Show simple item record

dc.contributor.advisorSanim, Bunasor
dc.contributor.advisorHarianto
dc.contributor.authorDarajat, Salman
dc.date.accessioned2025-08-07T09:47:00Z
dc.date.available2025-08-07T09:47:00Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/167369
dc.description.abstractSalah satu hasil pertanian di Indonesia yang menjadi komoditi unggulan adalah tanaman pangan. Kebutuhan terhadap tanaman pangan akan selalu ada. Hal ini disebabkan setiap hari tanaman pangan selalu dikonsumsi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, ketersediaan pangan harus tetap dijaga karena secara umum kebutuhan beberapa jenis tanaman pangan masih belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga harus diimpor setiap tahunnya. Badan Pusat Statistik (2008) menyatakan bahwa dari luas Kabupaten Aceh Timur 604.060 Ha adalah 109.933 Ha atau sekitar 18 % merupakan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang terdiri dari lahan sawah dan lahan kering. Dengan potensi lahan tersebut, upaya-upaya peningkatan produksi serta mengembangkan daerah-daerah yang berpotensi untuk menjadi sentra produksi andalan merupakan langkah yang akan menghasilkan produk pertanian yang mempunyai daya saing dan unggul bagi daerah. Dengan demikian usahatani yang kepada kegiatan Agribisnis bisa lebih ditingkatkan (Renstra Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Timur, 2008). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu pengumpulan data yang dilakukan untuk menjawab permasalahan yang ada dan dilakukan dalam bentuk survei. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil analisis melalui Metode Perbandingan Eksponensial (MPE) maka diperoleh Komoditi unggulan yang paling potensial untuk dikembangkan di Kabupaten Aceh Timur adalah padi, dengan nilai 802.033.681. Ubi kayu menempati urutan kedua sebagai komoditi unggulan pertanian tanaman pangan yang berpotensi untuk dikembangkan dengan total nilai 796.723.757. Komoditi unggulan berikutnya yang paling potensial untuk dikembangkan adalah jagung dengan total nilai 785.711.342. Kedelai, kacang hijau, ubi jalar dan kacang tanah adalah komoditi berikutnya dengan total nilai berturut turut 781.555.164, 449.772.277, 402.581.550, dan 196.569.516. Selanjutnya Berdasarkan evaluasi matriks IFE, faktor-faktor strategis pada lingkungan internal dipisahkan menjadi dua faktor penentu internal berdasarkan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Timur yang memiliki wewenang dan tanggung jawab terhadap sektor pertanian tanaman pangan. Faktor strategis kekuatan yang memiliki kepentingan relatif tertinggi adalah Tersedianya sumberdaya lahan yang relatif luas bagi pengembangan pertanian tanaman pangan. Faktor strategis kelemahan yang memiliki kepentingan relatif dan mendapatkan respon tertinggi terdiri dari 3 (tiga) strategi yaitu adalah bantuan modal masih kurang dari lembaga bantuan (Koperasi), infrastruktur Pertanian masih rendah (akses jalan daerah pedalaman), dan jaringan informasi (harga, pasar) masih lemah dari dinas terkait. Berdasarkan hasil evaluasi matriks EFE, faktor-faktor strategis pada lingkungan eksternal terdiri dari peluang dan ancaman. Faktor strategis peluang yang memiliki kepentingan relatif tertinggi adalah Kondisi Iklim (curah hujan) yang mendukung bagi komoditi pertanian tanaman pangan. Faktor strategis peluang ini juga direspon dengan baik oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Timur. Berdasarkan faktor ancaman, faktor strategis ancaman yang memiliki kepentingan relatif tertinggi dan direspon dengan baik/diatas rata-rata oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Timur adalah harga sarana produksi pertanian semakin mahal (harga tidak terjangkau). Hasil analisis dengan menggunakan matriks SWOT, diidentifikasi alternatif strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan pertanian subsektor tanaman pangan di kabupaten Aceh Timur, adalah: 1) Peningkatan produksi pertanian tanaman pangan melalui pemanfaatan luas dan kesesuaian lahan di Aceh Timur; 2) Peningkatan koordinasi dengan semua pihak yang terkait (stakeholders) dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) Khususnya Pertanian Tanaman Pangan, perkembangan teknologi dan informasi untuk meningkatkan daya saing sub sektor tanaman pangan; 3) Peningkatan Sumber Daya Manusia Pertanian Tanaman Pangan (Petani dan Petugas Penyuluh Lapangan) melalui pola pembinaan kelompok tani, pelatihan-pelatihan, magang dan studi banding dalam upaya meningkatkan motivasi, kemampuan penguasaan teknologi tepat guna dan manajerial dari SDM Pertanian tanaman pangan; dan 4) Penerapan pola kemitraan usaha pertanian tanaman pangan yang berkesinambungan yang dikontrol dengan baik oleh Dinas Terkait. Hasil analisis prioritas strategi menggunakan alat analisis QSPM, strategi yang memiliki prioritas pertama yang dapat diimplementasikan dalam pengembangan pertanian subsektor tanaman pangan di kabupaten Aceh Timur adalah strategi (ST), yaitu: Strategi Peningkatan Sumber Daya Manusia Pertanian Tanaman Pangan (Petani dan Petugas Penyuluh Lapangan) melalui pola pembinaan kelompok tani, pelatihan-pelatihan, magang dan studi banding dalam upaya meningkatkan motivasi, kemampuan penguasaan teknologi tepat guna dan manajerial dari SDM Pertanian tanaman pangan.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Strategiid
dc.titleRancangan Strategik Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan Di Kabupaten Aceh Timurid
dc.subject.keywordPerencanaan Strategikid
dc.subject.keywordTanaman Panganid
dc.subject.keywordIfeid
dc.subject.keywordEfeid
dc.subject.keywordSwotid
dc.subject.keywordQspmid
dc.subject.keywordKabupaten Ace Timurid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record