi pemrograman
linier untuk memperoleh total biaya yang paling rendah serta jalur angkutan dan
jumlah persediaan yang diangkut. Model optimasi tidak hanya diterapkan dalam
proses perencanaan tetapi juga dalam proses penghitungan insentif maupun
penghematan biaya yang berkaitan dengan angkutan antar Divre. Penerapan
model optimasi pada angkutan antar Divre diharapkan dapat meningkatkan
akuntabilitas perusahaan dalam mempertanggungjawabkan keuangannya karena
menghitung biaya dengan model optimasi dapat dipertanggungjawabkan secara
akademis. Rancangan sistem angkutan antar Divre yang telah disusun dalam
penelitian ini, untuk masa yang akan datang dapat ditindaklanjuti dengan
pembuatan perangkatlunaknya sehingga dapat dioperasikan dengan lebih mudah
dan terintegrasi. | |