| dc.description.abstract | Sektor pertanian merupakan salah satu sektor penggerak perekonomian yang
memiliki peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Salah
satunya dalam bentuk sumbangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kontribusi PDB sektor pertanian Indonesia pada tahun 2011 mencapai Rp.
315,037,- triliun sehingga menempati urutan ketiga dalam struktur PDB
Indonesia. Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi khususnya di sektor
pertanian, peluang usaha sektor pertanian di Indonesia ternyata masih cukup
besar. Beberapa indikator yang menunjukkan masih besarnya peluang usaha
sektor pertanian adalah pertama, ketersediaan dan dukungan sumber daya alam
(lahan, air dan iklim) serta sumber daya manusia yang masih besar. Kedua,
permintaan domestik terhadap produk pertanian akan terus meningkat seiring
dengan meningkatnya jumlah penduduk dan makin tingginya tingkat pendapatan
masyarakat. Ketiga, naiknya harga pangan dunia yang terjadi dewasa ini, juga
akan memberikan peluang lebih besar kepada pelaku usaha untuk memperoleh
keuntungan yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Keempat, pemerintah Indonesia
telah berkomitmen besar untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif
melalui berbagai kebijakan dan peraturan yang lebih berpihak kepada para petani
ataupun pelaku usaha di bidang pertanian (Nugrayasa, 2013).
Mengingat masih besarnya peluang usaha sektor pertanian, sudah
semestinya kebijakan-kebijakan Negara tidak mengabaikan potensi sektor
pertanian, terutama subsektor perkebunan. Komoditas perkebunan seperti kelapa
sawit, karet dan kelapa merupakan komoditas perkebunan penyumbang ekspor
tertinggi di Indonesia karena setiap tahunnya neraca perdagangan subsektor
perkebunan selalu mengalami surplus, sehingga secara total subsektor perkebunan
dapat menutupi defisit yang dialami oleh subsektor lainnya. Salah satu solusi
dalam upaya meningkatkan investasi pada subsektor perkebunan adalah pasar
modal. Pengukuran kinerja keuangan sangat bermanfaat bagi investor dalam
mengambil keputusan untuk berinvestasi di pasar modal. Pengukuran kinerja
keuangan umumnya dilakukan dengan menganalisa laporan keuangan.
Pengukuran ini memiliki kelemahan utama, yaitu mengabaikan adanya biaya
modal, sehingga sulit untuk mengetahui apakah suatu perusahaan telah berhasil
menciptakan nilai atau tidak (Lehn dan Makhija, 1997). Untuk mengatasi
kelemahan tersebut, saat ini telah dikembangkan konsep baru, yaitu Economic
Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Disamping itu, Krisis
global tahun 2008, menjadi sebuah peristiwa yang tidak pernah dilupakan,
khususnya di sektor keuangan. Merosotnya nilai tukar rupiah, melonjaknya harga
minyak dunia, inflasi dan tingkat suku bunga yang tinggi menyebabkan nilai
saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergerakan yang berfluktuatif
tak terkecuali saham subsektor perkebunan. Mengacu pada permasalahan diatas,
penelitian ini bertujuan untuk, 1) menganalisis dan mengukur pengaruh kinerja
keuangan perusahaan emiten terhadap return saham subsektor perkebunan pada Bursa Efek Indonesia, 2) menganalisis dan mengukur pengaruh variabel
makroekonomi terhadap return saham subsektor perkebunan pada Bursa Efek
Indonesia, 3) merumuskan implikasi manajerial bagi perusahaan subsektor
perkebunan dalam merespon kinerja keuangan dan perubahan kondisi
makroekonomi.
Penelitian ini menggunakan model Pooled Least Square, memiliki nilai R2
sebesar 50,96 persen yang artinya bahwa variabel-variabel independen hanya
dapat menjelaskan pengaruhnya terhadap return saham subsektor perkebunan
sebesar 50,96 persen, sedangkan sisanya 49,04 persen dijelaskan oleh faktor lain
yang tidak dimasukkan ke dalam model ini. Selain itu, berdasarkan hasil uji secara
simultan (Uji F) menunjukkan bahwa probabilitas F-statistik secara signifikan
berpengaruh pada 0,000 lebih kecil dari nilai α sebesar 10 persen. Hal ini
menunjukkan bahwa secara keseluruhan variabel independen memiliki pengaruh
terhadap variabel dependennya. Sedangkan berdasarkan uji t, hasil pengolahan
data diatas terdapat variabel secara signifikan berpengaruh terhadap return saham
subsektor perkebunan adalah MVA, harga minyak dunia, inflasi, tingkat suku
bunga dan krisis. Sedangkan variabel EVA dan nilai tukar tidak berpengaruh
terhadap return saham subsektor perkebunan.
Adapun implikasi manajerial yang dapat dilakukan adalah mengoptimalkan
penerapan metode MVA pada kinerja keuangan perusahaan emiten subsektor
perkebunan dengan cara meningkatkan harga dan jumlah saham yang beredar
serta menurunkan biaya modal. Selain itu, pergerakan variabel makroekonomi
perlu diwaspadai dengan menjaga stabilitas pergerakan harga minyak dunia yang
memiliki hubungan positif terhadap return saham subsektor perkebunan dan
inflasi, tingkat suku bunga, adanya krisis yang memiliki hubungan negatif
terhadap return saham subsektor perkebunan. Jika kondisi makroekonomi mulai
menunjukkan peningkatan harga minyak dunia sebaiknya investor membeli saham
subsektor perkebunan karena dari hasil penelitian ini memperkirakan bahwa
return saham akan mengalami kenaikan apabila terjadi peningkatan harga minyak
dunia begitu pula sebaliknya. Sedangkan jika kondisi makroekonomi mulai
menunjukkan peningkatan inflasi, tingkat suku bunga dan adanya krisis sebaiknya
investor menjual saham subsektor perkebunan karena dari hasil penelitian ini
memperkirakan bahwa return saham akan turun apabila terjadi peningkatan
inflasi, tingkat suku bunga dan adanya krisis begitu pula sebaliknya. | |