| dc.description.abstract | Initial public offering (IPO) atau go publik merupakan alternatif sumber
pendanaan melalui peningkatan ekuitas perusahaan dengan cara menawarkan saham
kepada masyarakat. Undang-undang No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
mendefinisikan penawaran umum sebagai kegiatan penawaran efek yang dilakukan oleh
emiten untuk menjual efek kepada masyarakat berdasarkan tata cara yang diatur dalam
undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Efek yang dimaksud adalah surat
berharga yaitu surat pengakuan hutang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda
bukti hutang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek dan
setiap derivatif dari efek.
Penetapan harga saham perdana menjadi perhatian utama oleh para analis
keuangan karena hal ini berkorelasi dengan sukses atau tidaknya penawaran saham
perdana atau initial public offering (IPO). Initial public offering (IPO) yang mengalami
oversubscribe maka initial public offering (IPO) tersebut dapat dikatakan sukses, yakni
jumlah saham yang diminta investor lebih besar daripada jumlah saham yang
ditawarkan. Akan tetapi, para pemilik perusahaan menginginkan agar dapat
meminimalisasi undervalue karena terjadinya undervalue akan menyebabkan transfer
kemakmuran (wealth) dari pemilik kepada para investor. (Daljono, 2000)
Metode yang biasa digunakan oleh para calon emiten dan analis keuangan di
dalam menilai harga saham perdana/IPO serta memprediksi kecenderungan harga
setelah pencatatan di bursa adalah dengan metode tradisional yakni metode discounted
cash flow (DCF) dan metode relative valuation (RV). Metode ini biasa digunakan oleh
seluruh calon emiten yang ingin mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Hal
ini dapat dilihat dari uraian penetapan harga penawaran yang terdapat pada prospektus
calon emiten dimana prospektus adalah informasi atau dokumen penting dalam proses
penawaran umum, baik saham maupun obligasi. Kedua metode ini masih belum mampu
memprediksi harga saham perdana yang ditawarkan secara wajar. Hal ini dikarenakan
secara empiris sebagian besar saham setelah penawaran umum atau initial public
offering (IPO) pada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menggunakan metode discounted
cash flow dan relative valuation cenderung mengarah undervalue. Berdasarkan uraian
di atas, terdapat masalah dalam menentukan harga IPO dimana metode discounted cash
flow dan relative valuation yang digunakan emiten dianggap belum mampu dalam
menentukan harga saham secara tepat. Dalam hal ini, metode real option dan free cash
flow to firm diharapkan mampu dalam menentukan harga saham perdana secara wajar.
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari perusahaan yang
sudah go publik dan tercatat di bursa efek Indonesia periode 2008-2012. Untuk periode
tahun 2008 – 2012 terdapat 102 perusahaan yang melakukan IPO di BEI. Berdasarkan
pembatasan yang telah disebutkan diperoleh 54 perusahaan yang akan dijadikan obj penelitian. Data sekunder pada penelitian ini berupa prospektus dan laporan keuangan
emiten yang melakukan IPO pada periode yang ditentukan, dan publikasi resmi lainnya.
Penelitian ini menggunakan metode valuation, yaitu Free Cash Flow to Firm dan Real
Option untuk menganalisis nilai harga saham perdana. Metode analisis yang digunakan
untuk memprediksi harga saham akan undervalue atau overvalue adalah dengan metode
analisis regresi logistik.
PT. Tiphone Mobile Indonesia, Tbk digunakan sebagai salah satu perusahaan
yang mewakili keseluruhan perusahaan yang dianalisis. Perusahaan ini melakukan IPO
pada tahun 2011. Dengan harga penawaran Rp. 310 per lembar saham. Metode yang
dipakai dalam menentukan valuasi saham yaitu metode free cash flow to firm dan real
option. Berdasarkan pemakaian kedua metode tersebut, didapatkan Perhitungan dengan
menggunakan free cash flow to firm (FCFF), memberikan nilai sebesar Rp. 372 per
lembar saham, sedangkan dengan metode real option (RO) memberikan penilaian
sebesar Rp. 637 per lembar saham. Harga yang ditawarkan PT. Tiphone Mobile
Indonesia, Tbk adalah Rp. 310 per lembar saham. Harga penawaran tersebut berada di
bawah harga saham dari kedua metode di atas. Oleh karena itu, harga penawaran saham
perdana PT. Tiphone Mobile Indonesia, Tbk yang ditawarkan pada harga Rp. 310 per
lembar saham saat IPO dapat dikatakan berada di bawah harga wajarnya (undervalued).
Hasil perhitungan melalui metode FCFF diperoleh 39 emiten yang mengalami
undervalue, 13 emiten mengalami overvalue dan 2 emiten fairly price pada harga
prediksi pra listing dengan menggunakan metode free cash flow to firm. Pada metode
Real Option diperoleh 47 emiten yang mengalami undervalue dan 7 emiten mengalami
overvalue.
Hasil dari regresi logistik pada model free cash flow to firm dan Real Option,
secara keseluruhan kedelapan variabel bebas yaitu ekuitas, aset, hutang, tenor, JIBOR,
lembar saham, implied volatilitas dan dummy berpengaruh signifikan dalam
menjelaskan harga saham perdana di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012. Secara
parsial pada metode FCFF terdapat satu variabel mempunyai pengaruh yang positif dan
signifikan yaitu ekuitas. Kemudian terdapat dua variabel mempunyai pengaruh negatif
dan signifikan yaitu variabel tenor dan dummy. Pada model real option secara parsial
dapat dilihat bahwa terdapat satu variabel mempunyai pengaruh yang positif dan
signifikan yaitu implied volatilitas. Kemudian terdapat dua variabel mempunyai
pengaruh negatif dan signifikan yaitu variabel tenor dan lembar saham. Daya prediksi
model dari metode free cash flow to firm mampu memprediksi sebesar 83.30 persen
dan metode real option mampu memprediksi model sebesar 90.7 persen. Berdasarkan
model prediksi tersebut dapat disimpulkan bahwa model prediksi yang dapat
dipergunakan untuk memprediksi harga saham IPO adalah model prediksi dengan
metode real option karena memiliki tingkat presisi harga yang lebih tinggi
dibandingkan dengan metode free cash flow to firm | |