| dc.description.abstract | Semakin berkembangnya sektor pariwisata memberikan dampak terhadap
pertumbuhan industri perhotelan di Indonesia khususnya Provinsi Jawa Barat. Kepuasan
pelanggan dalam bisnis resor dan restoran ditentukan oleh kualitas pelayanan yang
diberikan, sehingga menuntut perusahaan untuk terus mengembangkan strategi
sumberdaya manusia (SDM). Dua faktor utama yang sering menjadi pertimbangan
dalam pencapaian kedua tujuan manajemen SDM di atas adalah motivasi dan budaya
kerja. Semakin baik motivasi karyawan dan budaya kerja di perusahaan maka semakin
baik juga kinerja mereka untuk mencapai tujuan tersebut. Karyawan dapat termotivasi
untuk terus bekerja dengan baik jika berada dalam lingkungan kerja yang mendukung.
Lingkungan kerja sendiri terbentuk dari budaya-budaya dalam perusahaan. Setiap
karyawan berasal dari latar belakang yang berbeda, maka keberadaan budaya
perusahaan menjadi sangat penting sebagai integrator karena budaya perusahaan dapat
mempersatukan kegiatan karyawan dalam perusahaan.
Panjang Jiwo Resort (PJR) adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam
sektor hospitality dan memiliki beberapa unit bisnis yaitu resor dan restoran.
Diharapkan kajian ini mampu memberikan alternatif strategi untuk menghadapi
persaingan melalui manajemen SDM yang baik. Tujuan penelitian ini adalah (1)
menganalisis persepsi karyawan PJR Bogor terhadap motivasi, budaya kerja dan kinerja
karyawan (2) menganalisis hubungan motivasi dan budaya kerja terhadap kinerja
karyawan PJR (3) menganalisis tingkat efisiensi relatif kinerja pada setiap unit kerja
PJR (4) merancang strategi kinerja karyawan pada setiap unit kerja PJR berdasarkan
motivasi kerja dan budaya kerja.
Penelitian dilakukan di PJR, bertempat di Desa Cikeas, Kec Sukaraja,
Kabupaten Bogor 16710. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian ini
dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni 2013. Pengambilan sampel dalam
penelitian ini dengan menggunakan metode sensus. pengumpulan data dilakukan
melalui penyebaran kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang diukur dengan
menggunakan skala Likert, wawancara dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan
dengan menggunakan komputer program SPSS for windows (Statistical Product and
Service Solution) untuk menguji validitas dan reliabilitas kuesioner, dan uji korelasi
rank spearman. Pengujian itu dilakukan untuk mengkaji keeratan hubungan antara
variabel motivasi dengan kinerja karyawan dan variabel budaya kerja dengan variabel
kinerja karyawan, dan hasilnya akan digunakan untuk dapat memberikan implikasi
manajerial bagi PJR. Selain itu untuk melihat efisiensi relatif kinerja karyawan PJR
menggunakan analisis Data Envelopment Analysis (DEA).
Berdasarkan hasil analisis hubungan variabel motivasi dan budaya kerja
terhadap kinerja karyawan PJR, dapat ditarik kesimpulan bahwa persepsi karyawan
mengenai faktor-faktor motivasi dan budaya kerja terhadap kinerja karyawan termasuk
pada rentang kriteria baik. Hanya terdapat beberapa faktor yang menyebutkan cukup
baik, pada variabel motivasi yaitu faktor Pekerjaan itu sendiri, pengakuan, kebijakan
dan supervisi. Pada variabel budaya, faktor outcome orientation memberikan persepsi
cukup baik. Pada variabel kinerja, persepsi cukup baik terdapat pada faktor lingkungan kerja. Budaya kerja memiliki hubungan keeratan yang lebih tinggi dibandingkan
motivasi terhadap kinerja karyawan PJR. Faktor-faktor dari motivasi yang berhubungan
dan signifikan terhadap dengan kinerja adalah pekerjaan itu sendiri, tanggung jawab,
supervisi dan salary. Sedangkan pada variabel budaya, faktor-faktor yang memiliki
hubungan dan signifikan terhadap kinerja adalah innovation and risk taking, attention
to detail, team orientation dan aggressiveness.
Hasil DEA menjelaskan bahwa unit kerja yang tidak efisien berdasarkan
variabel motivasi adalah pada unit kerja fb service, housekeeping, gardener dan
security. Sehingga, lebih baik jika perusahaan meningkatkan motivasi pada unit kerja
tersebut agar kinerja karyawan efisien, sesuai dengan faktor-faktor motivasi yang perlu
dikembangkan. Pada variaebl budaya kerja, seluruh unit kerja sudah memiliki kinerja
yang efisien, sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh karyawan sudah merasa nyaman
dengan budaya kerja yang ada saat ini. Apabila perusahaan ingin mengembangkan
usahanya, perusahaan harus lebih mengutamakan atau meningkatakan budaya yang ada
di perusahaan, karena keeratan hubungan variabel budaya memiliki hubungan keeratan
paling tingi dibandingkan dengan motivasi. | |