| dc.description.abstract | Salah satu bentuk kegiatan investasi yang dilakukan adalah dengan terlibat
menjadi investor dalam pasar modal. Pasar modal merupakan alternatif
perusahaan dalam memperoleh sumber pembiayaan jangka panjang dari berbagai
instrumen-instrumen keuangan dalam berbagai surat berharga atau sekuritas.
Saham-saham yang memiliki harga yang tinggi berpotensi untuk menarik investor
karena dengan adanya pergerakan kenaikan harga saham pada sektor tertentu
mencerminkan kinerja fundamental yang baik dari emiten yang terkait. Harga
saham dianggap penting karena menunjukkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan
ditentukan dari kinerja perusahaan dalam mengelola aset untuk menghasilkan laba.
Apabila kinerja perusahaan meningkat, maka nilai perusahaan akan meningkat
pula. Tingginya tingkat return yang dihasilkan oleh perusahaan akan menarik
investor dalam menanamkan modalnya. Hal ini akan menyebabkan permintaan
saham naik, dan diikuti pada kenaikan harga sahamnya, begitu pula sebaliknya.
Sektor konstruksi di Indonesia memiliki peran strategis dalam pertumbuhan
ekonomi nasional. Peran strategis tersebut meliputi kontribusi sektor konstruksi
terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berhasil menempati urutan ke enam
dari sembilan sektor penyumbang PDB nasional, serta daya serap tenaga kerja
yang besar dan juga supply chain yang besar yang dapat mendorong industri
penunjang sektor konstruksi sehingga pada akhirnya dapat menggerakkan
pertumbuhan usaha dalam hal pengadaan barang dan jasa sehingga mampu
meningkatkan produktivitas dan distribusi pendapatan masyarakat.
Penelitian sebelumnya mengenai pengaruh internal maupun eksternal telah
banyak dilakukan dengan hasil yang bervariasi. Penelitian yang dilakukan oleh
Suyanto (2007), Thobarry (2009), Prihantini (2009), Mardiyati dan Rosalina
(2013) serta Garba (2014) menemukan hasil yang bervariasi mengenai pengaruh
faktor eksternal yaitu kondisi makroekonomi berupa inflasi, tingkat suku bunga,
serta nilai tukar uang terhadap return saham, sementara Hijriah (2007), Susilowati
dan Turyanto (2011), Srinivasan (2012), Furda et al. (2012) dan Hutami (2012)
yang meneliti pengaruh faktor internal yang berupa rasio keuangan perusahaan
terhadap return saham juga menghasilkan hasil yang bervariasi.
Penelitian sebelumnya mengenai pengaruh kondisi mikroekonomi
perusahaan serta kondisi makroekonomi menghasilkan pengaruh yang berbedabeda terhadap return saham. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
menguji kembali bagaimana pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap
return saham pada subsektor konstruksi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor internal dan eksternal terhadap return
saham pada perusahaan subsektor konstruksi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia serta memprediksi beta saham pada masing-masing emiten subsektor
konstruksi di Indonesia. Penelitian menggunakan analisis deskriptif dan analisis
regresi data panel untuk mengestimasi laporan keuangan tahunan dari enam
perusahaan subsektor konstruksi yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI)
selama periode 2010 hingga 2014. Variabel terikat yang digunakan pada penelitian adalah return saham subsektor konstruksi. Variabel bebas yang
mewakili faktor internal terdiri atas rasio keuangan perusahaan yaitu Quick Ratio,
Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS),
dan Price Earning Ratio (PER) sedangkan variabel bebas yang mewakili faktor
eksternal terdiri atas inflasi, BI Rate dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Hasil analisis regresi terhadap seluruh perusahaan menunjukkan hasil yang
bervariasi terhadap variabel dependen. Variabel Debt to Equity Ratio (DER),
Return on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER)
menghasilkan pengaruh signifikan terhadap return saham subsektor konstruksi.
Variabel yang berasal dari faktor eksternal yaitu Inflasi dan nilai tukar rupiah
terhadap dollar AS menghasilkan pengaruh yang signifikan terhadap return saham
subsektor konstruksi.
Mengenai prediksi nilai beta untuk seluruh emiten yang tergabung dalam
subsektor konstruksi yang menjadi obyek dari penelitian, berdasarkan hasil
perhitungan seluruh emiten subsektor konstruksi memiliki beta saham yang
bernilai lebih dari satu apabila dibandingkan dengan beta pasar atau IHSG,
sehingga seluruh emiten subsektor konstruksi ini merupakan kategori beta saham
agresif oleh karena beta saham konstruksi tergolong kedalam beta agresif maka
sektor konstruksi dapat menjadi pilihan transaksi investor pada saat kondisi
makroekonomi sedang bullish. | |